Alumni Diaspora Indonesia di Australia Rayakan Kebersamaan di Gig on The Green 2025
27 September 2025 |
19:19 WIB
Suasana hangat penuh keceriaan menyelimuti Rumah Sarwono, Pejaten, Jakarta Selatan, Sabtu (27/9/2025), ketika Kedutaan Besar Australia di Indonesia kembali menggelar festival tahunan Gig on The Green. Acara ini menjadi wadah pertemuan para alumni Indonesia yang pernah menempuh pendidikan di Australia.
Gig on the Green merupakan festival musik dan kuliner yang diadakan Kedutaan Besar Australia untuk menyambut kepulangan para diaspora Indonesia yang baru saja lulus dari universitas-universitas di Negeri Kanguru. Tak hanya menghadirkan hiburan, ajang ini juga menjadi perayaan pencapaian mereka sekaligus sarana memperkuat jejaring komunitas alumni lain secara lebih luas.
Saat acara berlangsung, senyum dan sapaan akrab para alumni berseliweran di antara alunan musik. Cahaya lampu yang menggantung di area outdoor menambah nuansa hangat, menghadirkan atmosfer pesta kebersamaan yang estetik sekaligus penuh rasa persaudaraan.
Baca juga: Festival Gig On The Green 2024 Jadi Ajang Kumpul Seru Lulusan Australia di Indonesia
Lebih dari 1.000 alumni menjadi bagian dari kemeriahan Gig on The Green 2025. Festival Gig on The Green dibuka dengan penampilan Mutiara Azka yang menghibur penonton sejak pukul 16.40 hingga 17.30 WIB. Dia membawakan sejumlah lagu populer yang disambut hangat oleh para alumni dan tamu undangan.
Mutiara tampil luwes dalam mengatur tempo dan pilihan lagu. Penampilannya ditutup dengan lagu Dancing Queen dari Abba, yang sukses membuat para alumni berdiri, bernyanyi, dan menari bersama menciptakan suasana hangat.
Keseruan berlanjut saat musisi asal Sydney, Neptune, naik ke panggung pada pukul 18.00 hingga 18.50 WIB. Membawakan musik indie-pop dengan nuansa easy-going khas Australia, penampilannya sukses menciptakan atmosfer santai nan tetap hangat bagi para penonton.
Menuju malam, suasana makin meriah dengan kehadiran Kunto Aji sebagai penampil utama. Selama hampir satu jam, lagu-lagu populernya membuat penonton larut dalam nyanyian bersama. Penampilannya yang enerjik menjadi puncak hiburan malam ini.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menyebut Gig on the Green sebagai ajang perayaan hubungan Australia dan Indonesia, terutama bagi para alumni yang telah menyelesaikan studi di Australia. Dia menekankan bahwa kerja sama di bidang pendidikan memiliki peran penting dalam membangun hubungan baik kedua negara.
"Kami sangat bangga sekali karena lebih dari 200.000 orang Indonesia telah lulus dari berbagai universitas bergengsi di Australia. Saat ini, ada 25.000 lebih mahasiswa Indonesia yang masih belajar di Australia," ungkap Roderick Brazier.
Dia berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang memilih Australia sebagai tujuan melanjutkan studi. Menurutnya, Australia memiliki banyak universitas ternama dengan pilihan program yang sangat beragam, sehingga bisa menyesuaikan minat dan kebutuhan setiap mahasiswa.
Roderick menjelaskan bahwa mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia selama ini menekuni bidang yang bervariasi. Namun, program studi yang paling banyak diminati adalah bisnis, kemudian sains yang juga menjadi pilihan cukup populer.
Selain itu, pertanian juga menjadi salah satu bidang yang digemari. Hal ini karena Australia adalah negara yang sangat bergantung pada sektor pertanian, sehingga banyak universitas memberikan perhatian khusus pada bidang tersebut. Pada akhirnya, studi terkait itu pun berkembang dengan pesat.
