Ilustrasi permainan teka-teki silang. (Sumber gambar: Pexels/SHVETS production)

Benarkah Bermain Teka-teki Silang Dapat Melatih Ketajaman Pikiran? Begini Penjelasannya

03 September 2025   |   21:19 WIB
Image
Aisyah Putri Maulidina Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Pertambahan usia dan paparan teknologi tidak jarang berdampak terhadap ketajaman pikiran seseorang. Melansir Health, beberapa permainan otak telah menjadi cara populer untuk mengatasi hal tersebut, seperti permainan teka-teki silang harian, buku teka-teki sudoku, atau program pelatihan otak virtual. 

Berbagai permainan tersebut sering dipromosikan dan diyakini dapat membantu menjaga keterampilan kognitif, yakni ingatan, pemecahan masalah, hingga kecepatan memproses informasi. Lalu, apakah benar cara tersebut efektif untuk melatih ketajaman pikiran seseorang?

Dikutip dari Health, sebuah penelitian menunjukkan bahwa setelah usia 40 tahun, volume otak dan berat manusia menurun sebesar 5% setiap dekade dan akan terus meningkat setelah usia semakin berlanjut sampai usia 70 tahun.

Baca juga: Mengenal Istilah Neurodivergent, Cara Kerja Otak yang Dianggap ‘Tidak Normal’
 
Namun, penyusutan ini tidak terjadi dengan seragam. Dalam otak bagian korteks prefrontal -are yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, perencanaan, dan pemikiran kompleks- cenderung akan menyusut lebih banyak daripada bagian otak lainnya. Akibatnya, orang yang sudah lanjut usia akan mengalami kesulitan kognitif, seperti melakukan beberapa tugas sekaligus, memperhatikan dan mengingat kata-kata dan nama.

Menurut seorang profesor psikologi di Binghamton University, Ian McDonough, masih meragukan efektivitas permainan otak seperti Tetris dalam mempertajam pikiran seseorang. Menurutnya, kemampuan seseorang dalam bermain permainan yang dianggap dapat melatih pikiran belum tentu berpengaruh terhadap kemampuan kognitifnya, seperti ketahanan ingatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Permainan otak dipercaya dapat melatih koneksi saraf, sama seperti berolahraga dapat membangun otot. Memang benar, bahwa kebiasaan anda bermain suatu permainan dapat meningkatkan kemahiran untuk memenangkan permainan, namun keterampilan itu belum tentu dapat benar-benar berperan dalam kehidupan nyata.

Meskipun masih diragukan, para ahli sepakat tidak ada alasan untuk meninggalkan permainan otak yang biasa anda mainkan, terutama jika anda menikmati permainan tersebut. Tetapi, jika memang tujuan utama bermain adalah untuk memperkuat fungsi kognitif, pilihlah jenis permainan tertentu yang lebih efektif daripada yang lain, yakni permainan yang memang terasa sulit dan menantang, namun tidak sampai membuat stres atau frustasi. 

Hal tersebut akan menciptakan plastisitas atau kemampuan otak untuk berubah dan menyesuaikan kemampuan terhadap perubahan-perubahan yang dihadapi. Maka dari itu, penting untuk memilih jenis permainan baru yang akan melibatkan bagian otak yang jarang digunakan. Menurut Profesor Ilmu Psikologi di Case Western Reserve University, belajar bermain permainan baru dapat sangat membantu daya ingat dan fleksibilitas kognitif.

Selain mengandalkan permainan otak, anda juga dapat melakukan beberapa gaya hidup sehat sebagai cara utama dalam mendukung ketajaman pikiran, misalnya dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur, makan makanan dengan gizi yang seimbang, tidur cukup minimal 7 jam setiap malam, serta bersosialisasi dengan teman dan keluarga.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Candra Darusman Ungkap Progres Penjurian AMI Awards 2025

BERIKUTNYA

Hypereport: Polemik Transparansi Proses Kolektif dan Distribusi Royalti Musik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga