Anomali Tung Tung Tung Sahur. (Sumber gambar: TikTok/Noxa)

Dampak Meme Anomali, Bikin Anak Sulit Hadapi Realita

31 July 2025   |   23:26 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Fenomena meme anomali yang viral di media sosial seperti Tung Tung Tung Sahur, Ballerina Cappuccina, Tralalero Tralala cukup meresahkan para orang tua. Pasalnya, tren meme yang menampilkan karakter-karakter absurd dan nyeleneh buatan AI ini mempengaruhi cara pandang mereka terhadap suatu benda serta makhluk hidup. 

Dan beberapa waktu lalu, viral di media sosial seorang ibu yang merekam anaknya tiba-tiba keluar tengah malam. Sang anak mengatakan sedang diajak bermain oleh anomali.

Baca juga: Asal-usul Karakter Tung Tung Tung Sahur yang Kini Lagi Viral

Terkait hal ini, Psikolog Anak Ikhsan Bella Persada mengatakan sejatinya di usia anak-anak, mereka sedang mengembangkan kemampuan imajinasi. Namun bila anak terus menerus terpapar konten anomali yang tidak mengandung makna tertentu, maka dampaknya bisa ke perkembangan anak dan kondisi kesehatan mentalnya. 

Dikhawatirkan, paparan yang intensif ini akhirnya bisa mengganggu fokus anak dan membuat anak cenderung lebih sering berimajinasi. “Padahal dalam kondisi mereka ini pun perlu belajar kemampuan berpikir secara konkret yang berguna untuk memecahkan masalah di realitas,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Kamis (31/7/2025). 

Menurunya wajar jika anak mengembangkan teman khayalan. Akan tetapi, jika dia sudah beranjak pada usia sekolah dan pemikirannya masih cenderung dominan hal-hal imajinatif yang tidak bermakna seperti konten anomali, maka hal ini sudah perlu diwaspadai. 

Adapun paparan anomali dalam jangka panjang dapat memengaruhi fokus karena anak cenderung teralihkan dengan imajinasi yang dimilikinya. Di sisi lain konten anomali ini cenderung untuk seru dan menghibur, sehingga dikhawatirkan ketika anak berhadapan dengan realita atau tugas belajar tugasnya dan dia mengalami kesulitan dalam menghadapinya, maka dia akan mencari hal-hal yang bisa menghiburnya. 

“Jika dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin berdampak pada anak cenderung lebih mudah menyerah pada hal realita dan lebih senang pada hal tanpa makna atau hanya sekedar kesenangan saja,” tutur Ikhsan.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua melakukan pencegahan dini terhadap paparan konten anomali. Orang tua perlu memonitoring konten yang anak-anak saksikan. 

Ayah atau ibu bisa juga mendamping anak saat menonton konten-konten yang mereka tonton. Tujuannya adalah agar orang tua turut mengedukasi anak mana konten yang aman dan tidak untuk mereka konsumsi. 

Kendati demikian, ketika anak sudah terlanjur terpapar konten anomali dan berdampak negatif, seperti menunjukan perilaku emosional saat tidak diberikan lagi, Ikhsan menilai sangat dianjurkan untuk menghentikan pemberian konten tersebut ke anak. Kemudian, perbanyak aktivitas-aktivitas menarik dengan kegiatan fisik agar anak banyak terlatih pada hal-hal yang konkrit. 

Kemudian, ketika anak tantrum saat tidak diberikan nonton, orang tua tetap perlu ada didekatnya. ”Tetap jelaskan alasan kita untuk tidak memberikan tontonan itu dan ajak untuk melakukan hal yang lain,” tambah Ikhsan.

Baca juga: 7 Brainrot Anomali Viral, Ada Karya Kreator Indonesia

SEBELUMNYA

Cek Fakta Tentang Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2025

BERIKUTNYA

Sound Horeg Bisa Bikin Telinga Rusak Permanen, Begini Penjelasan Dokter

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga