Batavia Madrigal Singers menjadi juara umum dalam kompetisi Certamen Coral de Tolosa (Tolosa Choral Competition) di Spanyol pada 2019 (Sumber gambar: The Resonanz Music)

Berawal dari Grup Alumni, Gema Suara Batavia Madrigal Singers Kini Mendunia

09 June 2022   |   11:50 WIB

Grup paduan suara Batavia Madrigal Singers (BMS) kembali membawa nama harum bangsa Indonesia di kancah internasional. Grup BMS akan mewakili Indonesia untuk berlaga pada kompetisi paduan suara internasional European Grand Prix for Choral Singing (EGP) ke-31, di Tours, Prancis, pada 18 Juni mendatang. 

Sebagai salah satu grup paduan suara terbaik di Tanah Air, BMS kerap menjuarai beberapa kompetisi bergengsi dunia, seperti diantaranya juara umum di Tolosa Choral Contest di Spanyol pada 2016 dan 2019, tiga juara di Florilege Vocal de Tours, Prancis pada 2014 dan empat juara di 34th Internatinal May Choir Competition Prof. Georgi Dimitrov di Varna, Bulgaria.

Rentang komposisi yang dibawakan BMS pun sangat beragam mulai dari komposisi musik zaman klasik hingga kontemporer, hingga beraneka aliran dari balok hingga pop modern.

Baca jugaBikin Bangga, Grup Paduan Suara Batavia Madrigal Singers Akan Berlaga di European Grand Prix Prancis
 

Awal terbentuk

Sebelum besar menjadi Batavia Madrigal Singers, kelompok paduan suara ini awalnya merupakan kumpulan alumni anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung yang terdiri dari Rilwan Hamzah, Avip Priatna, Teddy Panelewen, Maria Asumpta, Mita Jasmine Surono, Nuniek Ratnindyah, Binu D. Sukaman dan Iswargia “Lendi” Sudarno.

Grup ini berawal dari kegelisahan mereka yang telah lulus dari kampus, namun tetap ingin melanjutkan kecintaannya untuk menyanyi. Alih-alih meredup, semangat untuk terus menyanyi pasca kelulusan justru kian menggelora. Akhirnya, terbentuklah grup Paduan Suara Bekas Mahasiswa (PSBM).

“Setelah lulus dari Unpar, teman-teman PSM Unpar ini masih merindukan untuk tetap bisa bernyanyi meskipun mereka sudah lulus dan tinggal di Jakarta,” kata Avip Priatna, Pendiri sekaligus Direktur Musik BMS, saat konferensi pers di Jakarta, baru-baru ini.

Setelah berjalan hampir satu dasawarsa, kiprah PSBM semakin meluas. Bukan hanya mengadakan konser-konser rutin di dalam negeri, tetapi mulai berpartisipasi dalam kompetisi paduan suara di luar negeri. Pada 1995, mereka mengikuti kompetisi paduan suara internasional di Arnhem, Belanda, dan meraih juara internasional pertama dalam kategori Paduan Suara Campuran.

Baca jugaBakal Berlaga di European Grand Prix Prancis, Intip Cerita Persiapan Batavia Madrigal Singers
 

r

Batavia Madrigal Singers menjadi juara umum dalam kompetisi Certamen Coral de Tolosa (Tolosa Choral Competition) di Spanyol pada 2019 (Sumber gambar: The Resonanz Music)


Setelah kemenangan itu, PSBM mulai berbenah diri untuk menjadi kelompok paduan suara yang lebih profesional, dengan merekrut beberapa anggota yang bukan hanya dari Unpar, tapi dari berbagai latar belakang. 

Avip, yang kala itu masih menempuh pendidikan di Universitat fur Musk und darstellende Kunst Wien di Austria, memimpikan sebuah kelompok paduan suara yang bisa mewakili Jakarta sebagai ibu kota negara, di kancah internasional. Dengan pertimbangan itu, akhirnya kelompok PSBM resmi mengganti nama menjadi Batavia Madrigal Singers (BSM).

Kata ‘batavia’ merujuk pada nama ibu kota Hindia Belanda yang saat ini menjadi Jakarta, sedangkan ‘madrigal’ merujuk pada jumlah anggota sebanyak 4-16 orang dalam sebuah kelompok ansambel.
 

Terus berprestasi di kancah dunia

Sejak saat itu, BSM pun mulai merekrut anggota choir yang memiliki hobi yang sama. Mereka pun mulai rutin mengadakan latihan-latihan menyanyi di Jakarta. Pada 1997, BMS menggelar konser resmi perdananya bertajuk Resital Karya yang diciptakan oleh Brahms dan Schubert di Pusat Kebudayaan Prancis Bandung dan Erasmus Huis Jakarta.

Pada 2001, BMS pun berangkat ke Prancis untuk mengikuti kompetisi Florilege Vocal de Tours-Concours International De Chant Choral. Dalam kompetisi ini, BMS berhasil keluar sebagai yang terbaik dalam kategori Paduan Suara Campuran.

Tidak berpuas hanya dengan nomor-nomor paduan suara, BMS memberanikan diri membawakan salah satu karya oratorio untuk paduan suara dan orkestra paling terkenal, Messiah karya George Frideric Handel. 

Diselenggarakan pada Januari 2002 di Auditorium Gedung BPPT, oratorio yang terdiri atas tiga bagian dan berdurasi hampir tiga jam tersebut dibawakan secara utuh dengan orkestra lengkap untuk pertama kalinya di Indonesia. Setelahnya, akhirnya digelar opera Samson et Dalila karya Camille Saint-Saens yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada 2006.

Pada 2011, BMS mencetak rekor untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi kelompok paduan suara dengan memboyong 5 gelar penghargaan di ajang 57 Certamen Internacional De Habaneras Y Polifonia di Spanyol.

Setelahnya, pada 2013, BMS akhirnya menjadi finalis European Grand Prix for Choral Singing (EGP), paduan suara lima besar terbaik di dunia dalam seri EGP di Arezzo, Italia. BMS merupakan paduan suara pertama dari Indonesia yang berhasil mendapatkan pencapaian tertinggi itu.

Sejak saat itu, BMS terus berkarya dengan mengadakan konser-konser di dalam negeri maupun menorehkan prestasi di kompetisi kancah internasional. Terbaru, BMS meraih 3 gelar juara pada Florilege Vocal de Tours di kota Tour, Prancis pada 2019, dan pada tahun yang sama juga meraih 3 gelar juara di ajang 51st Tolosa Choral Contest di Spanyol.


Editor: Roni Yunianto

 
SEBELUMNYA

Band Ternama Bakal Meriahkan Ajang Jakarta Fair 2022

BERIKUTNYA

Kalangan Milenial & Gen Z Belum Meminati Instrumen Derivatif Keuangan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: