Ilustrasi SIM Card. (Sumber gambar: Freepik/Macrovector)

Vendor Smartphone Siap Perluas Migrasi eSIM, Begini Catatannya

24 April 2025   |   14:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Rencana migrasi SIM card ke Embedded Subscriber Identity Module (eSIM) tidak hanya disiapkan para operator, namun juga vendor smartphone. Beberapa sudah menerapkan teknologi ini terhadap produk gawainya, ada pula yang masih menunggu perkembangan dan menyesuaikan keinginan pasar. 

Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, mengatakan penerapan eSIM pada smartphone perlu dukungan dari chipset yang digunakan. Chipset modern biasanya sudah bisa mendukung integrasi eSIM pada Smartphone.

Baca juga: Tantangan Penetrasi eSIM, Pemerintah Wajib Perhatikan Hal Ini

Saat ini, Samsung katanya terus melihat perkembangan dan kebutuhan konsumen untuk setiap fitur dan inovasi yang dihadirkan. Ilham menyebut tahun ini perusahaannya memperluas jangkauan perangkat eSIM ke smartphone terbaru yakni model A36 5G yang pada tahun sebelum nya baru dihadirkan di A55 5G, sehingga eSIM bisa digunakan ke pengguna yang lebih luas. 

“Untuk perangkat lainnya yang sudah mendukung eSIM yakni seluruh lini flagship S series dan foldables, A56 5G dan A36 5G,” ujarnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.

Tidak dipungkiri, eSIM memberikan sejumlah keuntungan pada pengguna ponsel. Selain praktis karena tidak perlu mengeluarkan SIM card saat ingin mengganti nomor telepon, teknologi ini juga menawarkan fleksibilitas dalam menggunakan multi SIM card jika memerlukan nomor baru, terutama untuk kebutuhan pekerjaan atau traveling ke luar negeri. 

Keamanan eSIM juga diklaim lebih baik dibandingkan SIM fisik. Kartu SIM elektronik ini diperkirakan memberikan perlindungan ganda terhadap penyalahgunaan data serta kejahatan digital yang marak saat ini seperti spam, phishing, dan judi online. “Target kami untuk penerapan eSIM tentu seluas mungkin,” sebut Ilham.

Sementara itu, Poco yang dikenal menawarkan ponsel ramah kantong untuk kelas entry level dan midrange, terbilang melihat perkembangan pasar. Product PR Manager Poco Indonesia Abee Hakiim, menyebut pihaknya selalu berupaya mendengarkan kebutuhan pengguna. 

Fokus utama Poco adalah untuk menghadirkan performa ekstrem dan fitur yang mendukung pengalaman sehari-hari, seperti  bermain game mobile. “Poco akan terus melihat fitur-fitur apa yang dibutuhkan pengguna ke depannya dan terus bawa inovasi baru ke smartphone Poco,” tegasnya kepada Bisnis. 

Konsultan dan Analis Pasar Smartphone dari Reasense Aryo Meidianto Aji menerangkan eSIM saat ini memang lebih umum ada di smartphone flagship, karena biaya integrasi dan dukungan infrastruktur. Namun, dalam jangka menengah, pasar entry-level dan midrange ada kemungkinan akan terdorong untuk mengadopsi eSIM karena tekanan regulasi pemerintah. 

“Mau tidak mau, konsumen midrange akan mengharapkan juga fitur serupa di perangkatnya,” imbuhnya.  

Aryo memprediksi dalam 3-5 tahun kedepan, eSIM akan mulai dominan di pasar ponsel kelas menengah. Sementara untuk entry-level, mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama, kira-kira di atas 5 tahun. Adapun menurut data Kementerian Komunikasi Digital, penetrasi eSIM di Tanah Air baru mencapai 5 persen.

Untuk menjangkau penetrasi lebih luas, semua memang tergantung pada kesiapan vendor, terutama bagaimana membuat teknologinya menjadi murah sehingga dapat diaplikasikan ke ponsel entry level. Waktu penerapan eSIM juga membutuhkan dukungan regulasi pemerintah seperti Insentif fiskal atau wajib eSIM untuk perangkat baru. 

Oleh karena itu, vendor, operator, dan regulator menurut Aryo, perlu menyinkronkan standar teknis dan proses aktivasi eSIM. Belum lagi kampanye tentang keunggulan eSIM yang lebih praktis, ramah lingkungan, dengan dukungan multi-operator.

“Saran saya, sebaiknya harga smartphone eSIM entry-level harus terjangkau, mungkin dengan insentif pajak sehingga penetrasi perangkat ini semakin besar dan program ini bisa berhasil,” tutur Aryo.

Vendor smartphone juga harus mulai memikirkan integrasi eSIM di seri midrange. Untuk transisi, sebaiknya vendor mempertahankan 1 slot fisik dan 1 eSIM. Kemitraan dengan operator juga penting, terutama untuk penetrasi perangkat ke konsumen. 

Satu lagi yang terpenting, bagaimana vendor juga dengan stakeholder telekomunikasi untuk menjelaskan manfaat eSIM seperti fitur keamanan (anti-cloning), atau keuntungan ketika perangkat tidak menggunakan sim fisik. Misal, ruang handphone lebih lega sehingga dapat memberikan ruang penyimpanan lebih lega.

Tidak dipungkiri, terdapat tantangan bagi para vendor untuk menerapkan eSIM pada perangkat. Aryo menerangkan bahwa modul eSIM bisa menaikkan harga, yang sulit diimplementasikan di entry-level. 

Vendor global juga menghadapi tantangan fragmentasi regulasi. Untuk produk yang dilepas global tentu saja akan menyesuaikan pada kebijakan tiap negara. Kemudian, vendor harus bekerja sama erat dengan operator terutama untuk waktu pengaplikasian eSIM. 

Bila operator lambat menyediakan layanan eSIM, fitur ini menjadi tidak relevan. Tantangan lain adalah pengguna di pasar berkembang seperti Indonesia mungkin enggan beralih karena kurang familiar atau takut akan resiko peretasan profil eSIM, terutama jika sistem vendor atau operator tidak kuat.

Baca juga: Cek Daftar Smartphone yang Mendukung eSIM di Indonesia

SEBELUMNYA

Seniman Hamzah Sulaiman alias Raminten Meninggal Dunia, Simak Rekam Jejaknya

BERIKUTNYA

Restoran The House of Raminten, Suguhkan Menu dan Suasana Tradisional Jawa

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga