Anak-anak didampingi orang tua memilih mainan di salah satu lapak penjualan di Pasar Gembrong, Jakarta, Jumat (12/4/2024). (sumber gambar: Hypeabis.id/ Himawan L Nugraha)

Menilik Ceruk Bisnis Sewa Mainan: Tren Hemat & Fleksibel bagi Keluarga Urban

15 July 2025   |   09:22 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah biaya hidup yang kian tinggi, keluarga muda di kota-kota besar mulai memikirkan ulang cara memenuhi kebutuhan anak, termasuk soal mainan. Alih-alih membeli, banyak orang tua kini memilih menyewa mainan edukatif dengan durasi fleksibel.

Lebih hemat, efisien, dan cocok untuk ruang tinggal yang terbatas—itulah alasan mengapa tren sewa mainan makin diminati. Tak hanya soal ruang, layanan sewa juga menjawab kebutuhan tumbuh kembang anak yang terus berubah.

Dengan menyewa, orang tua bisa menyesuaikan jenis mainan dengan tahap perkembangan anak tanpa harus membeli baru setiap beberapa minggu. Tak heran jika bisnis ini menjamur di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Bandung.

Baca juga: Tren Kewirausahaan Terus Meningkat Seiring Sulitnya Mencari Kerja

Harga mainan edukatif bukan angka kecil. Dalam masa pertumbuhan yang cepat, mainan sering hanya digunakan sebentar sebelum anak bosan atau tertarik pada hal lain. Hal ini membuat skema sewa jadi pilihan masuk akal secara finansial.

“Istilah ‘lebih baik menyewa daripada membeli’ itu benar sekali. Selain lebih ekonomis, anak-anak juga cepat bosan dengan mainan. Biasanya, mereka hanya antusias dua sampai empat minggu,” kata Lidya Susanti, pemilik Emily Toys Rental, penyedia jasa sewa mainan yang berbasis di Jakarta.

Beberapa mainan edukatif, seperti Lego Bouncy, bisa dihargai mulai dari Rp500.000 hingga Rp5 juta. Mainan Montessori atau sensory play juga populer, dengan harga berkisar Rp1 juta hingga Rp4 juta per unit. Padahal, semua mainan ini jarang bertahan lama di genggaman anak—kebanyakan hanya terpakai sebentar sebelum disimpan.

Inilah yang kemudian dibaca para pelaku usaha sebagai peluang. Sistem sewa memungkinkan orang tua mengakses koleksi mainan berkualitas tanpa harus membeli. Rata-rata, anak-anak mulai kehilangan minat pada mainan lama dalam waktu satu hingga dua bulan. Karenanya, bisnis ini terus memperbarui koleksi sesuai tahap usia dan tren terbaru.
 

Anak-anak didampingi orang tua memilih mainan di salah satu lapak penjualan di Pasar Gembrong, Jakarta, Jumat (12/4/2024).

Anak-anak didampingi orang tua memilih mainan di salah satu lapak penjualan di Pasar Gembrong, Jakarta, Jumat (12/4/2024). (sumber gambar: Hypeabis.id/ Himawan L Nugraha)


Lidya bercerita, bisnisnya berawal dari kecintaan pada dunia anak. “Awalnya karena hobi. Saya dan suami memang suka mainan anak-anak. Tapi lama-lama kami sadar, ada pasar yang besar di sini,” katanya.

Didirikan pada 2018, Emily Toys Rental kini dikenal sebagai salah satu pemain utama di Jabodetabek. Pelanggannya beragam, mulai dari orang tua individu, perusahaan, hingga event organizer untuk pesta anak. Dalam sebulan, Lidya menyewakan hingga 300 unit mainan dengan jangkauan ke Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Mainan yang ditawarkan kebanyakan berasal dari merek internasional, dikategorikan sesuai usia anak, dan punya fungsi stimulasi yang jelas. Pelanggan biasanya diminta membayar deposit, lalu memilih mainan Montessori, sensory play, ride-on, atau wahana indoor. “Setiap mainan punya target usia dan fungsi stimulasi berbeda, disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang,” jelas Lidya.

