Karya Pop Culture hingga Art Toys, JICAF 2025 Buktikan Seni Makin Cair
30 September 2025 |
14:05 WIB
Di ruang-ruang pameran hari ini, karya seni tak lagi sebatas lukisan atau patung. Ia bisa hadir sebagai mainan koleksi, tekstil, hingga poster di dinding kamar. Seni di era kiwari tak lagi dipandang soal kasta tinggi atau rendah, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pameran Jakarta Illustration dan Creative Arts Fair (JICAF) merefleksikan arah tersebut. Ajang seni tahunan ini bukan hanya menampilkan karya rupa konvensional, tetapi juga memberi ruang bagi seni dekoratif sebagai bagian penting dalam ekosistem seni Indonesia.
Dalam sejarahnya, seni dekoratif memang unik karena berada di titik temu antara fungsi dan keindahan. Dari kerajinan, ornamen, art print, tekstil, hingga art toys, semuanya tak hanya sekadar indah dilihat, tetapi juga hadir dalam aktivitas sehari-hari.
Baca juga: JICAF Soroti Pertumbuhan Art Toys & Seni Dekoratif yang Makin Marak di Indonesia
Nilai inilah yang membuat seni terasa lebih dekat dengan masyarakat luas. Dia tak lagi terjebak dalam eksklusivitas, melainkan menyentuh berbagai lapisan dengan cara yang lebih akrab. Menurut Sunny Gho, Co-Founder sekaligus Fair Director JICAF, inilah arah baru dalam cara publik menikmati seni.
“Kalau seni konvensional biasanya bertumpu pada visi seniman, seni dekoratif justru sering kali dipilih karena fungsionalitasnya. Orang membeli karena merasa lucu, cocok di ruang pribadi, atau bisa menambah nuansa rumah,” ujar Sunny.
Dia menekankan pentingnya niat yang jelas dalam menghadirkan karya dekoratif. Seniman tidak dibatasi oleh kategori tinggi atau rendah, melainkan ditantang memberi alasan mengapa karya itu ada. Dengan begitu, setiap objek bukan sekadar hiasan, melainkan menyimpan makna personal bagi pembelinya.
Perubahan orientasi ini membuka peluang luas bagi seniman muda. Mereka bisa berkarya tanpa takut terjebak kategori kaku, sekaligus menjangkau lebih banyak segmen pasar. Pop culture, misalnya, menjadi pintu masuk efektif untuk memperluas audiens dan memperkuat basis kolektor baru.
Salah satu fenomena paling mencolok adalah art toys. Dunia mainan koleksi kini diakui sebagai bagian dari lanskap seni kontemporer. Di JICAF tahun ini, lebih dari 90 jenis toys baru diluncurkan, memperlihatkan antusiasme tinggi dari kreator maupun kolektor.
Sunny menyebut, jika Indonesia ingin mengejar posisi dalam industri toys dunia, ekosistemnya harus mulai dibangun sejak sekarang. Kehadiran nama besar global seperti Labubu memang jadi pembanding, sekaligus motivasi. Di sisi lain, Indonesia punya seniman lokal dengan karya yang mampu menembus pasar internasional.
Kong Andri menjadi salah satu contohnya. Dari awal dikenal di ranah pameran, kini karyanya masuk ke pasar ritel besar dan menjadi best seller. Keberhasilan ini menegaskan bahwa kualitas seniman Indonesia tak kalah bersaing, bahkan berpotensi menciptakan tren baru di kancah global.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, sejumlah musisi ternama hadir bukan untuk bernyanyi, melainkan mengekspresikan diri lewat medium visual. Hal ini memperlihatkan bagaimana seni bisa mengalir bebas dari satu ranah ke ranah lain tanpa kehilangan esensi kreatifnya.
Salah satu kolaborasi menarik datang dari grup musik Lomba Sihir dengan ilustrator Rezza Rainaldy, yang dikenal dengan nama Dusharne. Mereka meluncurkan edisi spesial album Obrolan Jam 3 Pagi berupa CD dengan sleeve eksklusif, poster, stiker, dan kartu pos yang didesain khusus untuk penggemar.
Bagi Natasha Udu, vokalis Lomba Sihir, kolaborasi ini menjadi cara memperpanjang napas kreatif. Selain merespons lirik dalam bentuk visual, karya bersama ini juga mendorong batas seni yang kian cair. “Awalnya kami hanya fokus membuat musik. Jadi saat diajak JICAF dan Dusharne berkolaborasi, kami kaget sekaligus senang. Rasanya ini kesempatan menarik,” ujarnya.
Bagi Rezza, proyek ini menjadi bagian penting dari perjalanan artistiknya. Lulusan Seni dan Desain ITB ini dikenal lewat karya yang mengeksplorasi tema emosional dan eksperimen warna. Dia merespons salah satu lagu Lomba Sihir, “Sofa”, yang kemudian dia terjemahkan menjadi simbol Sofa Merah dalam artwork.
Kolaborasi lintas medium semacam ini bukan yang pertama kali hadir di JICAF. Sebelumnya, musisi Bernadya bekerja sama dengan seniman visual Wickana menghadirkan karakter orisinal bernama Lulla Bear. Karakter itu kemudian berkembang menjadi art toys, art print, hingga t-shirt, memperlihatkan bagaimana musik dapat hidup dalam medium visual lain.
