(ki-ka) Reza Rahadian, Happy Salma, Sajani Arifin, Chelsea Islan, Andrew Trigg (Sumber gambar: Titimangsa)

Pentas Bunga Penutup Abad Hadirkan Warna Berbeda, Apa Saja Pembaharuannya?

31 August 2025   |   11:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Setelah sukses diselenggarakan pada 2016, 2017 dan 2018, pementasan teater Bunga Penutup Abad produksi Titimangsa bakal kembali digelar menyapa para pecinta sastra dan teater Tanah Air. Namun, tak sekadar dipentaskan ulang, pertunjukan ini juga akan menawarkan warna berbeda dengan berbagai pembaharuan.

Sutradara Wawan Sofwan menjelaskan bahwa pementasan Bunga Penutup Abad kali ini hadir dengan sejumlah pembaruan dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Dari sisi naskah, cerita akan mengalami penyesuaian dan pemadatan agar lebih ringkas, tetapi tetap menghadirkan kedalaman.

Salah satu elemen baru yang ditambahkan adalah penekanan pada trauma psikologis yang dialami Annelies. Adegan yang menampilkan kerentanannya dihadirkan untuk menggali sisi manusiawi sekaligus membangun empati lebih kuat dari penonton.

Baca Juga: Cerita Chelsea Islan Saat Mendalami Karakter Annelies di Pentas Bunga Penutup Abad

"Ketika kembali menerima tugas sebagai sutradara, saya punya satu tawaran kepada produser, yaitu saya mau otak-atik lagi naskah untuk memperkuat struktur dramatiknya. Saya harap alih wahana ini akan menjadi pemantik bagi generasi muda untuk mengetahui apa itu Bunga Penutup Abad, diangkat dari novel apa, dan siapa pengarangnya," ucap Wawan.

Selain itu, aspek skenografi juga mendapat pembaharuan. Di pentas terbaru, dirinya akan menyajikan rotating stage atau panggung berputar. Ini adalah sistem serta teknik baru yang belum pernah digunakan dalam tiga pementasan terdahulu dan diharapkan memberikan pengalaman berbeda pada penonton nantinya.

"Aspek panggung ini saya coba sebagai tawaran baru sih. Harapannya bisa memperkaya dimensi visual pementasan sekaligus transisi antaradegan jadi lebih mulus," imbuhnya.

Wawan mengungkapkan bahwa komposisi pemeran Bunga Penutup Abad edisi terbaru ini berbeda dari pementasan sebelumnya. Tokoh Nyai Ontosoroh, yang pada 2018 dibawakan oleh Marsha Timothy, kini dipercayakan kepada Happy Salma.

Selain itu, peran Jean Marais yang sebelumnya dimainkan oleh Lukman Sardi akan diperankan oleh Andrew Trigg. Karakter May Marais pun mengalami pergantian, dengan Sajani Arifin yang kini menggantikan Sabiya Arifin di atas panggung.

Sementara itu, Happy Salma menambahkan Bunga Penutup Abad kembali hadir tahun ini karena banyak penonton teater dan penggemar Pramoedya Ananta Toer yang merindukan pentas tersebut. Kisah Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies dinilainya begitu membekas di hati banyak orang.

Di luar itu, menurutnya, semangat dan nilai dalam karya-karya Pram memang masih sangat relevan dengan situasi bangsa saat ini. Happy mengatakan membawanya kembali ke panggung menjadi bentuk perayaan sekaligus pengingat agar kita bisa terus menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air.

“Saya berharap pementasan ini menjadi pengingat untuk terus mengapresiasi karya sastra Indonesia dan meningkatkan daya literasi anak bangsa. Dengan menonton Bunga Penutup Abad, kita semakin menghargai dan berempati kepada sesama manusia, serta semakin mencintai tanah air ini, terlebih pada bulan peringatan kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia,” tutup Happy Salma.

Bunga Penutup Abad merupakan produksi ke-88 Titimangsa yang diadaptasi dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Pementasan yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation akan digelar pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. 

Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh kala itu khawatir mengenai keberadaan Annelies sehingga mengutus pegawainya, yaitu Robert Jan Dapperste atau Panji Darman, untuk menemani ke mana pun Annelies pergi. 

Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya terus dikabarkan melalui surat-surat oleh Panji Darman. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies. 

Minke selalu membacakan surat-surat itu kepada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat itu perlahan membuka pintu-pintu nostalgia antara mereka bertiga. Di penghujung cerita, Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. 

Meski dilanda kesedihan, Minke tetap pergi ke Batavia untuk melanjutkan sekolah menjadi dokter. Dalam perjalanan, dia membawa serta lukisan karya sahabatnya, Jean Marais. Lukisan potret Annelies itu diberi nama oleh Minke sebagai ‘Bunga Penutup Abad’.

Baca Juga: Rangga Riantiarno Pertahankan Tradisi Lagu dan Tari di Pentas Teater Koma Mencari Semar
 

SEBELUMNYA

Cerita Chelsea Islan Saat Mendalami Karakter Annelies di Pentas Bunga Penutup Abad

BERIKUTNYA

Film Keadilan: The Verdict Tandai Kolaborasi Reza Rahadian & Rio Dewanto Setelah 12 Tahun

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga