Hadapi Beban Penyakit Tidak Menular, Indonesia Perluas Akses Cathlab ke 38 Provinsi
12 August 2025 |
08:00 WIB
Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Selain itu, juga merupakan negara kepulauan yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau. Dengan banyaknya penduduk yang tersebar di ribuan pulau, tantangan utama yang dihadapi adalah akses layanan kesehatan yang belum merata.
Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh World Economic Forum, Indonesia menghadapi potensi kerugian total sebesar 4,47 triliun dolar AS dari 2012 sampai 2030 yang disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM), termasuk penyakit jantung, kanker, penyakit pernapasan kronis, diabetes, dan kondisi kesehatan mental.
Baca juga: Waspada Penyakit Tidak Menular, Penyebab Tertinggi Kematian di Indonesia
M. Subuh selaku ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) memaparkan bahwa sejak kecil, masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi makanan dengan kadar garam, gula, dan lemak (GGL) yang tinggi.
"Hal ini tentu menjadi masalah besar. Selama kita tidak melakukan intervensi terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak, maka penurunan kasus hipertensi, penyakit jantung koroner, dan diabetes mellitus sulit tercapai,” ujar Subuh, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Senin (11/8/2025).
Sejalan dengan itu, Asnawi Abdullah selaku Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), mengatakan bahwa beban PTM terus meningkat dan menjadi tantangan utama dalam sistem kesehatan nasional.
“Berdasarkan hasil dari berbagai kajian, PTM telah berkontribusi hampir 75 persen dari total angka kematian di Indonesia," ujar Asnawi.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa konsumsi garam orang Indonesia rata-rata meningkat hingga 11 gram per hari, angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari rekomendasi WHO. Selain itu, paparan lemak trans masih tinggi dalam berbagai produk pangan.
Adapun Cathlab atau Catheterization Laboratory adalah ruang medis khusus di rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan canggih untuk melakukan prosedur penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah. Dalam fasilitas tersebut, dokter akan melakukan tindakan dengan cara minimal invasif, artinya tanpa membuat sayatan besar pada tubuh.
Inisiatif ini merupakan bagian dari perjanjian dalam proyek Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN), yang bertujuan memperkuat jaringan pelayanan kesehatan rujukan di Indonesia.
Kerja sama ini meliputi penyediaan teknologi perawatan terkini, layanan pemeliharaan alat, serta pelatihan guna memperkuat infrastruktur kesehatan di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan prosedur penanganan tiga penyakit penyebab kematian utama di Indonesia, yakni jantung, stroke, dan kanker.
Fasilitas Cathlab akan hadir di seluruh Indonesia, tersebar di ratusan rumah sakit pada 38 Provinsi mulai dari Aceh hingga Papua yang disesuaikan dengan infrastruktur rumah sakit dan kebutuhan populasi pasien di masing-masing daerah. Dengan begitu, masrayakat lebih mudah mengakses layanan kesehatan berteknologi tinggi, misalnya teknik bedah minimal invasif.
Mengutip Mayo Clinic, Minimally Invasive Surgery adalah teknik bedah yang dilakukan melalui lubang kecil (sayatan kecil) biasanya seukuran kunci pintu atau kurang dari setengah inci sekitar 1-2 cm. Melalui sayatan tersebut, dokter memasukkan alat khusus seperti kamera, tabung, dan instrumen bedah kecil untuk melihat dan melakukan tindakan di dalam tubuh pasien.
Tipe bedah ini mencakup berbagai metode seperti laparoskopi (perut), arthroskopi (sendi), bronkoskopi (paru-paru), histeroskopi (rahim), serta operasi dengan bantuan robot.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Minimally Invasive Surgery menunjukkan bahwa teknik bedah minimal invasif secara signifikan mengurangi nyeri pascaoperasi, mempercepat waktu pemulihan, dan memperpendek lama rawat inap jika dibandingkan dengan operasi terbuka konvensional.
Roy Jakobs, CEO Royal Philips, menegaskan bahwa teknologi Cathlab memungkinkan pasien di Indonesia mendapatkan prosedur penyelamatan nyawa dengan metode minimal invasif. “Ini berarti pasien di Indonesia kini dapat memperoleh prosedur penyelamatan nyawa. Untuk mengurangi beban pada sistem kesehatan, termasuk di Indonesia, dibutuhkan inovasi terbaik dalam infrastruktur dan layanan kesehatan,” ujarnya.
Perawatan minimal invasif sendiri menggunakan sayatan kecil seukuran ujung pensil, sehingga pasien dapat dirawat lebih singkat, mengalami komplikasi yang lebih sedikit, dan pulih lebih cepat. Cathlab diharapkan menjadi langkah besar dalam menangani penyakit tidak menular seperti serangan jantung, stroke, hingga tumor kanker.
Astri R. Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi kesehatan di Indonesia. “Upaya bersama kami dengan pemerintah Indonesia bertujuan untuk menjembatani kesenjangan layanan kesehatan dan membawa kita selangkah lebih dekat menuju Indonesia Sehat,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh World Economic Forum, Indonesia menghadapi potensi kerugian total sebesar 4,47 triliun dolar AS dari 2012 sampai 2030 yang disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM), termasuk penyakit jantung, kanker, penyakit pernapasan kronis, diabetes, dan kondisi kesehatan mental.
Baca juga: Waspada Penyakit Tidak Menular, Penyebab Tertinggi Kematian di Indonesia
M. Subuh selaku ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) memaparkan bahwa sejak kecil, masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi makanan dengan kadar garam, gula, dan lemak (GGL) yang tinggi.
"Hal ini tentu menjadi masalah besar. Selama kita tidak melakukan intervensi terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak, maka penurunan kasus hipertensi, penyakit jantung koroner, dan diabetes mellitus sulit tercapai,” ujar Subuh, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Senin (11/8/2025).
Sejalan dengan itu, Asnawi Abdullah selaku Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), mengatakan bahwa beban PTM terus meningkat dan menjadi tantangan utama dalam sistem kesehatan nasional.
“Berdasarkan hasil dari berbagai kajian, PTM telah berkontribusi hampir 75 persen dari total angka kematian di Indonesia," ujar Asnawi.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa konsumsi garam orang Indonesia rata-rata meningkat hingga 11 gram per hari, angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari rekomendasi WHO. Selain itu, paparan lemak trans masih tinggi dalam berbagai produk pangan.
Upaya Meningkatkan Akses Layanan Kesehatan
Sebagai upaya meningkatkan akses layanan kesehatan yang merarta, Royal Philips, perusahaan teknologi kesehatan global bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI untuk menerapkan teknologi Cathlab canggih di berbagai daerah.Adapun Cathlab atau Catheterization Laboratory adalah ruang medis khusus di rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan canggih untuk melakukan prosedur penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah. Dalam fasilitas tersebut, dokter akan melakukan tindakan dengan cara minimal invasif, artinya tanpa membuat sayatan besar pada tubuh.
Inisiatif ini merupakan bagian dari perjanjian dalam proyek Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN), yang bertujuan memperkuat jaringan pelayanan kesehatan rujukan di Indonesia.
Kerja sama ini meliputi penyediaan teknologi perawatan terkini, layanan pemeliharaan alat, serta pelatihan guna memperkuat infrastruktur kesehatan di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan prosedur penanganan tiga penyakit penyebab kematian utama di Indonesia, yakni jantung, stroke, dan kanker.
Fasilitas Cathlab akan hadir di seluruh Indonesia, tersebar di ratusan rumah sakit pada 38 Provinsi mulai dari Aceh hingga Papua yang disesuaikan dengan infrastruktur rumah sakit dan kebutuhan populasi pasien di masing-masing daerah. Dengan begitu, masrayakat lebih mudah mengakses layanan kesehatan berteknologi tinggi, misalnya teknik bedah minimal invasif.
Mengutip Mayo Clinic, Minimally Invasive Surgery adalah teknik bedah yang dilakukan melalui lubang kecil (sayatan kecil) biasanya seukuran kunci pintu atau kurang dari setengah inci sekitar 1-2 cm. Melalui sayatan tersebut, dokter memasukkan alat khusus seperti kamera, tabung, dan instrumen bedah kecil untuk melihat dan melakukan tindakan di dalam tubuh pasien.
Tipe bedah ini mencakup berbagai metode seperti laparoskopi (perut), arthroskopi (sendi), bronkoskopi (paru-paru), histeroskopi (rahim), serta operasi dengan bantuan robot.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Minimally Invasive Surgery menunjukkan bahwa teknik bedah minimal invasif secara signifikan mengurangi nyeri pascaoperasi, mempercepat waktu pemulihan, dan memperpendek lama rawat inap jika dibandingkan dengan operasi terbuka konvensional.
Roy Jakobs, CEO Royal Philips, menegaskan bahwa teknologi Cathlab memungkinkan pasien di Indonesia mendapatkan prosedur penyelamatan nyawa dengan metode minimal invasif. “Ini berarti pasien di Indonesia kini dapat memperoleh prosedur penyelamatan nyawa. Untuk mengurangi beban pada sistem kesehatan, termasuk di Indonesia, dibutuhkan inovasi terbaik dalam infrastruktur dan layanan kesehatan,” ujarnya.
Perawatan minimal invasif sendiri menggunakan sayatan kecil seukuran ujung pensil, sehingga pasien dapat dirawat lebih singkat, mengalami komplikasi yang lebih sedikit, dan pulih lebih cepat. Cathlab diharapkan menjadi langkah besar dalam menangani penyakit tidak menular seperti serangan jantung, stroke, hingga tumor kanker.
Astri R. Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi kesehatan di Indonesia. “Upaya bersama kami dengan pemerintah Indonesia bertujuan untuk menjembatani kesenjangan layanan kesehatan dan membawa kita selangkah lebih dekat menuju Indonesia Sehat,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.