Lebih Dekat dengan Alba, Orangutan Albino Bermata Biru dari Kalimantan
22 September 2025 |
07:36 WIB
Alba, seekor orangutan betina asal Kalimantan Tengah menjadi sorotan dunia sejak ditemukan pada April 2017 di Desa Tanggirang, Kapuas Hulu. Keistimewaannya terletak pada kondisi albinisme yang membuat bulu dan kulitnya tampak putih pucat serta matanya berwarna biru.
Mengutip laman resmi BOS Foundation, Alba merupakan spesies Orangutan Kalimantan (Pongopygmaeus). Spesies ini, bersama Orangutan Sumatera (Pongoabelii), adalah kera besar yang hanya ditemukan di Indonesia dan merupakan spesies yang terancam punah (Critically Endangered) menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) atau Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.
Alba disebut sebagai orangutan albino pertama dan satu-satunya yang pernah tercatat, sehingga keberadaannya menjadi sangat langka. Penduduk desa menemukan Alba dan segera melaporkan kepada pihak berwajib, kemudian tim dari Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation segera turun tangan untuk melakukan evakuasi.
Baca juga: Hewan-hewan Ini Sudah Pernah ke Luar Angkasa, Apa Misinya?
Saat pertama kali ditemukan, kondisi Alba sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, dehidrasi, menderita infeksi parasit, dan sangat stres. Berat badannya hanya sekitar delapan kilogram. Setelah melalui masa perawatan intensif di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, kesehatannya membaik, mulai dari nafsu makan hingga kemampuannya memanjat pohon dan bergerak lincah.
Pada 19 Desember 2018, Alba akhirnya dilepasliarkan ke alam liar bersama seekor orangutan lain bernama Kika di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Tengah. Meski begitu tetap ada kekhawatiran Alba menjadi incaran pemburu karena kondisi albinisme menjadi tantangan tersendiri baginya.
Ini membuat Alba memiliki penampilan yang sangat berbeda dibandingkan orangutan pada umumnya. Seluruh tubuhnya ditutupi bulu berwarna putih krem atau pirang, bukan cokelat kemerahan yang khas pada spesies ini. Kulitnya pun tampak merah muda pucat, bukan abu-abu gelap seperti orangutan lain.
Keunikan lain terletak pada matanya yang berwarna biru, karena tidak adanya pigmen pada iris. Akan tetapi, mata biru ini membuat Alba sangat sensitif terhadap cahaya, kondisi yang dikenal sebagai fotofobia.
Kondisi albinisme membuat Alba menghadapi tantangan besar. Salah satunya, sensitif terhadap sinar matahari. Tanpa melanin, mereka kehilangan perlindungan alami terhadap radiasi ultraviolet (UV) dari matahari. Hal ini membuatnya sangat rentan terhadap sengatan matahari (sunburn) dan kanker kulit.
Albinisme juga membuat mereka memiliki penglihatan terbatas, ditandai dengan fotofobia dan ketajaman visual yang rendah. Di alam liar penglihatan yang buruk menjadi kelemahan besar karena membuat hewan sulit bergerak aman di pepohonan, kesulitan mencari makanan, dan terlambat mendeteksi ancaman atau predator.
Selain itu, warna tubuh Alba yang begitu mencolok membuatnya sama sekali tidak memiliki kemampuan berkamuflase. Corak yang menonjol justru memudahkan predator menemukan mangsanya. Bagi Alba, bulu putihnya membuat dia sangat mudah terlihat, baik oleh hewan pemangsa maupun orang-orang dengan niat buruk, sehingga peluang bertahan hidupnya di hutan akan sangat kecil tanpa adanya perlindungan.
Setelah diselamatkan, Alba menghabiskan hampir dua tahun di Nyaru Menteng sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) pada 18 Desember 2018.
Kepala BTNBBBR, Agung Nugroho, menyampaikan bahwa tim monitoring pasca-pelepasliaran (Post-Release Monitoring/PRM) terdiri dari individu-individu terpilih dari masyarakat lokal yang bertanggung jawab memastikan orangutan yang dilepasliarkan di taman nasional ini dapat berkembang dengan baik. Keterlibatan mereka juga menjamin keberlanjutan program, yang sangat penting bagi upaya konservasi alam dan keanekaragaman hayati.
“Saya menerima laporan bahwa Alba mampu menjelajah jauh, makan dengan baik, serta membangun sarang selama perjalanannya. Dia juga bersosialisasi dengan orangutan lain yang telah dilepasliarkan di taman nasional ini. Itu sungguh perkembangan yang baik. Kita semua berharap Alba terus bertahan hidup di hutan ini, dan tetap hidup liar,” ungkapnya.
Sejak dilepasliarkan pada Desember 2018 hingga akhir 2019, hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata Alba menghabiskan 56,5 persen waktu aktifnya di hutan untuk mencari makan, 27,2 persen untuk berpindah tempat, 13,8 persen untuk beristirahat, dan 2,2 persen untuk perilaku lain seperti membuat sarang dan berinteraksi sosial.
