Karya bertajuk MBG, Budi Ubrux (Sumber foto: Hypeabis.id/Dika Irawan)

‘Nasi Bungkus’ Budi Ubrux di Art & Bali 2025, Kritik Ketimpangan dari Simbol Sehari-hari

12 September 2025   |   19:58 WIB
Image
Dika Irawan Asisten Konten Manajer Hypeabis.id

Tumpukan bata merah tersusun layaknya candi. Di atasnya berjejer puluhan “nasi bungkus” yang membuat siapa pun terhenti sejenak untuk menatap. Namun, benda itu bukanlah makanan sungguhan, melainkan patung dari akrilik dan kayu yang dirancang menyerupai suguhan khas Indonesia.

Instalasi berjudul MBG (Makan Bergizi Gratis) ini merupakan karya seniman Budi Ubrux. Terdiri atas 50 unit berukuran 26 x 33 x 20 cm, karya tersebut menjadi salah satu bagian dari pameran Terra Nexus di ajang Art & Bali 2025 yang berlangsung di Nuanu Creative City, Tabanan, Bali, 12–14 September 2025.

Baca juga: Art & Bali 2025 Dibuka, 17 Galeri dari Lima Negara Hadir di Nuanu Creative City

MBG berangkat dari ide sederhana, yaitu makanan sebagai kebutuhan manusia paling mendasar. Bagi sebagian orang, makanan bergizi sudah menjadi gaya hidup. Namun bagi banyak orang Indonesia, porsi seimbang masih sebatas mimpi. Lewat kontras itu, Budi mengajukan kritik reflektif terhadap ketimpangan ekonomi yang nyata di masyarakat.

Kurator Terra Nexus, Mona Liem, menilai Ubrux menghadirkan gagasan yang menohok lewat simbol keseharian.

“Semua orang pernah makan makanan sederhana, satu piring hidangan yang merekatkan banyak lapisan masyarakat. Namun di balik kesederhanaannya, Ubrux menyelipkan kontras. Sekarang ada orang makan satu piring bisa Rp500.000, sementara banyak warga masih butuh makan siang gratis dari pemerintah,” ujar Mona di sela-sela pembukaan Art & Bali, Jumat (12/9/2025).

Tak berhenti di situ, Ubrux juga melukiskan wajah tokoh-tokoh nasional maupun internasional pada tiap “nasi bungkus”. Menurut Mona, kehadiran tokoh tersebut mencerminkan pergerakan, kebudayaan, hingga perjuangan kesetaraan.

Lebih jauh, Mona juga menjelaskan filosofi di balik pameran Terra Nexus itu sendiri. Nama Terra berarti bumi, sementara Nexus berarti koneksi. Hal ini merefleksikan upaya untuk menghubungkan budaya, alam, dan inovasi,” tuturnya.

Menurutnya, sains dan teknologi bukan sekadar alat, tetapi kekuatan kreatif yang membentuk ulang hubungan manusia dengan ekologi dan masyarakat. Melalui karya digital dan interaktif, Terra Nexus membuka dialog antara tradisi masa lalu dan semangat global masa depan.

"Di sini seni berfungsi sebagai jembatan, melahirkan cara baru untuk hidup, merasakan, dan membayangkan, sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis,” kata Mona.

Selain MBG, pameran Terra Nexus menampilkan karya 30 seniman dari enam negara—Indonesia, Malaysia, Italia, Polandia, Jepang, dan Swiss. Karya-karya mereka mengangkat tema lingkungan, tradisi dan globalisasi, spiritualitas, hingga persoalan kontemporer.

Beberapa nama yang turut berpartisipasi antara lain Dhanmy “Danot” Sanjaya, Jana Schafroth, Dr. Justyna Gorowska, Mukhamad Al Prasetyo, Rakhmi Fitriani, Susur Galur Collective, dan Widi Pangestu yang menyoroti isu ekologi dan keberlanjutan. Sementara I Made Tetler, MIVUBI, Nasirun, Roger Ng Wei Lum, Tulola Jewellery, Utami A. Ishii, dan Wisnu Ajiatma menafsirkan ulang kearifan lokal dalam kemungkinan masa depan digital.

Di sisi lain, Adiola Yap, Anwar Bachtar, Dadi Setiyadi, Geddi Jadid Membummi, Iroha Ozaki, Ivan Sagita, Notanlab, Nus Salomo, Satya Cipta, Sekar Puti Sidhiawati, Sutajaya, dan Syahrizal Pahlevi mengeksplorasi spiritualitas dan pemikiran holistik.

Sementara Arief Budiman, Budi Kustarto, Goenawan Mohamad, Heri Dono, Popon Darsono, Valerio Vincenzo, dan Yason Banal merefleksikan realitas sosial kontemporer, dari budaya, politik, hingga perubahan global.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

SEBELUMNYA

Intip Sejarah & Kemegahan Arsitektur Gedung Parlemen Nepal

BERIKUTNYA

Riset Unik Penulis Naskah Sebelum Menggarap Ratu Ratu Queens: The Series

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga