Seni Media Baru Siap Ambil Panggung di Art & Bali 2025
18 June 2025 |
11:30 WIB
Pulau Dewata, Bali kembali menjadi panggung peristiwa seni berskala internasional dalam waktu dekat. Pada 12–14 September 2025, Art & Bali akan digelar di Nuanu Creative City dengan Terra Nexus sebagai sorotan utama gelaran seni ini. Pameran ini mengusung pendekatan seni media baru yang berani.
Menggabungkan imajinasi digital, teknologi interaktif, dan nilai-nilai tradisional, Terra Nexus akan melibatkan 23 seniman dari berbagai negara dan lintas generasi. Dikurasi oleh Mona Liem, pameran ini digadang bakal menghadirkan instalasi imersif, lanskap augmentasi, hingga antarmuka spekulatif.
Baca juga: Dari Mitos ke Realitas, Pameran Seniman Kei Imazu di Museum MACAN Angkat Suara Masa Lalu
Di dalamnya, mitos leluhur, ritual, dan lanskap alam diinterpretasikan lewat pembelajaran mesin dan algoritma. “Pameran ini adalah ruang di mana teknologi menjadi kekuatan kreatif,” ujar Mona. Dia menyebut Terra Nexus sebagai ekspresi holistik yang berpijak pada kearifan lokal namun berbicara dalam bahasa masa depan.
Mona mengungkap, yang menarik dari pamer ini adalah sejumlah seniman senior Indonesia untuk pertama kalinya tampil dalam konteks seni media baru. Di antaranya adalah Nasirun, yang dikenal dengan karya simbolik dan spiritualitas Jawa yang kuat.
Kemudian ada juga Budi Ubrux, seniman yang dikenal melalui teknik melukis di atas koran, serta Yessiow, muralis asal Bali dengan gaya dekoratif berwarna cerah yang populer di kalangan generasi muda.
Mereka berkolaborasi dan tampil berdampingan dengan generasi baru seniman Indonesia seperti Popomangun, Widi Pangestu, dan Alodia Yap. Ketiganya dikenal aktif dalam eksperimen lintas media dan narasi personal yang kontemporer.
"Pengalaman pengunjung dalam pameran ini bersifat imersif dan multisensori. Salah satu yang mencuri perhatian adalah instalasi bawah laut distopia karya Dhanny Sanjaya, yang menggambarkan lanskap laut masa depan," imbuhnya.
Kolektif MIVUBI juga menghadirkan dunia Minecraft berskala penuh yang ditata ulang, mengubah permainan menjadi pengalaman spiritual dan reflektif. Sementara itu, karya Muhammad Aji Prasetyo menampilkan organisme kinetik yang tampak hidup.
Tak ketinggalan, Notanlab akan menyuguhkan pertunjukan dan instalasi berbasis cahaya yang menciptakan atmosfer kontemplatif di tengah keramaian art fair. Semua ini menjadikan Terra Nexus sebagai ruang seni yang hidup dan terus berubah.
Menurut Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, Terra Nexus adalah pengejawantahan filosofi kawasan ini. “Seni bukan ornamen. Di Nuanu, seni adalah rencana tata kota. Dia adalah infrastruktur spiritual kami,” ujarnya.
Nuanu, merupakan kawasan kreatif di pesisir barat daya Bali yang dibangun dengan prinsip regeneratif. Berbeda dari banyak pengembangan lain, kawasan ini menolak model pembangunan yang ekstraktif.
Art & Bali memilih lokasi ini bukan tanpa alasan. Keduanya berbagi nilai yang sama, bahwa pelestarian budaya dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan dengan inovasi dan eksplorasi kreatif
Kelsang Dolma, Fair Director Art & Bali, menyebut bahwa gelaran ini tidak mengikuti struktur art fair dari luar negeri. “Di sini, tidak ada formula tetap. Art & Bali lahir dari tanah Bali—mistis, sedikit berantakan, dan sangat hidup,” ungkapnya.
Baginya, Terra Nexus adalah cara untuk bertanya: Bagaimana jika seni tumbuh dari ritual dan ingatan kolektif, bukan hanya dari teori atau pasar?" Dalam konteks Bali, hal ini terasa sangat organik dan relevan," ungkapnya.
Baca juga: Pameran Jejak Langkah: Saat Seniman Mengenang Pramoedya Ananta Toer Lewat Bahasa Rupa
Pameran ini juga akan diisi oleh nama-nama seniman internasional seperti Justyna Gorowska, Valerio Vincenzo, Roger Ng Wei Lun, Utami A. Ishii, serta Jana Schafroth. Nama-nama tambahan akan diumumkan menjelang acara.
Dengan pendekatan lintas disiplin dan keberanian untuk menyatukan spiritualitas dengan teknologi, Terra Nexus digadang menawarkan lebih dari sekadar tontonan. Dalam pameran ini, seni tidak hanya dipajang, dia hidup, bernapas, dan berbicara dalam banyak bahasa: visual, digital, spiritual.
Menggabungkan imajinasi digital, teknologi interaktif, dan nilai-nilai tradisional, Terra Nexus akan melibatkan 23 seniman dari berbagai negara dan lintas generasi. Dikurasi oleh Mona Liem, pameran ini digadang bakal menghadirkan instalasi imersif, lanskap augmentasi, hingga antarmuka spekulatif.
Baca juga: Dari Mitos ke Realitas, Pameran Seniman Kei Imazu di Museum MACAN Angkat Suara Masa Lalu
Di dalamnya, mitos leluhur, ritual, dan lanskap alam diinterpretasikan lewat pembelajaran mesin dan algoritma. “Pameran ini adalah ruang di mana teknologi menjadi kekuatan kreatif,” ujar Mona. Dia menyebut Terra Nexus sebagai ekspresi holistik yang berpijak pada kearifan lokal namun berbicara dalam bahasa masa depan.
Mona mengungkap, yang menarik dari pamer ini adalah sejumlah seniman senior Indonesia untuk pertama kalinya tampil dalam konteks seni media baru. Di antaranya adalah Nasirun, yang dikenal dengan karya simbolik dan spiritualitas Jawa yang kuat.
Kemudian ada juga Budi Ubrux, seniman yang dikenal melalui teknik melukis di atas koran, serta Yessiow, muralis asal Bali dengan gaya dekoratif berwarna cerah yang populer di kalangan generasi muda.
Mereka berkolaborasi dan tampil berdampingan dengan generasi baru seniman Indonesia seperti Popomangun, Widi Pangestu, dan Alodia Yap. Ketiganya dikenal aktif dalam eksperimen lintas media dan narasi personal yang kontemporer.
"Pengalaman pengunjung dalam pameran ini bersifat imersif dan multisensori. Salah satu yang mencuri perhatian adalah instalasi bawah laut distopia karya Dhanny Sanjaya, yang menggambarkan lanskap laut masa depan," imbuhnya.
Kolektif MIVUBI juga menghadirkan dunia Minecraft berskala penuh yang ditata ulang, mengubah permainan menjadi pengalaman spiritual dan reflektif. Sementara itu, karya Muhammad Aji Prasetyo menampilkan organisme kinetik yang tampak hidup.
Tak ketinggalan, Notanlab akan menyuguhkan pertunjukan dan instalasi berbasis cahaya yang menciptakan atmosfer kontemplatif di tengah keramaian art fair. Semua ini menjadikan Terra Nexus sebagai ruang seni yang hidup dan terus berubah.
Menurut Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, Terra Nexus adalah pengejawantahan filosofi kawasan ini. “Seni bukan ornamen. Di Nuanu, seni adalah rencana tata kota. Dia adalah infrastruktur spiritual kami,” ujarnya.
Nuanu, merupakan kawasan kreatif di pesisir barat daya Bali yang dibangun dengan prinsip regeneratif. Berbeda dari banyak pengembangan lain, kawasan ini menolak model pembangunan yang ekstraktif.
Art & Bali memilih lokasi ini bukan tanpa alasan. Keduanya berbagi nilai yang sama, bahwa pelestarian budaya dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan dengan inovasi dan eksplorasi kreatif
Kelsang Dolma, Fair Director Art & Bali, menyebut bahwa gelaran ini tidak mengikuti struktur art fair dari luar negeri. “Di sini, tidak ada formula tetap. Art & Bali lahir dari tanah Bali—mistis, sedikit berantakan, dan sangat hidup,” ungkapnya.
Baginya, Terra Nexus adalah cara untuk bertanya: Bagaimana jika seni tumbuh dari ritual dan ingatan kolektif, bukan hanya dari teori atau pasar?" Dalam konteks Bali, hal ini terasa sangat organik dan relevan," ungkapnya.
Baca juga: Pameran Jejak Langkah: Saat Seniman Mengenang Pramoedya Ananta Toer Lewat Bahasa Rupa
Pameran ini juga akan diisi oleh nama-nama seniman internasional seperti Justyna Gorowska, Valerio Vincenzo, Roger Ng Wei Lun, Utami A. Ishii, serta Jana Schafroth. Nama-nama tambahan akan diumumkan menjelang acara.
Dengan pendekatan lintas disiplin dan keberanian untuk menyatukan spiritualitas dengan teknologi, Terra Nexus digadang menawarkan lebih dari sekadar tontonan. Dalam pameran ini, seni tidak hanya dipajang, dia hidup, bernapas, dan berbicara dalam banyak bahasa: visual, digital, spiritual.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.