Baca juga: 7 Hewan yang Ramah pada Manusia, Ada Masbro Kapibara
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Mengutip laman resmi BOS Foundation, Alba merupakan spesies Orangutan Kalimantan (Pongopygmaeus). Spesies ini, bersama Orangutan Sumatera (Pongoabelii), adalah kera besar yang hanya ditemukan di Indonesia dan merupakan spesies yang terancam punah (Critically Endangered) menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) atau Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.
Alba disebut sebagai orangutan albino pertama dan satu-satunya yang pernah tercatat, sehingga keberadaannya menjadi sangat langka. Penduduk desa menemukan Alba dan segera melaporkan kepada pihak berwajib, kemudian tim dari Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation segera turun tangan untuk melakukan evakuasi.
Baca juga: Hewan-hewan Ini Sudah Pernah ke Luar Angkasa, Apa Misinya?
Saat pertama kali ditemukan, kondisi Alba sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, dehidrasi, menderita infeksi parasit, dan sangat stres. Berat badannya hanya sekitar delapan kilogram. Setelah melalui masa perawatan intensif di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, kesehatannya membaik, mulai dari nafsu makan hingga kemampuannya memanjat pohon dan bergerak lincah.
Pada 19 Desember 2018, Alba akhirnya dilepasliarkan ke alam liar bersama seekor orangutan lain bernama Kika di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Tengah. Meski begitu tetap ada kekhawatiran Alba menjadi incaran pemburu karena kondisi albinisme menjadi tantangan tersendiri baginya.
Kondisi Albinisme pada Alba
Albinisme merupakan kelainan genetik yang diturunkan, terjadi akibat mutasi pada gen yang berperan dalam pembentukan melanin. Melanin sendiri adalah pigmen yang memberi warna pada kulit, rambut, bulu, dan mata. Ketika mutasi ini terjadi, produksi melanin menjadi sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali, sehingga memengaruhi warna dan penampilan fisik penderitanya.Ini membuat Alba memiliki penampilan yang sangat berbeda dibandingkan orangutan pada umumnya. Seluruh tubuhnya ditutupi bulu berwarna putih krem atau pirang, bukan cokelat kemerahan yang khas pada spesies ini. Kulitnya pun tampak merah muda pucat, bukan abu-abu gelap seperti orangutan lain.
Keunikan lain terletak pada matanya yang berwarna biru, karena tidak adanya pigmen pada iris. Akan tetapi, mata biru ini membuat Alba sangat sensitif terhadap cahaya, kondisi yang dikenal sebagai fotofobia.
Kondisi albinisme membuat Alba menghadapi tantangan besar. Salah satunya, sensitif terhadap sinar matahari. Tanpa melanin, mereka kehilangan perlindungan alami terhadap radiasi ultraviolet (UV) dari matahari. Hal ini membuatnya sangat rentan terhadap sengatan matahari (sunburn) dan kanker kulit.
Albinisme juga membuat mereka memiliki penglihatan terbatas, ditandai dengan fotofobia dan ketajaman visual yang rendah. Di alam liar penglihatan yang buruk menjadi kelemahan besar karena membuat hewan sulit bergerak aman di pepohonan, kesulitan mencari makanan, dan terlambat mendeteksi ancaman atau predator.
Selain itu, warna tubuh Alba yang begitu mencolok membuatnya sama sekali tidak memiliki kemampuan berkamuflase. Corak yang menonjol justru memudahkan predator menemukan mangsanya. Bagi Alba, bulu putihnya membuat dia sangat mudah terlihat, baik oleh hewan pemangsa maupun orang-orang dengan niat buruk, sehingga peluang bertahan hidupnya di hutan akan sangat kecil tanpa adanya perlindungan.
Kondisi Alba Setelah Dilepasliarkan
Pada 29 April 2017, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Kepolisian Sektor Kapuas Hulu dan Yayasan BOS menyelamatkan Alba di Desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.Setelah diselamatkan, Alba menghabiskan hampir dua tahun di Nyaru Menteng sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) pada 18 Desember 2018.
Kepala BTNBBBR, Agung Nugroho, menyampaikan bahwa tim monitoring pasca-pelepasliaran (Post-Release Monitoring/PRM) terdiri dari individu-individu terpilih dari masyarakat lokal yang bertanggung jawab memastikan orangutan yang dilepasliarkan di taman nasional ini dapat berkembang dengan baik. Keterlibatan mereka juga menjamin keberlanjutan program, yang sangat penting bagi upaya konservasi alam dan keanekaragaman hayati.
“Saya menerima laporan bahwa Alba mampu menjelajah jauh, makan dengan baik, serta membangun sarang selama perjalanannya. Dia juga bersosialisasi dengan orangutan lain yang telah dilepasliarkan di taman nasional ini. Itu sungguh perkembangan yang baik. Kita semua berharap Alba terus bertahan hidup di hutan ini, dan tetap hidup liar,” ungkapnya.
Sejak dilepasliarkan pada Desember 2018 hingga akhir 2019, hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata Alba menghabiskan 56,5 persen waktu aktifnya di hutan untuk mencari makan, 27,2 persen untuk berpindah tempat, 13,8 persen untuk beristirahat, dan 2,2 persen untuk perilaku lain seperti membuat sarang dan berinteraksi sosial.
Baca juga: 7 Hewan yang Ramah pada Manusia, Ada Masbro Kapibara
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.