Hypereport: Dari Analog ke AI, Radio Menemukan Cara Tetap Dekat dengan Pendengar
17 September 2025 |
18:58 WIB
Di tengah masifnya arus digitalisasi dan menjamurnya media sosial, radio masih menunjukkan eksistensinya sebagai medium komunikasi dan informasi yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Meski berkali-kali diramalkan punah, nyatanya radio justru mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 dari Badan Pusat Statistik, pendengar radio di Indonesia tercatat sekitar 8,6 persen dari total populasi, atau setara kurang lebih 25 juta orang. Angka tersebut memang menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Deretan Stasiun Radio Bersejarah di Indonesia
2. Hypereport: 10 Penyiar Radio Legendaris dari Masa ke Masa
3. Hypereport: Menilik Kondisi & Tantangan Industri Radio di Dunia Digital dan Era Media Sosial
Namun, laporan GoodStats mengungkapkan bahwa 52 persen anak muda di Indonesia masih mendengarkan radio melalui perangkat analog atau antena, sedangkan 48 persen lainnya lebih memilih perangkat digital seperti komputer dan ponsel. Temuan ini menegaskan bahwa radio belum sepenuhnya ditinggalkan, melainkan tengah beradaptasi dengan format baru untuk tetap dekat dengan pendengarnya.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Agustini Rahayu, menegaskan bahwa radio tetap relevan dan tangguh di tengah gempuran era digital. Menurutnya, lanskap radio mencerminkan ketahanan yang istimewa sekaligus transformasi yang signifikan. Media ini masih menjadi saluran informasi paling mudah dijangkau, dipercaya karena kredibilitasnya, serta mampu merangkul audiens luas.
“Meski demikian, radio juga dihadapkan pada tantangan berupa perubahan perilaku pendengar serta meningkatnya kebutuhan untuk menghindari misinformasi,” ujar Ayu, dikutip dari keterangan resminya.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa inovasi konten audio kini menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem kreatif. Radio, katanya, tidak sekadar bertahan sebagai medium tradisional, melainkan juga berperan penting dalam mendistribusikan konten kreatif ke berbagai daerah. Sejalan dengan itu, format audio digital memberi fleksibilitas yang lebih sesuai dengan gaya hidup dan pola konsumsi media generasi masa kini.
“Indonesia patut berbangga dapat menjadi bagian dari perkembangan industri radio, audio, dan podcast. Inovasi dalam konten audio, mulai dari podcast independen yang menghadirkan kisah-kisah unik hingga eksistensi radio lokal yang tetap menjadi sumber informasi terpercaya, memperlihatkan bagaimana suara lokal mampu memberi warna baru dalam ekosistem global,” tambahnya.
Hal senada juga ditegaskan oleh Benni Listyo, Station Manager Sonora FM Yogyakarta, yang menekankan bahwa radio masih bertahan sebagai salah satu medium komunikasi dan informasi di tengah gempuran media digital dan pesatnya perkembangan teknologi. Baginya, radio bukan hanya sekadar pemutar musik, melainkan juga kanal informasi dan interaksi yang terus berinovasi mengikuti zaman.
“Setiap radio punya karakter dan kontennya masing-masing. Ada yang full lagu, ada yang fokus pada berita. Kalau di Sonora, kami tidak hanya memutar lagu, tapi juga menyajikan berita, talkshow seputar kesehatan, politik, ekonomi, budaya, hingga pariwisata. Jadi kontennya sangat beragam dan relevan dengan kebutuhan pendengar,” ujarnya kepada Hypeabis.id.
Radio sendiri merupakan media yang mengantongi Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melakukan kegiatan penyiaran, serta Izin Stasiun Radio (ISR) untuk penggunaan spektrum frekuensi radio. Kedua izin tersebut merupakan persyaratan legal bagi radio untuk beroperasi secara sah.
Salah satu faktor yang membuat radio tetap hidup di era modern adalah kemampuannya beradaptasi dengan teknologi. Radio sudah lama hadir dalam format streaming, sehingga bisa diakses melalui ponsel, laptop, maupun komputer. Orang-orang bisa mendengarkan radio kapan saja, di mana saja, sambil melakukan berbagai aktivitas. Dengan demikian, fungsi radio sebagai hiburan sekaligus sumber informasi tetap relevan.
"Siaran kami juga bisa ditonton melalui live YouTube. Jadi radio tidak ketinggalan zaman, justru berjalan seiring dengan perkembangan teknologi,” ujar Benni.
Radio juga, menurutnya, masih menjadi media promosi yang efektif bagi industri musik. Karya-karya artis pendatang maupun musisi yang belum populer bisa dikenal luas oleh masyarakat lewat siaran radio. Sebab, radio selalu punya ruang untuk memutarkan lagu-lagu terbaru.
Interaksi dengan pendengar kini juga lebih mudah. Jika dulu masyarakat mengirim kartu pos untuk menyampaikan salam atau pesan, kini sudah bisa melalui WhatsApp. Cukup kirim voice note ke nomor WA studio, suara pendengar bisa langsung mengudara. Selain itu, interaksi juga bisa dilakukan lewat telepon, text, dan media sosial.
Kehadiran radio juga sangat penting, terutama saat terjadi peristiwa darurat. Menurut Benni, radio adalah media tercepat dalam menyiarkan breaking news. “Saat bencana, radio bisa langsung menyiarkan informasi dari sumber resmi, misalnya pemerintah daerah atau pejabat terkait. Jadi jelas, bukan hoaks. Itulah yang membuat radio tetap dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Radio terbukti bisa bertahan meski berkali-kali diramalkan akan punah. Dulu sempat diperkirakan akan hilang setelah televisi hadir, lalu kembali disebut kalah dengan media sosial. Nyatanya, radio masih ada dan justru ikut aktif di berbagai platform digital dan terbuka dengan segala inovasi.
Menyikapi perkembangan terbaru seperti kecerdasan buatan (AI) dalam radio, Benni melihatnya sebagai pelengkap, bukan pengganti. Tidak masalah kalau berita dibacakan dengan AI. Tapi suara manusia dan AI tetap berbeda. Intonasi, napas, dan nuansa dari penyiar radio tidak bisa digantikan.
"Jadi AI itu membantu, tapi penyiar tetap punya tempat di hati pendengar,” katanya.
Namun, dia mengakui tantangan utama radio tetap berada pada aspek bisnis. Sama seperti media lainnya, radio pun hidup dari iklan untuk mendukung keberlangsungan operasionalnya.
Dengan segala adaptasi dan inovasi, Benni yakin radio masih akan terus bertahan di era digital. Masyarakat masih membutuhkan radio. Polanya memang berubah, dulu orang mendengarkan lewat transistor, sekarang lewat ponsel dan streaming. Tapi esensinya tetap sama, radio menghibur, memberi informasi, sekaligus menjadi media komunikasi yang dekat dengan pendengarnya.
Aimee, yang merupakan singkatan dari Artificial Intelligence Mustang Announcer For Everyone, dirancang khusus untuk berinteraksi dengan generasi Z dengan pemahaman yang mendalam terhadap minat dan gaya hidup mereka.
Gagasan menghadirkan Aimee terinspirasi dari RadioGPT di Portland, Oregon, yang lebih dulu memanfaatkan AI untuk menyusun skrip berita populer. Melihat potensi besar teknologi ini, Mustang 88 FM mengembangkan Aimee sebagai langkah strategis untuk menjangkau pendengar generasi masa kini yang selalu terkoneksi dengan dunia digital.
“Kami menciptakan AIMEE bukan hanya sebagai sosok penyiar AI, tetapi juga harus mewakili lifestyle gen z yang energetic, senang belajar hal baru, suka hangout, dan tentunya suka mendengarkan musik dan menonton film," kata Adrian Syarkawie selaku President Director Mahaka Radio Integra (MARI).
Lebih dari sekadar program AI yang mampu berbicara, Aimee digambarkan sebagai sosok yang memahami dunia generasi Z. Dengan kemampuan belajar yang cepat, dia dapat menyesuaikan diri dengan berbagai minat pendengar, mulai dari musik, film, hingga kebiasaan nongkrong.
Aimee melakukan debutnya pada Desember 2023 dan sejak itu menjadi bagian dari program akhir pekan Mustang 88 FM yanv hadir menemani para pendengarnya, yaitu Mustang Gang.
Sebagai penyiar AI pertama di Indonesia, Aimee hadir tidak hanya untuk menyajikan informasi dan hiburan, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan pendengar melalui radio maupun media sosial. Dia dapat menjawab pertanyaan, memberi rekomendasi lagu, hingga berdiskusi mengenai tren terkini yang digemari generasi Z.
Kehadiran Aimee menandai babak baru dalam sejarah penyiaran radio Indonesia, Mustang 88 FM berharap sosoknya bisa menjadi teman dekat bagi para pendengar, sekaligus menjaga perannya sebagai sumber hiburan dan informasi terpercaya. Mereka juga menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan memenuhi kebutuhan audiens masa kini.
Baca juga: Radio Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Juga Andalan di Masa Krisis
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 dari Badan Pusat Statistik, pendengar radio di Indonesia tercatat sekitar 8,6 persen dari total populasi, atau setara kurang lebih 25 juta orang. Angka tersebut memang menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Deretan Stasiun Radio Bersejarah di Indonesia
2. Hypereport: 10 Penyiar Radio Legendaris dari Masa ke Masa
3. Hypereport: Menilik Kondisi & Tantangan Industri Radio di Dunia Digital dan Era Media Sosial
Namun, laporan GoodStats mengungkapkan bahwa 52 persen anak muda di Indonesia masih mendengarkan radio melalui perangkat analog atau antena, sedangkan 48 persen lainnya lebih memilih perangkat digital seperti komputer dan ponsel. Temuan ini menegaskan bahwa radio belum sepenuhnya ditinggalkan, melainkan tengah beradaptasi dengan format baru untuk tetap dekat dengan pendengarnya.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Agustini Rahayu, menegaskan bahwa radio tetap relevan dan tangguh di tengah gempuran era digital. Menurutnya, lanskap radio mencerminkan ketahanan yang istimewa sekaligus transformasi yang signifikan. Media ini masih menjadi saluran informasi paling mudah dijangkau, dipercaya karena kredibilitasnya, serta mampu merangkul audiens luas.
“Meski demikian, radio juga dihadapkan pada tantangan berupa perubahan perilaku pendengar serta meningkatnya kebutuhan untuk menghindari misinformasi,” ujar Ayu, dikutip dari keterangan resminya.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa inovasi konten audio kini menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem kreatif. Radio, katanya, tidak sekadar bertahan sebagai medium tradisional, melainkan juga berperan penting dalam mendistribusikan konten kreatif ke berbagai daerah. Sejalan dengan itu, format audio digital memberi fleksibilitas yang lebih sesuai dengan gaya hidup dan pola konsumsi media generasi masa kini.
“Indonesia patut berbangga dapat menjadi bagian dari perkembangan industri radio, audio, dan podcast. Inovasi dalam konten audio, mulai dari podcast independen yang menghadirkan kisah-kisah unik hingga eksistensi radio lokal yang tetap menjadi sumber informasi terpercaya, memperlihatkan bagaimana suara lokal mampu memberi warna baru dalam ekosistem global,” tambahnya.
Hal senada juga ditegaskan oleh Benni Listyo, Station Manager Sonora FM Yogyakarta, yang menekankan bahwa radio masih bertahan sebagai salah satu medium komunikasi dan informasi di tengah gempuran media digital dan pesatnya perkembangan teknologi. Baginya, radio bukan hanya sekadar pemutar musik, melainkan juga kanal informasi dan interaksi yang terus berinovasi mengikuti zaman.
“Setiap radio punya karakter dan kontennya masing-masing. Ada yang full lagu, ada yang fokus pada berita. Kalau di Sonora, kami tidak hanya memutar lagu, tapi juga menyajikan berita, talkshow seputar kesehatan, politik, ekonomi, budaya, hingga pariwisata. Jadi kontennya sangat beragam dan relevan dengan kebutuhan pendengar,” ujarnya kepada Hypeabis.id.
Radio sendiri merupakan media yang mengantongi Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melakukan kegiatan penyiaran, serta Izin Stasiun Radio (ISR) untuk penggunaan spektrum frekuensi radio. Kedua izin tersebut merupakan persyaratan legal bagi radio untuk beroperasi secara sah.
Salah satu faktor yang membuat radio tetap hidup di era modern adalah kemampuannya beradaptasi dengan teknologi. Radio sudah lama hadir dalam format streaming, sehingga bisa diakses melalui ponsel, laptop, maupun komputer. Orang-orang bisa mendengarkan radio kapan saja, di mana saja, sambil melakukan berbagai aktivitas. Dengan demikian, fungsi radio sebagai hiburan sekaligus sumber informasi tetap relevan.
"Siaran kami juga bisa ditonton melalui live YouTube. Jadi radio tidak ketinggalan zaman, justru berjalan seiring dengan perkembangan teknologi,” ujar Benni.
Radio juga, menurutnya, masih menjadi media promosi yang efektif bagi industri musik. Karya-karya artis pendatang maupun musisi yang belum populer bisa dikenal luas oleh masyarakat lewat siaran radio. Sebab, radio selalu punya ruang untuk memutarkan lagu-lagu terbaru.
