Sutradara Joko Anwar Gandeng Produser Parasite, Siap Garap Ghost in The Cell
20 August 2025 |
19:50 WIB
Rumah produksi Come and See Pictures milik sineas Joko Anwar resmi menjalin kerja sama eksklusif dengan Barunson E&A, studio Korea di balik film peraih Oscar Parasite. Kolaborasi ini akan berlangsung selama dua tahun dan mencakup sejumlah proyek, termasuk film horor terbaru bertajuk Ghost in The Cell.
Sebagai maestro horor Indonesia, Joko Anwar sudah dikenal luas lewat karya-karya sebelumnya. Film Pengabdi Setan (2017) sukses menembus pasar internasional hingga didistribusikan ke lebih dari 40 negara. Sementara itu, Perempuan Tanah Jahanam (2019) juga mendapat apresiasi tinggi setelah diputar di ajang bergengsi Sundance Film Festival 2020.
Baca juga: Daftar Pemain Ghost in the Cell, Film Horor Komedi Terbaru Joko Anwar yang Tayang 2026
Proyek perdana hasil kerja sama ini adalah Ghost in The Cell, yang akan disutradarai langsung oleh Joko Anwar. Film tersebut mengisahkan para narapidana dan sipir penjara yang terpaksa bersatu menghadapi kekuatan supranatural mematikan.
Film Ghost in The Cell akan menampilkan deretan aktor legendaris Indonesia, mulai dari Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, hingga Aming. Karya terbaru Joko Anwar ini dijadwalkan tayang perdana di Toronto International Film Festival, sebelum kemudian melanjutkan penayangan di Asian Contents & Film Market di Busan bulan depan.
Selain Ghost in The Cell, kerja sama eksklusif antara Come and See Pictures dan Barunson E&A juga mencakup proyek Legenda Kelam Malin Kundang. Film thriller psikologis ini diproduseri Joko Anwar, dengan sutradara Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat. Sebelumnya, Legenda Kelam Malin Kundang telah lebih dulu diambil alih Barunson E&A untuk dipasarkan di European Film Market pada Februari 2025.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis bagi Barunson E&A dalam memperluas jaringan dan pasar film di Asia Tenggara. Sementara bagi Joko Anwar, kerja sama tersebut memperkuat kiprahnya di industri film internasional.
Sejak debut penyutradaraan lewat Janji Joni pada 2005, Joko Anwar dikenal sebagai sineas yang produktif dan berani mengeksplorasi berbagai genre. Meski namanya kerap identik dengan horor, filmografinya menunjukkan keragaman, mulai dari drama, aksi, hingga superhero, yang menegaskan posisinya sebagai salah satu pembuat film paling berpengaruh di Indonesia.
Selain horor, Joko pernah meluncurkan Gundala, film superhero pertama Indonesia yang tayang perdana di Toronto International Film Festival. Tahun ini, dia juga merilis Pengepungan di Bukit Duri, sebuah film aksi yang mendapat respons positif dari publik.
Kerja sama Come and See Pictures dan Barunson E&A lahir dari visi bersama untuk melahirkan film-film berani yang siap mengambil risiko. Dalam wawancara dengan Variety, Joko menekankan pentingnya kolaborasi ini, sementara Barunson E&A akan menangani distribusi global seluruh karya Come and See Pictures.
Choi Yoonhe, CEO Barunson E&A, sebelumnya telah terlibat dalam distribusi Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam saat masih di CJ ENM, sehingga hubungan ini berangkat dari pengalaman panjang. Selain Ghost in The Cell, Barunson E&A juga terlibat dalam proyek Rangga & Cinta, musikal remake dari Ada Apa dengan Cinta? karya Riri Riza dan Mira Lesmana.
Studio Korea tersebut kini aktif memperluas jejaringnya dengan bekerja sama bersama rumah produksi Indonesia lain, termasuk Imajinari, Visinema, Base Entertainment, dan Rapi Films.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sebagai maestro horor Indonesia, Joko Anwar sudah dikenal luas lewat karya-karya sebelumnya. Film Pengabdi Setan (2017) sukses menembus pasar internasional hingga didistribusikan ke lebih dari 40 negara. Sementara itu, Perempuan Tanah Jahanam (2019) juga mendapat apresiasi tinggi setelah diputar di ajang bergengsi Sundance Film Festival 2020.
Baca juga: Daftar Pemain Ghost in the Cell, Film Horor Komedi Terbaru Joko Anwar yang Tayang 2026
Proyek perdana hasil kerja sama ini adalah Ghost in The Cell, yang akan disutradarai langsung oleh Joko Anwar. Film tersebut mengisahkan para narapidana dan sipir penjara yang terpaksa bersatu menghadapi kekuatan supranatural mematikan.
Film Ghost in The Cell akan menampilkan deretan aktor legendaris Indonesia, mulai dari Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, hingga Aming. Karya terbaru Joko Anwar ini dijadwalkan tayang perdana di Toronto International Film Festival, sebelum kemudian melanjutkan penayangan di Asian Contents & Film Market di Busan bulan depan.
Selain Ghost in The Cell, kerja sama eksklusif antara Come and See Pictures dan Barunson E&A juga mencakup proyek Legenda Kelam Malin Kundang. Film thriller psikologis ini diproduseri Joko Anwar, dengan sutradara Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat. Sebelumnya, Legenda Kelam Malin Kundang telah lebih dulu diambil alih Barunson E&A untuk dipasarkan di European Film Market pada Februari 2025.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis bagi Barunson E&A dalam memperluas jaringan dan pasar film di Asia Tenggara. Sementara bagi Joko Anwar, kerja sama tersebut memperkuat kiprahnya di industri film internasional.
Sejak debut penyutradaraan lewat Janji Joni pada 2005, Joko Anwar dikenal sebagai sineas yang produktif dan berani mengeksplorasi berbagai genre. Meski namanya kerap identik dengan horor, filmografinya menunjukkan keragaman, mulai dari drama, aksi, hingga superhero, yang menegaskan posisinya sebagai salah satu pembuat film paling berpengaruh di Indonesia.
Selain horor, Joko pernah meluncurkan Gundala, film superhero pertama Indonesia yang tayang perdana di Toronto International Film Festival. Tahun ini, dia juga merilis Pengepungan di Bukit Duri, sebuah film aksi yang mendapat respons positif dari publik.
Kerja sama Come and See Pictures dan Barunson E&A lahir dari visi bersama untuk melahirkan film-film berani yang siap mengambil risiko. Dalam wawancara dengan Variety, Joko menekankan pentingnya kolaborasi ini, sementara Barunson E&A akan menangani distribusi global seluruh karya Come and See Pictures.
Choi Yoonhe, CEO Barunson E&A, sebelumnya telah terlibat dalam distribusi Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam saat masih di CJ ENM, sehingga hubungan ini berangkat dari pengalaman panjang. Selain Ghost in The Cell, Barunson E&A juga terlibat dalam proyek Rangga & Cinta, musikal remake dari Ada Apa dengan Cinta? karya Riri Riza dan Mira Lesmana.
Studio Korea tersebut kini aktif memperluas jejaringnya dengan bekerja sama bersama rumah produksi Indonesia lain, termasuk Imajinari, Visinema, Base Entertainment, dan Rapi Films.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.