Sejarah Hari Penyu Sedunia yang Diperingati Setiap 16 Juni
16 June 2025 |
08:57 WIB
Hari Penyu Sedunia alias World Sea Turtle Day diperingati setiap 16 Juni. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari ulang tahun Dr. Archie Carr Jr, yang dikenal sebagai bapak biologi penyu. Dia merupakan seorang herpetolog, ekolog, dan konservasionis yang menjadi tokoh utama dalam penelitian dan pelestarian penyu.
Mengutip laman conserveturtles, Archie Fairly Carr Jr. lahir pada 16 Juni 1909 di Mobile, Alabama. Sewaktu menjadi profesor di University of Florida, Carr menulis buku terkenal seperti Handbook of Turtles (1952), The Windward Road (1956), dan So Excellent a Fishe (1967), yang membuka kesadaran global tentang ancaman terhadap penyu laut.
Baca juga: World Turtle Day Tiap 23 Mei Serukan Urgensi Perlindungan Penyu & Kura-Kura
Salah satu pencapaiannya adalah pendirian Sea Turtle Conservancy yang dulunya dikenal sebagai Caribbean Conservation Corporation, CCC pada 1959, serta pembentukan kawasan perlindungan penyu di Tortuguero (1975) dan refuge di Florida (1991) yang sangat dipengaruhi oleh ide dan kepemimpinan Carr.
Penetapan 16 Juni sebagai Hari Penyu Sedunia dimulai sejak awal 2000-an dan mendapatkan dukungan dari Sea Turtle Conservancy, organisasi yang didirikan Carr bersama CCC. Tujuannya adalah mengenang kontribusi Carr, sekaligus meningkatkan kesadaran dan menggalang aksi konservasi penyu laut, meliputi pelepasan tukik atau anak penyu ke laut, pendidikan publik, dan kampanye global.
Pembangunan di pesisir merusak habitat penyu untuk bertelur. Cahaya lampu malam dari gedung, jalan, atau kendaraan akan mengganggu induk betina saat bertelur dan menyulitkan tukik untuk berenang kembali laut. Karenanya penting sekali kegiatan konservasi berupa pelepasan tukik ke laut, setelah melalui tahap penetasan dan perawatan di penangkaran.
Setelah menetas, tukik rentan terhadap predator, abrasi, dan pengambilan oleh manusia. Melalui penangkaran semi-alami, telur dilindungi hingga tukik siap untuk dilepas ke habitatnya. Dengan cara ini, tingkat kematian dini tukik dapat ditekan, sehingga populasi penyu yang di alam dapat meningkat.
Menurut survei global yang dirilis pada April 2025, lebih dari separuh populasi penyu laut di dunia menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama spesies penyu hijau di wilayah Samudra Atlantik. Tren positif ini mencerminkan keberhasilan upaya konservasi jangka panjang, seperti perlindungan pantai peneluran, pembatasan perburuan, serta penerapan teknologi ramah penyu dalam praktik perikanan.
Penelitian ini mengamati 48 populasi penyu laut di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan menilai dampak dari ancaman seperti perburuan, polusi, pembangunan pesisir, dan perubahan iklim terhadap hewan laut ini. Hasilnya, di lebih dari separuh wilayah yang diteliti, ancaman terhadap penyu mulai berkurang secara umum.
Namun, meskipun sebagian populasi mulai pulih, sejumlah ancaman serius masih membayangi kelangsungan hidup penyu laut, khususnya disebabkan oleh bycatch atau penangkapan tidak sengaja oleh nelayan.
Penyu jenis leatherback (penyu belimbing) tercatat sebagai salah satu spesies yang paling rentan, terutama karena pola migrasi lintas samudra mereka yang kerap berbenturan dengan aktivitas manusia, serta dampak perubahan iklim yang mengganggu keseimbangan habitat dan suhu inkubasi telur.
Peringatan Hari Penyu Sedunia diharapkan tidak hanya menjadi momentum simbolis, tetapi juga memicu perubahan nyata mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penyu, seperti polusi plastik, bycatch, dan kerusakan habitatnya.
Selain itu, juga mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan seperti pelepasan tukik, pembersihan pantai, serta mengajak masyarakat serta pemerintah untuk menguatkan kebijakan konservasi, seperti penerapan Turtle Excluder Devices, alat khusus yang dipasang pada jaring penangkap ikan, terutama trawl untuk mencegah penyu laut tertangkap dan mati secara tidak sengaja dan perlindungan kawasan peneluran, serta pengurangan sampah laut.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Mengutip laman conserveturtles, Archie Fairly Carr Jr. lahir pada 16 Juni 1909 di Mobile, Alabama. Sewaktu menjadi profesor di University of Florida, Carr menulis buku terkenal seperti Handbook of Turtles (1952), The Windward Road (1956), dan So Excellent a Fishe (1967), yang membuka kesadaran global tentang ancaman terhadap penyu laut.
Baca juga: World Turtle Day Tiap 23 Mei Serukan Urgensi Perlindungan Penyu & Kura-Kura
Salah satu pencapaiannya adalah pendirian Sea Turtle Conservancy yang dulunya dikenal sebagai Caribbean Conservation Corporation, CCC pada 1959, serta pembentukan kawasan perlindungan penyu di Tortuguero (1975) dan refuge di Florida (1991) yang sangat dipengaruhi oleh ide dan kepemimpinan Carr.
Penetapan 16 Juni sebagai Hari Penyu Sedunia dimulai sejak awal 2000-an dan mendapatkan dukungan dari Sea Turtle Conservancy, organisasi yang didirikan Carr bersama CCC. Tujuannya adalah mengenang kontribusi Carr, sekaligus meningkatkan kesadaran dan menggalang aksi konservasi penyu laut, meliputi pelepasan tukik atau anak penyu ke laut, pendidikan publik, dan kampanye global.
Ancaman Terhadap Populasi Penyu di Dunia
Penyu sering menelan plastik, yang mereka kira ubur‑ubur atau rumput laut. Ini kemudian bisa menyebabkan penyumbatan usus, luka internal, bahkan kematian. Mereka juga dapat terlilit plastik dan jaring “hantu” (ghost gear) yang menyebabkan cedera parah dan tenggelam. Puluhan ribu penyu juga bisa terjerat di jaring, longline, dan trawl. Banyak dari mereka yang tenggelam karena tidak bisa naik ke permukaan untuk bernapas.Pembangunan di pesisir merusak habitat penyu untuk bertelur. Cahaya lampu malam dari gedung, jalan, atau kendaraan akan mengganggu induk betina saat bertelur dan menyulitkan tukik untuk berenang kembali laut. Karenanya penting sekali kegiatan konservasi berupa pelepasan tukik ke laut, setelah melalui tahap penetasan dan perawatan di penangkaran.
Setelah menetas, tukik rentan terhadap predator, abrasi, dan pengambilan oleh manusia. Melalui penangkaran semi-alami, telur dilindungi hingga tukik siap untuk dilepas ke habitatnya. Dengan cara ini, tingkat kematian dini tukik dapat ditekan, sehingga populasi penyu yang di alam dapat meningkat.
Menurut survei global yang dirilis pada April 2025, lebih dari separuh populasi penyu laut di dunia menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama spesies penyu hijau di wilayah Samudra Atlantik. Tren positif ini mencerminkan keberhasilan upaya konservasi jangka panjang, seperti perlindungan pantai peneluran, pembatasan perburuan, serta penerapan teknologi ramah penyu dalam praktik perikanan.
Penelitian ini mengamati 48 populasi penyu laut di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan menilai dampak dari ancaman seperti perburuan, polusi, pembangunan pesisir, dan perubahan iklim terhadap hewan laut ini. Hasilnya, di lebih dari separuh wilayah yang diteliti, ancaman terhadap penyu mulai berkurang secara umum.
Namun, meskipun sebagian populasi mulai pulih, sejumlah ancaman serius masih membayangi kelangsungan hidup penyu laut, khususnya disebabkan oleh bycatch atau penangkapan tidak sengaja oleh nelayan.
Penyu jenis leatherback (penyu belimbing) tercatat sebagai salah satu spesies yang paling rentan, terutama karena pola migrasi lintas samudra mereka yang kerap berbenturan dengan aktivitas manusia, serta dampak perubahan iklim yang mengganggu keseimbangan habitat dan suhu inkubasi telur.
Peringatan Hari Penyu Sedunia diharapkan tidak hanya menjadi momentum simbolis, tetapi juga memicu perubahan nyata mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penyu, seperti polusi plastik, bycatch, dan kerusakan habitatnya.
Selain itu, juga mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan seperti pelepasan tukik, pembersihan pantai, serta mengajak masyarakat serta pemerintah untuk menguatkan kebijakan konservasi, seperti penerapan Turtle Excluder Devices, alat khusus yang dipasang pada jaring penangkap ikan, terutama trawl untuk mencegah penyu laut tertangkap dan mati secara tidak sengaja dan perlindungan kawasan peneluran, serta pengurangan sampah laut.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.