Sastrawan-Seniman Berkumpul di TIM dalam Gerakan Seni Melawan Tirani
01 September 2025 |
18:30 WIB
Situasi Indonesia yang belakangan memanas memicu masyarakat sipil untuk menyuarakan ekspresi melalui bahasa seni. Refleksi ini terlihat dari kegiatan bertajuk Seni Lawan Tirani yang dihelat di halaman Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin, 1 September 2025.
Ratusan masyarakat sipil, baik seniman, sastrawan, hingga musisi berkumpul untuk menyuarakan pendapat mereka terkait situasi Indonesia. Ada yang berekspresi lewat mural, performance art, membacakan cerpen, hingga beragitasi untuk terus menjaga sesama warga di tengah situasi yang memanas.
Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi, mengatakan aksi ini merupakan bentuk solidaritas dari masyarakat untuk melawan tirani. Khususnya dalam melihat situasi Indonesia yang beberapa waktu terakhir semakin memanas imbas adanya demonstrasi yang merenggut sejumlah nyawa.
Baca Juga: Layanan Transjakarta Mulai Beroperasi Penuh pada Senin 1 September 2025
Bambang menjelaskan, seni merupakan bagian dari kehidupan manusia untuk dapat melangkah dan menyikapi realitas dengan jernih. Forum ini juga diharap tidak semakin memperkeruh suasana, karena seni justru memperhalus budi pekerti, lain halnya jika disusupi perusuh.
"Ini yang memicu kita semua untuk menggelar kegiatan hari ini yang dialamatkan sebagai bentuk refleksi. Jadi sama sekali tidak berhadapan dengan apa pun dan siapa pun, melainkan mengajak semua pihak untuk mempertanyakan kenapa ini terjadi?" katanya saat membuka acara.
Setali tiga uang, musisi Cholil Mahmud mengatakan seniman memiliki peran dalam masyarakat untuk mengkritisi demokrasi di Indonesia. Namun, jika melihat situasi belakangan dia juga mengkritisi abainya para seniman dalam mengawasi jalannya pemerintahan yang semakin ugal-ugalan.
Tak hanya itu, para seniman juga takut untuk mendekat pada para aktivis, bahkan enggan atau malu disebut SJW, meski ingin melihat Indonesia baik-baik saja. "Hal itu tidak akan pernah terjadi, sebab demokrasi tidak berjalan seperti itu, ia membutuhkan respon dan keterlibatan masyarakat setiap hari," katanya.
Dalam pantauan Hypeabis.id, sejak pukul 14.00 WIB ratusan masyarakat sipil terus memadati pelataran Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Para seniman, budayawan, aktivis, dan pekerja kreatif lain saling bergiliran menyuarakan aspirasi mereka pasca demonstrasi 28–31 Agustus 2025 di Tanah Air.
Sejumlah seniman, musisi, aktivis, dan pekerja kreatif lain yang terlihat di antaranya Irawan Karseno, Fikar W. Eda, Cholil Mahmud, Kunto Aji, Reda Gaudiamo, Dea Anugerah, Eka Annash, Ayu Utami, Bivthri Susanti, dan masih banyak lagi.
Mereka mengajak untuk saling menjaga satu sama lain, terutama setelah pecahnya tragedi di sejumlah daerah yang menewaskan banyak masyarakat sipil. Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya sudah terdapat tujuh korban meninggal imbas demonstrasi.
Ketujuh korban tersebut adalah Affan Kurniawan (Jakarta), Muh Akbar Basri (Makassar), Sarina Wati (Makassar), Saiful Akbar (Makassar), Rusdam Diansyah (Makassar), Sumari (Solo), dan Rheza Sendy Pratama (Yogyakarta).
Diketahui, aksi demonstrasi yang berlangsung di Jakarta dan sejumlah kota besar pada akhir Agustus 2025 berujung pada kerusuhan, dan penjarahan rumah beberapa pejabat publik. Peristiwa ini dipicu oleh kemarahan publik atas kenaikan tunjangan anggota DPR serta isu ketidakadilan ekonomi yang memanas sejak pertengahan bulan.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa gelombang aksi demonstrasi yang belakangan terjadi tidak boleh lagi bergeser menjadi tindakan anarkis. Menurutnya, sejumlah kejadian bahkan sudah mengarah pada upaya makar dan terorisme, sehingga aparat diminta bertindak tegas.
“Sekali lagi, aspirasi murni yang disampaikan rakyat harus dihormati. Hak berkumpul dan berekspresi secara damai tetap dijamin konstitusi. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada gejala tindakan melawan hukum; bahkan ada yang mengarah pada makar dan terorisme,” katanya.
Baca Juga: Ini Alasan Aksi Demonstrasi Seharusnya Tidak Merusak Fasilitas Transportasi Umum
Ratusan masyarakat sipil, baik seniman, sastrawan, hingga musisi berkumpul untuk menyuarakan pendapat mereka terkait situasi Indonesia. Ada yang berekspresi lewat mural, performance art, membacakan cerpen, hingga beragitasi untuk terus menjaga sesama warga di tengah situasi yang memanas.
Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi, mengatakan aksi ini merupakan bentuk solidaritas dari masyarakat untuk melawan tirani. Khususnya dalam melihat situasi Indonesia yang beberapa waktu terakhir semakin memanas imbas adanya demonstrasi yang merenggut sejumlah nyawa.
Baca Juga: Layanan Transjakarta Mulai Beroperasi Penuh pada Senin 1 September 2025
Bambang menjelaskan, seni merupakan bagian dari kehidupan manusia untuk dapat melangkah dan menyikapi realitas dengan jernih. Forum ini juga diharap tidak semakin memperkeruh suasana, karena seni justru memperhalus budi pekerti, lain halnya jika disusupi perusuh.
"Ini yang memicu kita semua untuk menggelar kegiatan hari ini yang dialamatkan sebagai bentuk refleksi. Jadi sama sekali tidak berhadapan dengan apa pun dan siapa pun, melainkan mengajak semua pihak untuk mempertanyakan kenapa ini terjadi?" katanya saat membuka acara.
Setali tiga uang, musisi Cholil Mahmud mengatakan seniman memiliki peran dalam masyarakat untuk mengkritisi demokrasi di Indonesia. Namun, jika melihat situasi belakangan dia juga mengkritisi abainya para seniman dalam mengawasi jalannya pemerintahan yang semakin ugal-ugalan.
Tak hanya itu, para seniman juga takut untuk mendekat pada para aktivis, bahkan enggan atau malu disebut SJW, meski ingin melihat Indonesia baik-baik saja. "Hal itu tidak akan pernah terjadi, sebab demokrasi tidak berjalan seperti itu, ia membutuhkan respon dan keterlibatan masyarakat setiap hari," katanya.
Dalam pantauan Hypeabis.id, sejak pukul 14.00 WIB ratusan masyarakat sipil terus memadati pelataran Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Para seniman, budayawan, aktivis, dan pekerja kreatif lain saling bergiliran menyuarakan aspirasi mereka pasca demonstrasi 28–31 Agustus 2025 di Tanah Air.
Sejumlah seniman, musisi, aktivis, dan pekerja kreatif lain yang terlihat di antaranya Irawan Karseno, Fikar W. Eda, Cholil Mahmud, Kunto Aji, Reda Gaudiamo, Dea Anugerah, Eka Annash, Ayu Utami, Bivthri Susanti, dan masih banyak lagi.
Mereka mengajak untuk saling menjaga satu sama lain, terutama setelah pecahnya tragedi di sejumlah daerah yang menewaskan banyak masyarakat sipil. Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya sudah terdapat tujuh korban meninggal imbas demonstrasi.
Ketujuh korban tersebut adalah Affan Kurniawan (Jakarta), Muh Akbar Basri (Makassar), Sarina Wati (Makassar), Saiful Akbar (Makassar), Rusdam Diansyah (Makassar), Sumari (Solo), dan Rheza Sendy Pratama (Yogyakarta).
Diketahui, aksi demonstrasi yang berlangsung di Jakarta dan sejumlah kota besar pada akhir Agustus 2025 berujung pada kerusuhan, dan penjarahan rumah beberapa pejabat publik. Peristiwa ini dipicu oleh kemarahan publik atas kenaikan tunjangan anggota DPR serta isu ketidakadilan ekonomi yang memanas sejak pertengahan bulan.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa gelombang aksi demonstrasi yang belakangan terjadi tidak boleh lagi bergeser menjadi tindakan anarkis. Menurutnya, sejumlah kejadian bahkan sudah mengarah pada upaya makar dan terorisme, sehingga aparat diminta bertindak tegas.
“Sekali lagi, aspirasi murni yang disampaikan rakyat harus dihormati. Hak berkumpul dan berekspresi secara damai tetap dijamin konstitusi. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada gejala tindakan melawan hukum; bahkan ada yang mengarah pada makar dan terorisme,” katanya.
Baca Juga: Ini Alasan Aksi Demonstrasi Seharusnya Tidak Merusak Fasilitas Transportasi Umum
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.