Ramai Wastra sampai Ragam Bunga dalam Koleksi Desainer di JF3 2025
25 July 2025 |
18:34 WIB
Memasuki dekade ketiganya, Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) melangkah ke era baru lewat tema Recrafted: A New Vision. Dihelat pada 24-27 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading dan 30 Juli-2 Agustus di Summarecon Mall Serpong
Festival mode dan gaya hidup ini menegaskan kembali komitmennya pada kreativitas, keahlian, dan keberlanjutan, serta mendorong para desainer untuk menembus batas, berinovasi, dan bertransformasi tanpa meninggalkan akar tradisi.
Pada penyelenggaraan hari kedua, Jumat, 25 Juli 2025, APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) menggelar show bertajuk Re:nature. Menampilkan koleksi teranyar dari jenama Harry Hasibuan bertajuk Falling for The Bloom, Khayae berjudul HABITAT: Tropical Sanctuary dan Zet Collection berjudul Seribu Motif Lampung, serta Yuni Pohan dengan koleksi Warisan Utara.
Baca juga: Jakarta Fashion & Food Festival 2025 Bakal Hadirkan Koleksi Desainer Asia hingga Eropa
"Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya karena setiap tahunnya, sejak 21 lalu telah memberikan kesempatan berharga kepada para desainer APPMI untuk berpartisipasi dalam JF3," ujar Poppy Dharsono, dalam sambutannya, Jumat (25/7/2025).
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa JF3 telah berkembang menjadi salah satu tonggak penting dalam pembangunan industri fesyen di Jakarta, serta memberi ruang bagi desainer-desainer muda untuk tampil dan dikenal secara luas.
"Melalui ajang ini, kita tidak hanya merayakan kreativitas dan inovasi, tetapi juga membawa fesyen Indonesia ke panggung internasional," ungkapnya.
Runway JF3 dibuat melingkar, memungkinkan penonton melihat dengan jelas setiap detail busana yang ditampilkan. Dibuka dengan Zet Collection dengan koleksi busananya yang bertajuk Seribu Motif Lampung.
Model mengenakan atasan marun dengan detail tekstur renda dan aksen bros besar berbentuk burung keemasan di sisi dada. Bagian leher dihiasi dengan hiasan berbentuk bunga besar, menciptakan kesan dramatis dan elegan. Di luar atasan tersebut, dikenakan outer berbahan lace hitam yang memancarkan kilau, memberi sentuhan glamor namun tetap lembut.
Rok yang dikenakan memiliki potongan A-line sepanjang betis dengan motif wastra Nusantara yang kaya warna oranye, hitam, dan emas. Tekstur dan lapisan kain tampak terdiri dari panel-panel berpola geometris serta aksen renda marun yang selaras dengan warna atasan. Busana ini memadukan unsur modern dengan warisan budaya tradisional, menciptakan tampilan kontemporer yang kuat namun tetap berakar pada identitas lokal.
Khayae membawakan koleksi berjudul HABITAT: Tropical Sanctuary, dibuka dengan gaun panjang hitam bersiluet lurus dan elegan yang dikenakan gadis kecil menggemaskan. Materialnya menggunakan tulle bertekstur, dilapisi elemen 3D berupa bunga-bunga timbul yang menciptakan kesan mewah dan playful sekaligus.
Selanjutnya Yuni Pohan (YP) menampilkan koleksi berjudul Warisan Utara. Model mengenakan setelan bernuansa peach yang terdiri dari celana palazzo berpotongan lebar, bustier struktural, dan outer panjang berbahan flowy dengan lengan balon. Outer tersebut menjadi pusat perhatian dengan detail bordir etnik berwarna cerah di bagian lengan, yang menggunakan wastra Nusantara.
Bagian bustier diberi hiasan bros atau ornamen emas di bagian dada yang memberikan kesan glamor dan menegaskan siluet tubuh. Dipadukan dengan celana yang memberi kesan ringan berkat bahannya yang jatuh dan mengilap.
Peragaan busana APPMI ditutup dengan koleksi Hazebewear (HBW) by Harry Hasibuan bertajuk Falling for The Bloom. Sang desainer memaparkan, Falling for the Bloom adalah koleksi yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap bunga-bunga yang bermekaran.
"Semua orang pasti senang melihat bunga yang indah dan menyegarkan mata. Harapannya, siapa pun yang melihat dan mengenakan koleksi ini akan merasakan kesegaran yang sama lewat pilihan warna yang saya gunakan," katanya.
Koleksi Falling for The Bloom didominasi warna-warna cerah dan lembut seperti oranye, hijau, dan pink. Melalui karya busana terbarunya, Harry Hasibuan ingin menampilkan sesuatu yang segar, serta bisa dikenakan oleh semua kalangan dan usia.
Model mengenakan gaun panjang hijau mint berbahan tulle yang ringan dan mengembang, menciptakan siluet anggun yang melayang saat berjalan. Atasannya menarik perhatian dengan detail ruffle besar berbentuk bunga yang melingkari bahu dan dada, memberikan efek volume dan visual yang memukau. Ruffle tersebut membentuk garis leher off-shoulder yang elegan dan menciptakan kesan haute couture mewah.
Sebagai aksen, ditambahkan untai manik-manik hijau zamrud yang menjuntai dari bagian dada hingga ke pinggang. Sementara roknya menjuntai panjang hingga menyentuh lantai, dengan lapisan tulle bertingkat di bagian bawah yang memberikan efek dramatis namun tetap lembut.
Dilanjutkan dengan show Howard Laurent bertajuk Lustre yang terinspirasi dari kilau lembut dan kemilau gemerlap yang tercipta dari permainan cahaya pada material seperti mutiara, payet, atau hiasan mewah lainnya.
Perhelatan JF3 hari kedua ditutup dengan presentasi mode dari Adrie Basuki berjudul TRANSFORMA pada 20.00 WIB malam nanti. Koleksi busana tersebut dimaknai oleh sang desainer sebagai sebuah refleksi tentang perubahan bermakna yang terinspirasi dari kata Sanskerta, Samskara, yang menggambarkan proses transformasi, penyempurnaan, dan pembaruan.
Adapun JF3, sejak pertama kali diselenggarakan pada 2004, telah menjadi ruang penting bagi desainer lokal dan pengrajin tradisional untuk menampilkan keindahan wastra Nusantara dalam balutan gaya modern.
Festival mode dan gaya hidup ini akan menghadirkan lebih dari 45 desainer, serta jenama lokal dan mancanegara dari Eropa seperti Prancis dan Asia mencakup Korea Selatan dan negara-negara Asean (Vietnam, Laos, dan Thailand) yang akan menampilkan koleksi busana teranyarnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Festival mode dan gaya hidup ini menegaskan kembali komitmennya pada kreativitas, keahlian, dan keberlanjutan, serta mendorong para desainer untuk menembus batas, berinovasi, dan bertransformasi tanpa meninggalkan akar tradisi.
Pada penyelenggaraan hari kedua, Jumat, 25 Juli 2025, APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) menggelar show bertajuk Re:nature. Menampilkan koleksi teranyar dari jenama Harry Hasibuan bertajuk Falling for The Bloom, Khayae berjudul HABITAT: Tropical Sanctuary dan Zet Collection berjudul Seribu Motif Lampung, serta Yuni Pohan dengan koleksi Warisan Utara.
Baca juga: Jakarta Fashion & Food Festival 2025 Bakal Hadirkan Koleksi Desainer Asia hingga Eropa
"Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya karena setiap tahunnya, sejak 21 lalu telah memberikan kesempatan berharga kepada para desainer APPMI untuk berpartisipasi dalam JF3," ujar Poppy Dharsono, dalam sambutannya, Jumat (25/7/2025).
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa JF3 telah berkembang menjadi salah satu tonggak penting dalam pembangunan industri fesyen di Jakarta, serta memberi ruang bagi desainer-desainer muda untuk tampil dan dikenal secara luas.
"Melalui ajang ini, kita tidak hanya merayakan kreativitas dan inovasi, tetapi juga membawa fesyen Indonesia ke panggung internasional," ungkapnya.
Runway JF3 dibuat melingkar, memungkinkan penonton melihat dengan jelas setiap detail busana yang ditampilkan. Dibuka dengan Zet Collection dengan koleksi busananya yang bertajuk Seribu Motif Lampung.

Koleksi Zet Collection (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
Model mengenakan atasan marun dengan detail tekstur renda dan aksen bros besar berbentuk burung keemasan di sisi dada. Bagian leher dihiasi dengan hiasan berbentuk bunga besar, menciptakan kesan dramatis dan elegan. Di luar atasan tersebut, dikenakan outer berbahan lace hitam yang memancarkan kilau, memberi sentuhan glamor namun tetap lembut.
