8 Film Tak Lulus Sensor LSF, Begini Kata Festival Director Jakarta World Cinema
21 September 2025 |
16:30 WIB
1
Like
Like
Like
Jakarta World Cinema (JWC) 2025 resmi mengumumkan ada delapan film internasional yang batal diputar karena tidak lolos sensor. Informasi ini dibagikan pertama kali lewat akun Instagram resmi JWC beberapa waktu lalu. Kabar tersebut sontak menjadi perhatian karena jumlah film yang terkena aturan sensor cukup banyak.
Festival Director JWC, Shandy Gasella, membenarkan kabar itu ketika dihubungi Hypeabis.id. Ia menjelaskan bahwa alasan pembatalan tersebut murni karena ketentuan dari Lembaga Sensor Film (LSF).
Baca juga: Cerita di Balik Pemilihan Film Pembuka & Penutup Jakarta World Cinema 2025
“Betul, ada 8 film yang tidak jadi tayang. Setiap film yang diputar untuk publik di Indonesia, termasuk festival, memang wajib melewati proses sensor di LSF,” katanya.
Dia menjelaskan sesuai peraturan yang berlaku, film harus diajukan terlebih dahulu ke LSF untuk ditelaah. Setelah itu, lembaga akan memutuskan apakah film bisa mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) atau justru ditolak. Tanpa dokumen tersebut, film tidak bisa diputar di bioskop maupun layanan streaming di Indonesia.
Delapan film yang batal tayang di Jakarta World Cinema 2025 adalah:
Di luar film-film tersebut, kata Shandy, seluruh judul di JWC telah berhasil mendapatkan STLS. Film-film yang diputar di festival pun dipastikan akan tayang dalam versi utuh atau versi asli dari pembuatnya. Dirinya menegaskan tidak ada revisi yang diminta bagi film yang sudah disetujui sepenuhnya oleh LSF.
"Film lain akan diputar dalam versi utuh sesuai aslinya, tanpa revisi apa pun," imbuhnya.
Shandy bercerita sebenarnya ada satu film di dalam 8 judul yang berpotensi bisa tayang, tetapi dengan catatan revisi dari LSF sebagai persyaratannya. Namun, pihak festival memilih tidak melakukan perubahan, sehingga film itu dinyatakan gagal lolos sensor. Keputusan tersebut, menurut Shandy, diambil demi menjaga integritas karya para pembuat film.
“Festival film bukanlah tontonan umum, tetapi ruang khusus di mana film bisa dipresentasikan secara utuh sesuai maksud kreatornya,” jelasnya.
Dia menilai bahwa mengubah isi film hanya demi lolos sensor akan mengurangi nilai artistik dan pesan yang ingin disampaikan. JWC 2025 menegaskan bahwa festival selalu mengedepankan apresiasi pada karya orisinal.
Bagi penyelenggara, keutuhan film adalah prinsip utama yang tidak bisa ditawar. Oleh karena itu, jika ada film yang terpaksa gagal tayang, mereka lebih memilih menerima konsekuensi tersebut.
Meskipun ada delapan film internasional yang dibatalkan, JWC 2025 tetap akan menghadirkan banyak judul lain yang telah mendapatkan izin resmi. Penonton tetap bisa menikmati keragaman cerita dari berbagai negara, sekaligus merasakan atmosfer film-film besar yang sebelumnya berkeliling di sirkuit festival bergengsi, kini bisa dinikmati di Jakarta.
Pada penyelenggaraan edisi keempat ini, JWC akan memutar 185 film dari 66 negara. Dari 185 film yang dibawa ke Jakarta kali ini, sebanyak 155 judul di antaranya merupakan film panjang dan 30 lainnya film pendek. Peta tersebut, katanya, mencerminkan keragaman karya yang ditawarkan JWC tahun ini.
Deretan film yang diputar di JWC merupakan kombinasi karya sineas berpengalaman dan sutradara pendatang baru, dengan seluruh judul yang berhasil menarik perhatian serta menjadi sorotan di kancah internasional.
Secara khusus, JWC menetapkan Sentimental Value karya Joachim Trier sebagai film pembuka festival. Karya tersebut menyajikan sebuah kisah intim yang sarat dengan nuansa emosional dan kedalaman rasa.
Sementara itu, penutupan festival akan diwarnai dengan pemutaran It Was Just an Accident karya Jafar Panahi. Film ini memiliki makna penting, karena menegaskan konsistensi Panahi dalam bersuara melalui sinema, meski kebebasannya dibatasi. Film ini pun diharapkan menjadi simbol perlawanan dan harapan bagi dunia.
Tak hanya menayangkan film, tahun ini JWC juga kembali menggelar First Feature Competition. Tahun ini, ada 11 film yang akan berkompetisi. JWC juga telah menunjuk tiga dewan juri di kompetisi ini, yakni Faradina Mufti (aktris), Tumpal Tampubolon (sutradara), dan Kamila Andini (sutradara, pemenang Platform Prize Toronto 2021).
