Masjid Raya Baiturrahman (dok. Unsplash)

10 Tradisi Unik Saat Lebaran di Berbagai Daerah

13 May 2021   |   13:46 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Halalbihalal menjadi tradisi umum masyarakat Indonesia ketika Idulfitri. Berjabat tangan saling bermaaf-maafan seakan menjadi hal wajib dilakukan setelah melaksanakan ibadah salat Id.

Kendati demikian, tradisi saat hari raya Idulfitri di Indonesia ternyata tidak hanya itu saja loh GenHype. Di berbagai daerah ada tradisi unik yang menarik untuk kamu ketahui, berikut daftarnya seperti dikutip dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi :

1. Makmeugang di Aceh

Makmeugang atau meugang merupakan tradisi memasak daging dan makan bersama di area masjid saat lebaran di Aceh. Tradisi ini sudah ada sejak 400 tahun dan dilakukan secara turun temurun. Daging biasanya diolah menjadi beragam masakan khas Aceh, seperti sup daging, daging rebus, rendang, dan kari putih. Tak hanya disantap bersama, daging nantinya juga dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

2. Bedulang di Bangka

Tradisi makan bersama juga dilakukan di Bangka, bedulang namanya. Warga akan menikmati makanan khas Bangka yang disajikan menggunakan tudung saji, antara lain tumis rebung, tumis keladi, lalapan, lempah kuning ikan kakap, ikang jebung bakar, lempah kulat pelawan dan sambal belacan.

Acara makan bersama ini dilakukan setelah salat Id, silaturahmi, dan bermaaf-maafan. Makan bersama ini tidak diperbolehkan memakai sendok atau garpu, tetapi harus menggunakan tangan. Sebelum makan bersama dimulai, warga diwajibkan mencuci tangan dengan urutan orang yang lebih tua terlebih dahulu, diikuti yang muda. Begitu pula saat makan, semua mendahulukan orang yang lebih tua.

3. Binarundak di Sulawesi Utara

Lain halnya di Sulawesi Utara, tepatnya di Motoboi Besar. Makan bersama yang dinamakan Binarundak diselenggarakan tiga hari setelah Idulfitri. Warga akan memasak nasi khas Sulawesi Utara yang disebut dengan nasi jaha. 

Nasi jaha dibuat dengan campuran jahe, santan, dan juga beras ketan yang dimasukkan ke dalam batang bambu yang berlapis daun pisang. Bambu tersebut kemudian dibakar dengan serabut kelapa. Tradisi ini dilakukan di sepanjang jalan rumah warga atau di lapangan terbuka.

4. Grebeg Syawal di Yogyakarta

Bukan makan bersama, di Kota Yogyakarta ada perayaan Grebeg Syawal yang merupakan tradisi keraton untuk menyambut 1 Syawal dan dilakukan setelah Idulfitri. 

Biasanya perayaan ini akan diawali dengan para warga mengarak bermacam-macam hasil bumi yang disusun rapi berbentuk kerucut berukuran besar dari Pagelaran Keraton menuju Halaman Masjid Agung Kauman. Setelah didoakan, hasil bumi tadi biasanya akan menjadi rebutan warga yang hadir dalam kegiatan tersebut.

5. Sungkem Tlompak di Magelang

Tradisi ini diikuti masyarakat lereng bara Gunung Merbabu sebagai bentuk syukur atas ketersediaan air di mata air Telompak di Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Usai berdoa dan memasang sesaji yang dipimpin seorang juru kunci, mereka menggelar kesenian tradisional Campur Bawur di mata air tersebut.

6. Pukul Sapu di Maluku Tengah

Tradisi yang dilakukan oleh penduduk Leihitu, Maluku Tengah ini bisa dibilang cukup ekstrem. Tradisi yang digelar pada hari ketujuh Lebaran ini biasanya dilakukan oleh perwakilan pria dari masing-masing desa yang meliputi desa Morella dan desa Mamala. 

Para perwakilan dari setiap desa akan berkumpul di halaman masjid besar dan akan saling memukul punggung menggunakan lidi dari pohon enau. Tradisi ini berlangsung selama sekitar 30 menit dan biasanya akan membuat kulit sobek hingga berdarah-darah.

7. Perang Topat di Lombok

Perang Topat yang berarti perang ketupat ini dilakukan oleh suku Sasak yang merupakan suku asli Lombok. Kegiatan ini dilakukan pada hari ke-6 setelah lebaran. Tradisi ini dimulai dengan mengarak hasil bumi, kemudian dilanjutkan dengan saling lempar ketupat yang dipercaya akan mengabulkan doa dan permohonan.

8. Festival Tumbilotohe di Gorontalo

Pada festival ini, para warga Gorontalo akan menyalakan lampu yang berbahan minyak tanah yang nantinya bakal menerangi sepanjang jalan di kota Gorontalo. Tujuannya sebenarnya yaitu untuk menerangi jalan agar warga desa bisa dengan mudah melaluinya saat membagi-bagikan zakat. Biasanya, tradisi ini juga dimeriahkan dengan tabuhan bedug dan meriam dari bambu.

9. Ngejot di Bali

Tradisi umat Muslim di Pulau Dewata ini merupakan tradisi yang dilakukan setiap tahun ini bertujuan menciptakan hubungan yang harmonis antar umat beragama di Bali. Dalam kegiatan ini umat muslim akan membagi-bagikan makanan bagi semua warga tanpa membedakan agama yang dianutnya.  Tradisi Ngejot juga sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali saat mereka merayakan hari besar agama Hindu.

10. Festival Meriam Karbit di Pontianak

Festival Meriam Karbit dilakukan oleh penduduk Pontianak selama lebih dari 200 tahun. Dalam praktiknya, masyarakat akan menggunakan meriam yang terbuat dari bambu besar dan diletakkan di pinggir Sungai Kapuas.  Menjelang malam takbiran, para warga Pontianak akan berkumpul di sekitar pinggir sungai untuk menyalakan meriam-meriam besar tersebut sebagai tanda datangnya hari kemenangan.

Editor: Indyah Sutriningrum

SEBELUMNYA

Ingin Ganti Susu Sapi? Ini Alternatifnya

BERIKUTNYA

Netflix Tunjukkan Upaya Balas Dendam di Teaser Serial Televisi Lupin Part 2, Cek!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: