Stigma Masih Tinggi, Kenali Fase Bipolar dari Manik hingga Depresi
04 September 2025 |
22:30 WIB
Di Indonesia, gangguan bipolar masih jarang menjadi topik pembicaraan publik, padahal dampaknya nyata. Secara global, beban penyakit ini pun tak bisa diremehkan. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada sekitar 40 juta orang dewasa atau 0,53% populasi dunia, yang hidup dengan bipolar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa di setiap lapisan masyarakat, selalu ada individu yang berusaha bertahan dengan fluktuasi suasana hati yang ekstrem.
Baca juga: Ketidakpatuhan Pengobatan Jadi Tantangan Penanganan Bipolar & Skizofrenia
Gangguan bipolar sendiri ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem dari fase manik ke fase depresi. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Pondok Indah Ashwin Kandouw, menjelaskan, gangguan bipolar merupakan gangguan mood atau suasana perasaan.
“‘Bi’ artinya dua dan ‘polar’ artinya kutub. Jadi penderita bipolar akan mengalami mood yang berubah-ubah secara ekstrim dari kutub manik ke kutub depresi dan juga sebaliknya,” katanya.
Ashwin menjelaskan, pada fase manik, seseorang bisa terlihat sangat produktif, penuh ide, hingga berani mengambil keputusan nekat. Namun, pada fase depresi, kondisi bisa berbalik tajam seperti kehilangan energi, kesulitan konsentrasi, hingga muncul rasa tidak berharga. Fluktuasi inilah yang membuat penderita sering kali kesulitan menjaga stabilitas hidup sehari-hari.
Gangguan bipolar sendiri bersifat kronis dan kambuhan. Gejala dapat reda dalam periode tertentu, tetapi ada kemungkinan muncul kembali dengan intensitas lebih berat. Setiap kali kambuh, risiko kerusakan sel otak meningkat, dan kerusakan ini tidak dapat diperbaiki. Karena itu, deteksi dini dan pengobatan yang tepat menjadi kunci utama.
Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk tidak menunda konsultasi dan terapi jika menyadari adanya gangguan bipolar, karena memerlukan penanganan medis secara tepat dan cepat untuk mencegah perburukan penyakit pada pasien.
Penanganan tidak cukup hanya dengan obat-obatan. Dukungan keluarga sangat penting agar pasien konsisten menjalani terapi. Pemerintah juga diharapkan berperan, mulai dari penyediaan skema pembiayaan berkesinambungan, distribusi obat, hingga penciptaan lapangan kerja yang ramah bagi penyintas bipolar.
Menurut Ashwin, saat ini, akses terhadap layanan kesehatan jiwa masih menghadapi banyak hambatan. Sebagian masyarakat masih menganggap gangguan mental sebagai aib. Stigma ini membuat penderita enggan mencari pertolongan profesional. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas dan tenaga psikiater di daerah-daerah juga memperparah situasi. Tidak jarang, penderita dan keluarga lebih memilih pengobatan alternatif sebelum akhirnya beralih ke medis yang membuat kondisi sudah terlanjur memburuk.
Ashwin berpendapat, berbagai kendala ini harus diatasi dengan edukasi publik, pemerataan fasilitas kesehatan jiwa, hingga upaya menghilangkan stigma. Dengan begitu, penderita dapat memperoleh layanan kesehatan yang tepat waktu dan sesuai kebutuhan.
Perlu diingat, gangguan bipolar memang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, gejalanya dapat dikendalikan dengan pengobatan teratur. “Semakin jarang kambuh, maka akan makin baik kualitas hidup yang dapat dicapai,” katanya.
Ashwin mencotohkan, banyak penyintas bipolar yang tetap mampu berkarya, bekerja, bahkan berkontribusi besar dalam masyarakat asalkan mereka mendapatkan dukungan yang memadai.
Baca juga: Bukan Hanya Dewasa, Anak & Remaja Makin Berisiko Bipolar dan Skizofrenia
Angka tersebut menunjukkan bahwa di setiap lapisan masyarakat, selalu ada individu yang berusaha bertahan dengan fluktuasi suasana hati yang ekstrem.
Baca juga: Ketidakpatuhan Pengobatan Jadi Tantangan Penanganan Bipolar & Skizofrenia
Gangguan bipolar sendiri ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem dari fase manik ke fase depresi. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Pondok Indah Ashwin Kandouw, menjelaskan, gangguan bipolar merupakan gangguan mood atau suasana perasaan.
“‘Bi’ artinya dua dan ‘polar’ artinya kutub. Jadi penderita bipolar akan mengalami mood yang berubah-ubah secara ekstrim dari kutub manik ke kutub depresi dan juga sebaliknya,” katanya.
Ashwin menjelaskan, pada fase manik, seseorang bisa terlihat sangat produktif, penuh ide, hingga berani mengambil keputusan nekat. Namun, pada fase depresi, kondisi bisa berbalik tajam seperti kehilangan energi, kesulitan konsentrasi, hingga muncul rasa tidak berharga. Fluktuasi inilah yang membuat penderita sering kali kesulitan menjaga stabilitas hidup sehari-hari.
Gangguan bipolar sendiri bersifat kronis dan kambuhan. Gejala dapat reda dalam periode tertentu, tetapi ada kemungkinan muncul kembali dengan intensitas lebih berat. Setiap kali kambuh, risiko kerusakan sel otak meningkat, dan kerusakan ini tidak dapat diperbaiki. Karena itu, deteksi dini dan pengobatan yang tepat menjadi kunci utama.
Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk tidak menunda konsultasi dan terapi jika menyadari adanya gangguan bipolar, karena memerlukan penanganan medis secara tepat dan cepat untuk mencegah perburukan penyakit pada pasien.
Penanganan tidak cukup hanya dengan obat-obatan. Dukungan keluarga sangat penting agar pasien konsisten menjalani terapi. Pemerintah juga diharapkan berperan, mulai dari penyediaan skema pembiayaan berkesinambungan, distribusi obat, hingga penciptaan lapangan kerja yang ramah bagi penyintas bipolar.
Menurut Ashwin, saat ini, akses terhadap layanan kesehatan jiwa masih menghadapi banyak hambatan. Sebagian masyarakat masih menganggap gangguan mental sebagai aib. Stigma ini membuat penderita enggan mencari pertolongan profesional. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas dan tenaga psikiater di daerah-daerah juga memperparah situasi. Tidak jarang, penderita dan keluarga lebih memilih pengobatan alternatif sebelum akhirnya beralih ke medis yang membuat kondisi sudah terlanjur memburuk.
Ashwin berpendapat, berbagai kendala ini harus diatasi dengan edukasi publik, pemerataan fasilitas kesehatan jiwa, hingga upaya menghilangkan stigma. Dengan begitu, penderita dapat memperoleh layanan kesehatan yang tepat waktu dan sesuai kebutuhan.
Perlu diingat, gangguan bipolar memang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, gejalanya dapat dikendalikan dengan pengobatan teratur. “Semakin jarang kambuh, maka akan makin baik kualitas hidup yang dapat dicapai,” katanya.
Ashwin mencotohkan, banyak penyintas bipolar yang tetap mampu berkarya, bekerja, bahkan berkontribusi besar dalam masyarakat asalkan mereka mendapatkan dukungan yang memadai.
Baca juga: Bukan Hanya Dewasa, Anak & Remaja Makin Berisiko Bipolar dan Skizofrenia
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.