Rok yang dikenakan memiliki potongan A-line sepanjang betis dengan motif wastra Nusantara yang kaya warna oranye, hitam, dan emas. Tekstur dan lapisan kain tampak terdiri dari panel-panel berpola geometris serta aksen renda marun yang selaras dengan warna atasan. Busana ini memadukan unsur modern dengan warisan budaya tradisional, menciptakan tampilan kontemporer yang kuat namun tetap berakar pada identitas lokal.

Koleksi Khayae (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
Selanjutnya Yuni Pohan (YP) menampilkan koleksi berjudul Warisan Utara. Model mengenakan setelan bernuansa peach yang terdiri dari celana palazzo berpotongan lebar, bustier struktural, dan outer panjang berbahan flowy dengan lengan balon. Outer tersebut menjadi pusat perhatian dengan detail bordir etnik berwarna cerah di bagian lengan, yang menggunakan wastra Nusantara.

Koleksi Yuni Pohan (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
Bagian bustier diberi hiasan bros atau ornamen emas di bagian dada yang memberikan kesan glamor dan menegaskan siluet tubuh. Dipadukan dengan celana yang memberi kesan ringan berkat bahannya yang jatuh dan mengilap.
Peragaan busana APPMI ditutup dengan koleksi Hazebewear (HBW) by Harry Hasibuan bertajuk Falling for The Bloom. Sang desainer memaparkan, Falling for the Bloom adalah koleksi yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap bunga-bunga yang bermekaran.
"Semua orang pasti senang melihat bunga yang indah dan menyegarkan mata. Harapannya, siapa pun yang melihat dan mengenakan koleksi ini akan merasakan kesegaran yang sama lewat pilihan warna yang saya gunakan," katanya.
Koleksi Falling for The Bloom didominasi warna-warna cerah dan lembut seperti oranye, hijau, dan pink. Melalui karya busana terbarunya, Harry Hasibuan ingin menampilkan sesuatu yang segar, serta bisa dikenakan oleh semua kalangan dan usia.

Koleksi Hazebewear (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
Model mengenakan gaun panjang hijau mint berbahan tulle yang ringan dan mengembang, menciptakan siluet anggun yang melayang saat berjalan. Atasannya menarik perhatian dengan detail ruffle besar berbentuk bunga yang melingkari bahu dan dada, memberikan efek volume dan visual yang memukau. Ruffle tersebut membentuk garis leher off-shoulder yang elegan dan menciptakan kesan haute couture mewah.
Sebagai aksen, ditambahkan untai manik-manik hijau zamrud yang menjuntai dari bagian dada hingga ke pinggang. Sementara roknya menjuntai panjang hingga menyentuh lantai, dengan lapisan tulle bertingkat di bagian bawah yang memberikan efek dramatis namun tetap lembut.
Rangkaian Acara JF3 Hari Ke-2
Setelah melenggangkan karya-karya desainer APPMI, presentasi mode JF3 dilanjutkan dengan koleksi jenama Adith Official berjudul EUNOIA yang terinspirasi dari lanskap tropis Indonesia dan akar kerajinan lokal, setiap rancangan dirancang dengan perpaduan antara kemewahan modern dan warisan leluhur-sebuah refleksi dari keharmonisan antara masa lalu dan masa kini.Dilanjutkan dengan show Howard Laurent bertajuk Lustre yang terinspirasi dari kilau lembut dan kemilau gemerlap yang tercipta dari permainan cahaya pada material seperti mutiara, payet, atau hiasan mewah lainnya.
Perhelatan JF3 hari kedua ditutup dengan presentasi mode dari Adrie Basuki berjudul TRANSFORMA pada 20.00 WIB malam nanti. Koleksi busana tersebut dimaknai oleh sang desainer sebagai sebuah refleksi tentang perubahan bermakna yang terinspirasi dari kata Sanskerta, Samskara, yang menggambarkan proses transformasi, penyempurnaan, dan pembaruan.
Adapun JF3, sejak pertama kali diselenggarakan pada 2004, telah menjadi ruang penting bagi desainer lokal dan pengrajin tradisional untuk menampilkan keindahan wastra Nusantara dalam balutan gaya modern.
Festival mode dan gaya hidup ini akan menghadirkan lebih dari 45 desainer, serta jenama lokal dan mancanegara dari Eropa seperti Prancis dan Asia mencakup Korea Selatan dan negara-negara Asean (Vietnam, Laos, dan Thailand) yang akan menampilkan koleksi busana teranyarnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.