Baca juga: JICAF 2025 Hadirkan Kolaborasi Lomba Sihir dan Rezza Rainaldy
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pameran Jakarta Illustration dan Creative Arts Fair (JICAF) merefleksikan arah tersebut. Ajang seni tahunan ini bukan hanya menampilkan karya rupa konvensional, tetapi juga memberi ruang bagi seni dekoratif sebagai bagian penting dalam ekosistem seni Indonesia.
Dalam sejarahnya, seni dekoratif memang unik karena berada di titik temu antara fungsi dan keindahan. Dari kerajinan, ornamen, art print, tekstil, hingga art toys, semuanya tak hanya sekadar indah dilihat, tetapi juga hadir dalam aktivitas sehari-hari.
Baca juga: JICAF Soroti Pertumbuhan Art Toys & Seni Dekoratif yang Makin Marak di Indonesia
Nilai inilah yang membuat seni terasa lebih dekat dengan masyarakat luas. Dia tak lagi terjebak dalam eksklusivitas, melainkan menyentuh berbagai lapisan dengan cara yang lebih akrab. Menurut Sunny Gho, Co-Founder sekaligus Fair Director JICAF, inilah arah baru dalam cara publik menikmati seni.
“Kalau seni konvensional biasanya bertumpu pada visi seniman, seni dekoratif justru sering kali dipilih karena fungsionalitasnya. Orang membeli karena merasa lucu, cocok di ruang pribadi, atau bisa menambah nuansa rumah,” ujar Sunny.
Dia menekankan pentingnya niat yang jelas dalam menghadirkan karya dekoratif. Seniman tidak dibatasi oleh kategori tinggi atau rendah, melainkan ditantang memberi alasan mengapa karya itu ada. Dengan begitu, setiap objek bukan sekadar hiasan, melainkan menyimpan makna personal bagi pembelinya.

Pengunjung melihat karya yang ditampilkan pada Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) 2025 di The Space, Senayan City, Jakarta, Jumat (19/9/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Salah satu fenomena paling mencolok adalah art toys. Dunia mainan koleksi kini diakui sebagai bagian dari lanskap seni kontemporer. Di JICAF tahun ini, lebih dari 90 jenis toys baru diluncurkan, memperlihatkan antusiasme tinggi dari kreator maupun kolektor.
Sunny menyebut, jika Indonesia ingin mengejar posisi dalam industri toys dunia, ekosistemnya harus mulai dibangun sejak sekarang. Kehadiran nama besar global seperti Labubu memang jadi pembanding, sekaligus motivasi. Di sisi lain, Indonesia punya seniman lokal dengan karya yang mampu menembus pasar internasional.
Kong Andri menjadi salah satu contohnya. Dari awal dikenal di ranah pameran, kini karyanya masuk ke pasar ritel besar dan menjadi best seller. Keberhasilan ini menegaskan bahwa kualitas seniman Indonesia tak kalah bersaing, bahkan berpotensi menciptakan tren baru di kancah global.
Karya Seni Musik & Visual di JICAF 2025
Peleburan batas seni di JICAF tidak hanya terlihat pada seni dekoratif atau toys. Tahun ini, ruang lintas medium antara musik dan seni rupa juga menjadi sorotan. Keduanya berbagi imajinasi, meski berangkat dari medium berbeda: musik lewat nada dan irama, rupa lewat lukisan, patung, atau ilustrasi.Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, sejumlah musisi ternama hadir bukan untuk bernyanyi, melainkan mengekspresikan diri lewat medium visual. Hal ini memperlihatkan bagaimana seni bisa mengalir bebas dari satu ranah ke ranah lain tanpa kehilangan esensi kreatifnya.
Salah satu kolaborasi menarik datang dari grup musik Lomba Sihir dengan ilustrator Rezza Rainaldy, yang dikenal dengan nama Dusharne. Mereka meluncurkan edisi spesial album Obrolan Jam 3 Pagi berupa CD dengan sleeve eksklusif, poster, stiker, dan kartu pos yang didesain khusus untuk penggemar.
Bagi Natasha Udu, vokalis Lomba Sihir, kolaborasi ini menjadi cara memperpanjang napas kreatif. Selain merespons lirik dalam bentuk visual, karya bersama ini juga mendorong batas seni yang kian cair. “Awalnya kami hanya fokus membuat musik. Jadi saat diajak JICAF dan Dusharne berkolaborasi, kami kaget sekaligus senang. Rasanya ini kesempatan menarik,” ujarnya.
Bagi Rezza, proyek ini menjadi bagian penting dari perjalanan artistiknya. Lulusan Seni dan Desain ITB ini dikenal lewat karya yang mengeksplorasi tema emosional dan eksperimen warna. Dia merespons salah satu lagu Lomba Sihir, “Sofa”, yang kemudian dia terjemahkan menjadi simbol Sofa Merah dalam artwork.
Kolaborasi lintas medium semacam ini bukan yang pertama kali hadir di JICAF. Sebelumnya, musisi Bernadya bekerja sama dengan seniman visual Wickana menghadirkan karakter orisinal bernama Lulla Bear. Karakter itu kemudian berkembang menjadi art toys, art print, hingga t-shirt, memperlihatkan bagaimana musik dapat hidup dalam medium visual lain.
Baca juga: JICAF 2025 Hadirkan Kolaborasi Lomba Sihir dan Rezza Rainaldy
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.