Roderick pun berharap para alumni yang kembali ke Indonesia dapat berkontribusi positif bagi negaranya. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi negara yang maju dan sejahtera, sehingga peran alumni sangatlah penting dalam mewujudkan cita-cita itu.
"Semoga pengalaman semua mahasiswa yang telah belajar di Australia bisa berdampak penting dan diterapkan di berbagai sektor di Indonesia," imbuhnya.
Sementara itu, salah satu alumni Australia, Richard Kennedy bercerita dia mengambil gelar master tentang Disability Practice and Leadership di Flinders University. Menurutnya, Australia merupakan salah satu negara yang tepat untuk belajar terkait inklusivitas disabilitas.
Richard mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga ketika bisa belajar bagaimana membangun inklusivitas di sektor publik maupun privat di Australia. Pada 2024, dia juga mendapatkan apresiasi berupa International Student of the Year.
Kemudian, alumni lain, Maria Rosdalima Panggur juga mengatakan hal senada. Dia memilih melanjutkan belajar di Australia karena negara tersebut memiliki pengetahuan dan praktik-praktik konservasi yang menarik. Di Australia, Maria mendalami konservasi terkait Komodo, untuk kemudian bisa diterapkan di NTT.
Segendang sepenarian, alumni Rafiqa Qurrata A’yun mengatakan dirinya mendapatkan pengalaman belajar yang menarik di Australia. Rafika sendiri mengambil studi hukum dan merasa studi tentang bidang tersebut sangat berkembang di sana.
Kini, setelah menyelesaikan studi, para alumni berkumpul dan merayakan pencapaian mereka di Gig on the Green. Selain hiburan musik, festival ini juga menghadirkan beragam sajian kuliner yang dapat dinikmati secara gratis, termasuk BBQ khas Australia yang selalu menjadi favorit. Selain itu, juga terdapat stan yang dikelola alumni Australia, seperti Kopi Tuku, Mangan House Catering, Amazy, La Trobe Coffee & Brunch, Luberger, Kausang, Gelato Milano, dan Cleo Mineral Water. Perpaduan antara musik, kuliner, dan interaksi hangat membuat Gig on The Green jadi pesta yang berkesan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Gig on the Green merupakan festival musik dan kuliner yang diadakan Kedutaan Besar Australia untuk menyambut kepulangan para diaspora Indonesia yang baru saja lulus dari universitas-universitas di Negeri Kanguru. Tak hanya menghadirkan hiburan, ajang ini juga menjadi perayaan pencapaian mereka sekaligus sarana memperkuat jejaring komunitas alumni lain secara lebih luas.
Saat acara berlangsung, senyum dan sapaan akrab para alumni berseliweran di antara alunan musik. Cahaya lampu yang menggantung di area outdoor menambah nuansa hangat, menghadirkan atmosfer pesta kebersamaan yang estetik sekaligus penuh rasa persaudaraan.
Baca juga: Festival Gig On The Green 2024 Jadi Ajang Kumpul Seru Lulusan Australia di Indonesia

Suasana Gig on The Green 2025 (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Lebih dari 1.000 alumni menjadi bagian dari kemeriahan Gig on The Green 2025. Festival Gig on The Green dibuka dengan penampilan Mutiara Azka yang menghibur penonton sejak pukul 16.40 hingga 17.30 WIB. Dia membawakan sejumlah lagu populer yang disambut hangat oleh para alumni dan tamu undangan.
Mutiara tampil luwes dalam mengatur tempo dan pilihan lagu. Penampilannya ditutup dengan lagu Dancing Queen dari Abba, yang sukses membuat para alumni berdiri, bernyanyi, dan menari bersama menciptakan suasana hangat.
Keseruan berlanjut saat musisi asal Sydney, Neptune, naik ke panggung pada pukul 18.00 hingga 18.50 WIB. Membawakan musik indie-pop dengan nuansa easy-going khas Australia, penampilannya sukses menciptakan atmosfer santai nan tetap hangat bagi para penonton.
Menuju malam, suasana makin meriah dengan kehadiran Kunto Aji sebagai penampil utama. Selama hampir satu jam, lagu-lagu populernya membuat penonton larut dalam nyanyian bersama. Penampilannya yang enerjik menjadi puncak hiburan malam ini.

Suasana Gig on The Green 2025 (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menyebut Gig on the Green sebagai ajang perayaan hubungan Australia dan Indonesia, terutama bagi para alumni yang telah menyelesaikan studi di Australia. Dia menekankan bahwa kerja sama di bidang pendidikan memiliki peran penting dalam membangun hubungan baik kedua negara.
"Kami sangat bangga sekali karena lebih dari 200.000 orang Indonesia telah lulus dari berbagai universitas bergengsi di Australia. Saat ini, ada 25.000 lebih mahasiswa Indonesia yang masih belajar di Australia," ungkap Roderick Brazier.
Dia berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang memilih Australia sebagai tujuan melanjutkan studi. Menurutnya, Australia memiliki banyak universitas ternama dengan pilihan program yang sangat beragam, sehingga bisa menyesuaikan minat dan kebutuhan setiap mahasiswa.
Roderick menjelaskan bahwa mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia selama ini menekuni bidang yang bervariasi. Namun, program studi yang paling banyak diminati adalah bisnis, kemudian sains yang juga menjadi pilihan cukup populer.
Selain itu, pertanian juga menjadi salah satu bidang yang digemari. Hal ini karena Australia adalah negara yang sangat bergantung pada sektor pertanian, sehingga banyak universitas memberikan perhatian khusus pada bidang tersebut. Pada akhirnya, studi terkait itu pun berkembang dengan pesat.
Roderick pun berharap para alumni yang kembali ke Indonesia dapat berkontribusi positif bagi negaranya. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi negara yang maju dan sejahtera, sehingga peran alumni sangatlah penting dalam mewujudkan cita-cita itu.
"Semoga pengalaman semua mahasiswa yang telah belajar di Australia bisa berdampak penting dan diterapkan di berbagai sektor di Indonesia," imbuhnya.

Suasana Gig on The Green 2025 (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Sementara itu, salah satu alumni Australia, Richard Kennedy bercerita dia mengambil gelar master tentang Disability Practice and Leadership di Flinders University. Menurutnya, Australia merupakan salah satu negara yang tepat untuk belajar terkait inklusivitas disabilitas.
Richard mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga ketika bisa belajar bagaimana membangun inklusivitas di sektor publik maupun privat di Australia. Pada 2024, dia juga mendapatkan apresiasi berupa International Student of the Year.
Kemudian, alumni lain, Maria Rosdalima Panggur juga mengatakan hal senada. Dia memilih melanjutkan belajar di Australia karena negara tersebut memiliki pengetahuan dan praktik-praktik konservasi yang menarik. Di Australia, Maria mendalami konservasi terkait Komodo, untuk kemudian bisa diterapkan di NTT.
Segendang sepenarian, alumni Rafiqa Qurrata A’yun mengatakan dirinya mendapatkan pengalaman belajar yang menarik di Australia. Rafika sendiri mengambil studi hukum dan merasa studi tentang bidang tersebut sangat berkembang di sana.
Kini, setelah menyelesaikan studi, para alumni berkumpul dan merayakan pencapaian mereka di Gig on the Green. Selain hiburan musik, festival ini juga menghadirkan beragam sajian kuliner yang dapat dinikmati secara gratis, termasuk BBQ khas Australia yang selalu menjadi favorit. Selain itu, juga terdapat stan yang dikelola alumni Australia, seperti Kopi Tuku, Mangan House Catering, Amazy, La Trobe Coffee & Brunch, Luberger, Kausang, Gelato Milano, dan Cleo Mineral Water. Perpaduan antara musik, kuliner, dan interaksi hangat membuat Gig on The Green jadi pesta yang berkesan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.