Menurutnya, masa keemasan bisnis ini terjadi saat pandemi Covid-19, ketika kebutuhan aktivitas di rumah melonjak drastis. Namun, kini permintaan cenderung seimbang antara mainan rumahan dan kebutuhan event.

Yang menarik, pasar sewa mainan sebenarnya tidak berhenti di satu fase saja. Dari newborn, toddler, hingga kids, kebutuhan mainan akan selalu berubah seiring bertambahnya usia anak. Artinya, peluang pasar pun terus terbuka.

Hal senada disampaikan Ririn, pengelola Ryuga Toys Rental di Jakarta Barat. Dia mengakui bisnis penyewaan mainan memang menjanjikan, meski belakangan pasar agak lesu. “Trennya memang sedang turun. Untuk sekarang, kami hanya melayani penjualan online,” ujar Ririn melalui pesan tertulis.

Meski begitu, baik Lidya maupun Ririn sepakat bahwa peluang tetap ada, apalagi jika ditunjang pemasaran digital dan edukasi orang tua tentang manfaat sewa mainan. Di tengah mahalnya biaya hidup, sewa mainan bukan hanya soal menghemat, tetapi juga cara bijak merawat fase tumbuh kembang anak dengan lebih fleksibel.


Jembatan Komunikasi

Di balik tren sewa mainan yang kian diminati, para ahli mengingatkan bahwa esensi bermain sebetulnya bukan terletak pada jumlah atau mahalnya mainan, melainkan proses bermain itu sendiri. 

Psikolog Klinis Rolla Apnoza menjelaskan, tugas utama seorang anak memang bermain. Lewat aktivitas inilah otak anak teraktivasi dan berbagai aspek tumbuh kembang—motorik, emosi, hingga kemampuan sosial—bisa distimulasi.

Alih-alih sibuk menyediakan banyak mainan, Rolla menekankan pentingnya peran orang tua dalam menemani proses bermain. Di situlah terjalin komunikasi dua arah, bonding emosional, sekaligus stimulasi bahasa yang krusial bagi buah hati. 

“Mainannya boleh bervariasi, tapi berikan satu per satu agar anak fokus dan tidak terdistraksi. Pilih juga mainan sesuai usia dan kebutuhan tumbuh kembangnya,” ujar Rolla.

 

Pengunjung bermain di area permainan anak pada Festival Honda Istana Bandung Raya Motor (IBRM) Subang di Dealer Honda IBRM Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (24/4/2024).

Pengunjung bermain di area permainan anak pada Festival Honda Istana Bandung Raya Motor (IBRM) Subang di Dealer Honda IBRM Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (24/4/2024). (sumber gambar: Hypeabis.id/ Rachman)


Baginya, orang tua tak harus selalu menyediakan mainan mahal. Benda-benda rumah tangga pun bisa menjadi media belajar yang menarik—dari mangkuk plastik di dapur hingga permainan pura-pura memasak. Kuncinya adalah kehadiran orang tua yang aktif terlibat.

Hal inilah yang menjadi simpul dari tren sewa mainan. Bagi keluarga urban, sewa bukan hanya cara hemat, tetapi juga solusi praktis agar anak tetap mendapat stimulasi sesuai usia tanpa harus menimbun tumpukan mainan di rumah. 

"Yang terpenting, proses bermain tetap jadi ruang belajar dan komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak—bukan sekadar rutinitas hiburan," pungkasnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Kalahkan Carlos Alcaraz, Jannik Sinner Raih Gelar Wimbledon Pertamanya

BERIKUTNYA

Hypereport: Menyoroti Kerancuan dalam Penulisan Ulang Sejarah Nasional Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: