JICAF Soroti Pertumbuhan Art Toys & Seni Dekoratif yang Makin Marak di Indonesia
23 September 2025 |
15:27 WIB
Jakarta Illustration dan Creative Arts Fair (JICAF) kembali hadir pada 2025 dengan semangat baru. Pameran yang berlangsung di The Space, Senayan City, Jakarta, pada 18 September-5 Oktober 2025 ini mengusung tema “New Heights” pada edisi ketiganya kali ini.
Lewat tema tersebut, JICAF mencoba mengajak para seniman untuk menembus batas kreativitas dan membawa karya mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Pada edisi ketiga, festival juga menghadirkan 100 seniman, dari dalam maupun luar negeri, dengan ragam karya ilustrasi, seni dekoratif, art toys, hingga merchandise kreatif.
Salah satu daya tarik JICAF adalah bagaimana ia merangkul seni dekoratif sebagai bagian penting dari ekosistem seni di Indonesia. Seni dekoratif yang mencakup kerajinan, ornamen, art print, tekstil, hingga art toys kini memang berkembang subur di Indonesia.
Baca juga: Bernadya Bakal Rilis Toys Spesial di JICAF 2025
Karya-karya tersebut tak hanya indah secara visual, tetapi juga menghadirkan fungsi dan nilai kultural yang kuat. Co-Founder sekaligus Fair Director JICAF, Sunny Gho, menyebut festival ini punya posisi unik dalam lanskap seni rupa Indonesia.
Dia menjelaskan bahwa saat ini ada dua model utama showcase dalam dunia seni di Indonesia. Pertama adalah showcase Tier 1, seperti Art Jakarta, ArtMoments dan sejenisnya. Kemudian, kedua adalah art bazar.
Di tier 1, karya seni yang dipamerkan datang dari seniman-seniman dan galeri mapan. Adapun pada art bazar, yang belakangan juga tumbuh subur di Jakarta, para seniman-seniman baru biasanya akan datang, berkumpul, menyewa booth, dan berjualan dengan harga karya yang lebih terjangkau.
Secara demografi, pengunjung seni Tier 1 pun biasanya merupakan kalangan atas. Sementara itu, pengunjung art bazar biasanya adalah mahasiswa atau pekerja muda.
Sunny menilai ada jarak yang cukup besar antara kedua showcase ini. Pengunjung art bazar yang terbiasa membeli karya murah sulit menjangkau harga di showcase tier satu. Sebaliknya, kolektor kelas atas kerap enggan membeli di bazar karena menganggap produknya terlalu sederhana, terlalu murah, atau alasan-alasan lain.
Kekosongan inilah yang coba diisi oleh JICAF. Dia berharap JICAF bisa menjadi ruang bagi kolektor tier satu untuk menemukan karya yang yang berbeda dari yang biasa ditemuinya dan juga menjadi wadah bagi pengunjung art bazar untuk bisa memperoleh karya seni yang lebih terkurasi.
"Kami memang mencoba hadir di tengah-tengahnya itu. Aduh, tapi kami tidak melabeli sebenarnya, cuman kami merasa yang ada di sini adalah decorative art. Art yang dibeli karena, 'saya mau beli ini di suatu tempat'. Jadi, kalau beli seni 'biasa' kan enggak kaya gitu sebenarnya, mereka biasanya beli karena visi seniman atau point of view seniman. Nah, di sini tidak hanya itu," ungkapnya.
Di sini, kata Sunny, unsur fungsionalitas sangat ditekankan sehingga karya yang dihadirkan bukan semata-mata objek seni, melainkan juga memiliki nilai guna. Menurutnya, seni dekoratif seperti ini sekarang tengah tumbuh subur secara global, baik dari segi peminat maupun senimannya. Di Indonesia pun demikian.
Sunny menuturkan bahwa tahun ini JICAF memberi sorotan besar pada dunia art toys. Menurutnya, fenomena “demam mainan”, terutama karena Labubu, kini sedang tumbuh kuat. Pada edisi ini pun pihaknya menghadirkan lebih dari 90 jenis toys baru yang diluncurkan khusus.
Bahkan, katanya, ada area khusus di pameran yang didedikasikan penuh untuk koleksi mainan dari seniman lokal maupun internasional. “Toys itu penting, dan arahnya memang ke sana. Kalau Indonesia mau mengejar posisi di industri toys dunia, kita harus mulai mendorong ekosistemnya dari sekarang,” jelasnya.
Menurutnya, geliat pertumbuhan itu mulai terlihat. Dia mencontohkan karya Kong Andri yang sempat menjadi best seller di JICAF sebelumnya, kini sudah menembus pasar ritel besar. Hal ini, menurut Sunny, membuktikan bahwa kualitas seniman Indonesia sebenarnya sudah setara secara global.
Secara khusus, Sunny juga mendorong para seniman di JICAF untuk lebih berani mengeksplorasi medium dan bentuk karya. Jika pada edisi sebelumnya pameran ini lebih banyak menampilkan karya dua dimensi seperti ilustrasi dan artwork, tahun ini dia mengajak agar seni dihadirkan dalam format yang lebih luas dan variatif.
Perluasan tersebut terlihat dari hadirnya art toys dan berbagai produk kreatif lain yang menjadi bagian penting dari JICAF 2025. Menurut Sunny, langkah ini bukan hanya memperkaya pengalaman pengunjung, tetapi juga membuka peluang baru bagi seniman untuk terhubung dengan pasar yang lebih beragam, baik lokal maupun internasional.
Tantangan berikutnya, katanya, tinggal bagaimana memperkuat dorongan industri, memperluas distribusi, dan membangun kebanggaan kolektif agar art toys Indonesia bisa punya tempat terhormat di kancah dunia.
Dengan langkah strategis seperti ini, JICAF tidak hanya jadi ruang pamer, tetapi juga katalis bagi lahirnya gelombang baru seni dekoratif yang relevan dengan pasar global masa kini.
Baca juga: Ohige no Pon, Anjing Berkumis Penebar Humor Curi Perhatian di JICAF 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Lewat tema tersebut, JICAF mencoba mengajak para seniman untuk menembus batas kreativitas dan membawa karya mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Pada edisi ketiga, festival juga menghadirkan 100 seniman, dari dalam maupun luar negeri, dengan ragam karya ilustrasi, seni dekoratif, art toys, hingga merchandise kreatif.
Salah satu daya tarik JICAF adalah bagaimana ia merangkul seni dekoratif sebagai bagian penting dari ekosistem seni di Indonesia. Seni dekoratif yang mencakup kerajinan, ornamen, art print, tekstil, hingga art toys kini memang berkembang subur di Indonesia.
Baca juga: Bernadya Bakal Rilis Toys Spesial di JICAF 2025

Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) siap kembali menjadi oase seni yang menarik untuk dikunjungi di Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Dia menjelaskan bahwa saat ini ada dua model utama showcase dalam dunia seni di Indonesia. Pertama adalah showcase Tier 1, seperti Art Jakarta, ArtMoments dan sejenisnya. Kemudian, kedua adalah art bazar.
Di tier 1, karya seni yang dipamerkan datang dari seniman-seniman dan galeri mapan. Adapun pada art bazar, yang belakangan juga tumbuh subur di Jakarta, para seniman-seniman baru biasanya akan datang, berkumpul, menyewa booth, dan berjualan dengan harga karya yang lebih terjangkau.
Secara demografi, pengunjung seni Tier 1 pun biasanya merupakan kalangan atas. Sementara itu, pengunjung art bazar biasanya adalah mahasiswa atau pekerja muda.
Sunny menilai ada jarak yang cukup besar antara kedua showcase ini. Pengunjung art bazar yang terbiasa membeli karya murah sulit menjangkau harga di showcase tier satu. Sebaliknya, kolektor kelas atas kerap enggan membeli di bazar karena menganggap produknya terlalu sederhana, terlalu murah, atau alasan-alasan lain.
Kekosongan inilah yang coba diisi oleh JICAF. Dia berharap JICAF bisa menjadi ruang bagi kolektor tier satu untuk menemukan karya yang yang berbeda dari yang biasa ditemuinya dan juga menjadi wadah bagi pengunjung art bazar untuk bisa memperoleh karya seni yang lebih terkurasi.
"Kami memang mencoba hadir di tengah-tengahnya itu. Aduh, tapi kami tidak melabeli sebenarnya, cuman kami merasa yang ada di sini adalah decorative art. Art yang dibeli karena, 'saya mau beli ini di suatu tempat'. Jadi, kalau beli seni 'biasa' kan enggak kaya gitu sebenarnya, mereka biasanya beli karena visi seniman atau point of view seniman. Nah, di sini tidak hanya itu," ungkapnya.
Di sini, kata Sunny, unsur fungsionalitas sangat ditekankan sehingga karya yang dihadirkan bukan semata-mata objek seni, melainkan juga memiliki nilai guna. Menurutnya, seni dekoratif seperti ini sekarang tengah tumbuh subur secara global, baik dari segi peminat maupun senimannya. Di Indonesia pun demikian.
Sunny menuturkan bahwa tahun ini JICAF memberi sorotan besar pada dunia art toys. Menurutnya, fenomena “demam mainan”, terutama karena Labubu, kini sedang tumbuh kuat. Pada edisi ini pun pihaknya menghadirkan lebih dari 90 jenis toys baru yang diluncurkan khusus.
Bahkan, katanya, ada area khusus di pameran yang didedikasikan penuh untuk koleksi mainan dari seniman lokal maupun internasional. “Toys itu penting, dan arahnya memang ke sana. Kalau Indonesia mau mengejar posisi di industri toys dunia, kita harus mulai mendorong ekosistemnya dari sekarang,” jelasnya.

Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) siap kembali menjadi oase seni yang menarik untuk dikunjungi di Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Secara khusus, Sunny juga mendorong para seniman di JICAF untuk lebih berani mengeksplorasi medium dan bentuk karya. Jika pada edisi sebelumnya pameran ini lebih banyak menampilkan karya dua dimensi seperti ilustrasi dan artwork, tahun ini dia mengajak agar seni dihadirkan dalam format yang lebih luas dan variatif.
Perluasan tersebut terlihat dari hadirnya art toys dan berbagai produk kreatif lain yang menjadi bagian penting dari JICAF 2025. Menurut Sunny, langkah ini bukan hanya memperkaya pengalaman pengunjung, tetapi juga membuka peluang baru bagi seniman untuk terhubung dengan pasar yang lebih beragam, baik lokal maupun internasional.
Tantangan berikutnya, katanya, tinggal bagaimana memperkuat dorongan industri, memperluas distribusi, dan membangun kebanggaan kolektif agar art toys Indonesia bisa punya tempat terhormat di kancah dunia.
Dengan langkah strategis seperti ini, JICAF tidak hanya jadi ruang pamer, tetapi juga katalis bagi lahirnya gelombang baru seni dekoratif yang relevan dengan pasar global masa kini.
Baca juga: Ohige no Pon, Anjing Berkumis Penebar Humor Curi Perhatian di JICAF 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.