JWC akan digelar secara online dari 4 September – 4 Oktober 2025 secara eksklusif di KlikFilm. Adapun pemutaran langsung di bioskop akan berlangsung pada 27 September – 4 Oktober 2025 di CGV Grand Indonesia, Jakarta
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Festival Director JWC, Shandy Gasella, membenarkan kabar itu ketika dihubungi Hypeabis.id. Ia menjelaskan bahwa alasan pembatalan tersebut murni karena ketentuan dari Lembaga Sensor Film (LSF).
Baca juga: Cerita di Balik Pemilihan Film Pembuka & Penutup Jakarta World Cinema 2025
“Betul, ada 8 film yang tidak jadi tayang. Setiap film yang diputar untuk publik di Indonesia, termasuk festival, memang wajib melewati proses sensor di LSF,” katanya.
Dia menjelaskan sesuai peraturan yang berlaku, film harus diajukan terlebih dahulu ke LSF untuk ditelaah. Setelah itu, lembaga akan memutuskan apakah film bisa mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) atau justru ditolak. Tanpa dokumen tersebut, film tidak bisa diputar di bioskop maupun layanan streaming di Indonesia.
Delapan film yang batal tayang di Jakarta World Cinema 2025 adalah:
- Baby karya Marcelo Caetano
- Plainclothes karya Carmen Emmi
- Lilies Not for Me karya Will Seefried
- Paying for It karya Sook-Yin Lee
- Hot Milk karya Rebecca Lenkiewicz
- I Only Rest in the Storm karya Pedro Pinho
- Yes! karya Nadav Lapid
- Ari karya Léonor Serraille
Di luar film-film tersebut, kata Shandy, seluruh judul di JWC telah berhasil mendapatkan STLS. Film-film yang diputar di festival pun dipastikan akan tayang dalam versi utuh atau versi asli dari pembuatnya. Dirinya menegaskan tidak ada revisi yang diminta bagi film yang sudah disetujui sepenuhnya oleh LSF.
"Film lain akan diputar dalam versi utuh sesuai aslinya, tanpa revisi apa pun," imbuhnya.
Shandy bercerita sebenarnya ada satu film di dalam 8 judul yang berpotensi bisa tayang, tetapi dengan catatan revisi dari LSF sebagai persyaratannya. Namun, pihak festival memilih tidak melakukan perubahan, sehingga film itu dinyatakan gagal lolos sensor. Keputusan tersebut, menurut Shandy, diambil demi menjaga integritas karya para pembuat film.
“Festival film bukanlah tontonan umum, tetapi ruang khusus di mana film bisa dipresentasikan secara utuh sesuai maksud kreatornya,” jelasnya.
Dia menilai bahwa mengubah isi film hanya demi lolos sensor akan mengurangi nilai artistik dan pesan yang ingin disampaikan. JWC 2025 menegaskan bahwa festival selalu mengedepankan apresiasi pada karya orisinal.
Bagi penyelenggara, keutuhan film adalah prinsip utama yang tidak bisa ditawar. Oleh karena itu, jika ada film yang terpaksa gagal tayang, mereka lebih memilih menerima konsekuensi tersebut.
Meskipun ada delapan film internasional yang dibatalkan, JWC 2025 tetap akan menghadirkan banyak judul lain yang telah mendapatkan izin resmi. Penonton tetap bisa menikmati keragaman cerita dari berbagai negara, sekaligus merasakan atmosfer film-film besar yang sebelumnya berkeliling di sirkuit festival bergengsi, kini bisa dinikmati di Jakarta.
Pada penyelenggaraan edisi keempat ini, JWC akan memutar 185 film dari 66 negara. Dari 185 film yang dibawa ke Jakarta kali ini, sebanyak 155 judul di antaranya merupakan film panjang dan 30 lainnya film pendek. Peta tersebut, katanya, mencerminkan keragaman karya yang ditawarkan JWC tahun ini.
Deretan film yang diputar di JWC merupakan kombinasi karya sineas berpengalaman dan sutradara pendatang baru, dengan seluruh judul yang berhasil menarik perhatian serta menjadi sorotan di kancah internasional.
Secara khusus, JWC menetapkan Sentimental Value karya Joachim Trier sebagai film pembuka festival. Karya tersebut menyajikan sebuah kisah intim yang sarat dengan nuansa emosional dan kedalaman rasa.
Sementara itu, penutupan festival akan diwarnai dengan pemutaran It Was Just an Accident karya Jafar Panahi. Film ini memiliki makna penting, karena menegaskan konsistensi Panahi dalam bersuara melalui sinema, meski kebebasannya dibatasi. Film ini pun diharapkan menjadi simbol perlawanan dan harapan bagi dunia.
Tak hanya menayangkan film, tahun ini JWC juga kembali menggelar First Feature Competition. Tahun ini, ada 11 film yang akan berkompetisi. JWC juga telah menunjuk tiga dewan juri di kompetisi ini, yakni Faradina Mufti (aktris), Tumpal Tampubolon (sutradara), dan Kamila Andini (sutradara, pemenang Platform Prize Toronto 2021).
JWC akan digelar secara online dari 4 September – 4 Oktober 2025 secara eksklusif di KlikFilm. Adapun pemutaran langsung di bioskop akan berlangsung pada 27 September – 4 Oktober 2025 di CGV Grand Indonesia, Jakarta
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.