Interaksi dengan pendengar kini juga lebih mudah. Jika dulu masyarakat mengirim kartu pos untuk menyampaikan salam atau pesan, kini sudah bisa melalui WhatsApp. Cukup kirim voice note ke nomor WA studio, suara pendengar bisa langsung mengudara. Selain itu, interaksi juga bisa dilakukan lewat telepon, text, dan media sosial.
Kehadiran radio juga sangat penting, terutama saat terjadi peristiwa darurat. Menurut Benni, radio adalah media tercepat dalam menyiarkan breaking news. “Saat bencana, radio bisa langsung menyiarkan informasi dari sumber resmi, misalnya pemerintah daerah atau pejabat terkait. Jadi jelas, bukan hoaks. Itulah yang membuat radio tetap dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Radio terbukti bisa bertahan meski berkali-kali diramalkan akan punah. Dulu sempat diperkirakan akan hilang setelah televisi hadir, lalu kembali disebut kalah dengan media sosial. Nyatanya, radio masih ada dan justru ikut aktif di berbagai platform digital dan terbuka dengan segala inovasi.
Menyikapi perkembangan terbaru seperti kecerdasan buatan (AI) dalam radio, Benni melihatnya sebagai pelengkap, bukan pengganti. Tidak masalah kalau berita dibacakan dengan AI. Tapi suara manusia dan AI tetap berbeda. Intonasi, napas, dan nuansa dari penyiar radio tidak bisa digantikan.
"Jadi AI itu membantu, tapi penyiar tetap punya tempat di hati pendengar,” katanya.
Namun, dia mengakui tantangan utama radio tetap berada pada aspek bisnis. Sama seperti media lainnya, radio pun hidup dari iklan untuk mendukung keberlangsungan operasionalnya.
Dengan segala adaptasi dan inovasi, Benni yakin radio masih akan terus bertahan di era digital. Masyarakat masih membutuhkan radio. Polanya memang berubah, dulu orang mendengarkan lewat transistor, sekarang lewat ponsel dan streaming. Tapi esensinya tetap sama, radio menghibur, memberi informasi, sekaligus menjadi media komunikasi yang dekat dengan pendengarnya.
Hadirnya Penyiar Radio AI
Mustang 88 FM, salah satu stasiun radio swasta ternama di Indonesia, beberapa waktu lalu menghadirkan terobosan baru dengan meluncurkan Aimee, penyiar radio berbasis Artificial Intelligence (AI) pertama di tanah air.Aimee, yang merupakan singkatan dari Artificial Intelligence Mustang Announcer For Everyone, dirancang khusus untuk berinteraksi dengan generasi Z dengan pemahaman yang mendalam terhadap minat dan gaya hidup mereka.
Gagasan menghadirkan Aimee terinspirasi dari RadioGPT di Portland, Oregon, yang lebih dulu memanfaatkan AI untuk menyusun skrip berita populer. Melihat potensi besar teknologi ini, Mustang 88 FM mengembangkan Aimee sebagai langkah strategis untuk menjangkau pendengar generasi masa kini yang selalu terkoneksi dengan dunia digital.
“Kami menciptakan AIMEE bukan hanya sebagai sosok penyiar AI, tetapi juga harus mewakili lifestyle gen z yang energetic, senang belajar hal baru, suka hangout, dan tentunya suka mendengarkan musik dan menonton film," kata Adrian Syarkawie selaku President Director Mahaka Radio Integra (MARI).
Lebih dari sekadar program AI yang mampu berbicara, Aimee digambarkan sebagai sosok yang memahami dunia generasi Z. Dengan kemampuan belajar yang cepat, dia dapat menyesuaikan diri dengan berbagai minat pendengar, mulai dari musik, film, hingga kebiasaan nongkrong.
Aimee melakukan debutnya pada Desember 2023 dan sejak itu menjadi bagian dari program akhir pekan Mustang 88 FM yanv hadir menemani para pendengarnya, yaitu Mustang Gang.
Sebagai penyiar AI pertama di Indonesia, Aimee hadir tidak hanya untuk menyajikan informasi dan hiburan, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan pendengar melalui radio maupun media sosial. Dia dapat menjawab pertanyaan, memberi rekomendasi lagu, hingga berdiskusi mengenai tren terkini yang digemari generasi Z.
Kehadiran Aimee menandai babak baru dalam sejarah penyiaran radio Indonesia, Mustang 88 FM berharap sosoknya bisa menjadi teman dekat bagi para pendengar, sekaligus menjaga perannya sebagai sumber hiburan dan informasi terpercaya. Mereka juga menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan memenuhi kebutuhan audiens masa kini.
Baca juga: Radio Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Juga Andalan di Masa Krisis
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.