Kerokan: Manfaat dan Risiko Pengobatan Tradisional Berdasarkan Kajian Ilmiah
07 March 2026 |
16:30 WIB
Kerokan merupakan salah satu metode pengobatan tradisional yang telah lama dipraktikkan di berbagai negara Asia. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, teknik ini dikenal dengan sebutan Gua Sha dan bahkan tercatat dalam literatur medis sejak era Dinasti Ming (1368–1644) sebagai metode untuk membantu “mengikis penyakit” dari tubuh.
Sejumlah jurnal kesehatan menunjukkan bahwa kerokan diklaim mampu meningkatkan aliran darah pada bagian tubuh yang mendapat gesekan. Peningkatan sirkulasi tersebut kemudian dikaitkan dengan proses metabolisme yang lebih baik serta respons kekebalan tubuh, sehingga praktik ini tetap banyak digunakan hingga kini meskipun perkembangan pengobatan modern semakin pesat.
Baca juga: Manfaat Pijat Saat Badan Pegal-pegal, Efektif atau Sekadar Sugesti?
Warna kemerahan yang muncul setelah kerokan sering diartikan sebagai tanda “angin keluar” dalam kepercayaan tradisional. Namun secara medis, perubahan warna tersebut sebenarnya terjadi karena pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit melebar atau mengalami tekanan akibat gesekan alat kerokan.
Dalam keterangan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, pelebaran kapiler ini meningkatkan aliran darah pada area yang dikerok. Peningkatan sirkulasi tersebut membantu mempercepat metabolisme jaringan dan juga memicu pelepasan endorfin, hormon yang memberikan efek relaksasi dan rasa nyaman pada tubuh.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Complementary Therapies in Medicine (2017) menunjukkan bahwa Gua Sha juga memiliki efek antiinflamasi yang relatif bertahan lebih lama dibandingkan kompres panas. Terapi ini dinilai membantu mengurangi nyeri serta meningkatkan mobilitas pada lansia yang mengalami nyeri punggung bawah.
Selain itu, riset pada 23 orang dewasa yang diterbitkan dalam Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine menemukan bahwa kerokan dapat meningkatkan volume perfusi darah dan suhu pada area tubuh yang digesek. Peningkatan aliran darah tersebut membantu mempercepat proses pengangkutan asam laktat ke hati sehingga rasa pegal atau nyeri otot dapat berkurang.
Studi lain dalam Archives of Allied Medical Sciences juga menunjukkan hasil serupa pada penderita nyeri leher dan bahu. Menurut keterangan Kementerian Kesehatan RI, pasien yang menerima terapi kerokan melaporkan penurunan rasa sakit serta peningkatan fleksibilitas gerakan leher.
Dalam konteks olahraga, penelitian yang dipublikasikan di Journal of Traditional Chinese Medicine (2017) menunjukkan bahwa teknik Gua Sha dapat membantu menjaga kondisi fisik atlet. Sejumlah laporan juga menyebut metode ini berpotensi membantu proses pemulihan otot setelah latihan intensif.
Risiko lain dapat muncul ketika kerokan dijadikan langkah pertama untuk menangani kondisi medis yang sebenarnya memerlukan penanganan darurat. Dalam situasi seperti ini, praktik tradisional tersebut berpotensi menunda pemeriksaan dan tindakan medis yang seharusnya segera dilakukan.
Sebuah penelitian mengenai keterlambatan penanganan pasien infark miokard akut atau yang lebih dikenal sebagai serangan jantung di RSUD dr. Saiful Anwar Malang menunjukkan temuan yang cukup mengkhawatirkan.
Infark miokard akut merupakan kondisi ketika aliran darah menuju otot jantung tiba-tiba terhambat sehingga jaringan jantung kekurangan oksigen dan dapat mengalami kerusakan. Dari hasil studi tersebut, sekitar 28,1 persen pasien diketahui sempat melakukan kerokan terlebih dahulu sebelum akhirnya mencari pertolongan ke rumah sakit.
Selain itu, kerokan juga tidak dianjurkan bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Orang yang memiliki gangguan pembekuan darah, sedang mengonsumsi obat pengencer darah, menderita diabetes, atau baru menjalani operasi sebaiknya menghindari terapi ini karena berisiko menyebabkan perdarahan atau komplikasi lainnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sejumlah jurnal kesehatan menunjukkan bahwa kerokan diklaim mampu meningkatkan aliran darah pada bagian tubuh yang mendapat gesekan. Peningkatan sirkulasi tersebut kemudian dikaitkan dengan proses metabolisme yang lebih baik serta respons kekebalan tubuh, sehingga praktik ini tetap banyak digunakan hingga kini meskipun perkembangan pengobatan modern semakin pesat.
Baca juga: Manfaat Pijat Saat Badan Pegal-pegal, Efektif atau Sekadar Sugesti?
Mekanisme Kerja Kerokan: Perspektif Medis
Warna kemerahan yang muncul setelah kerokan sering diartikan sebagai tanda “angin keluar” dalam kepercayaan tradisional. Namun secara medis, perubahan warna tersebut sebenarnya terjadi karena pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit melebar atau mengalami tekanan akibat gesekan alat kerokan.Dalam keterangan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, pelebaran kapiler ini meningkatkan aliran darah pada area yang dikerok. Peningkatan sirkulasi tersebut membantu mempercepat metabolisme jaringan dan juga memicu pelepasan endorfin, hormon yang memberikan efek relaksasi dan rasa nyaman pada tubuh.
Manfaat Kerokan yang Terbukti Secara Ilmiah
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pain Medicine (2011) menguji efektivitas Gua Sha pada 48 perempuan yang mengalami sakit leher kronis. Berdasarkan penelitian yang dikutip Hello Sehat dan sejumlah sumber kesehatan, peserta yang menjalani terapi Gua Sha melaporkan perbaikan kondisi yang lebih baik dibanding kelompok yang hanya menggunakan terapi kompres panas setelah satu minggu.Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Complementary Therapies in Medicine (2017) menunjukkan bahwa Gua Sha juga memiliki efek antiinflamasi yang relatif bertahan lebih lama dibandingkan kompres panas. Terapi ini dinilai membantu mengurangi nyeri serta meningkatkan mobilitas pada lansia yang mengalami nyeri punggung bawah.
Selain itu, riset pada 23 orang dewasa yang diterbitkan dalam Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine menemukan bahwa kerokan dapat meningkatkan volume perfusi darah dan suhu pada area tubuh yang digesek. Peningkatan aliran darah tersebut membantu mempercepat proses pengangkutan asam laktat ke hati sehingga rasa pegal atau nyeri otot dapat berkurang.
Studi lain dalam Archives of Allied Medical Sciences juga menunjukkan hasil serupa pada penderita nyeri leher dan bahu. Menurut keterangan Kementerian Kesehatan RI, pasien yang menerima terapi kerokan melaporkan penurunan rasa sakit serta peningkatan fleksibilitas gerakan leher.
Dalam konteks olahraga, penelitian yang dipublikasikan di Journal of Traditional Chinese Medicine (2017) menunjukkan bahwa teknik Gua Sha dapat membantu menjaga kondisi fisik atlet. Sejumlah laporan juga menyebut metode ini berpotensi membantu proses pemulihan otot setelah latihan intensif.
Risiko dan Kontraindikasi Kerokan
Meskipun memiliki sejumlah manfaat, kerokan juga memiliki risiko jika dilakukan tanpa memperhatikan kebersihan dan kondisi kesehatan tertentu. Berdasarkan keterangan Hello Sehat dan HonestDocs, salah satu risiko yang dapat muncul adalah terbukanya pori-pori kulit sehingga bakteri atau virus lebih mudah masuk, terutama jika alat kerokan tidak higienis.Risiko lain dapat muncul ketika kerokan dijadikan langkah pertama untuk menangani kondisi medis yang sebenarnya memerlukan penanganan darurat. Dalam situasi seperti ini, praktik tradisional tersebut berpotensi menunda pemeriksaan dan tindakan medis yang seharusnya segera dilakukan.
Sebuah penelitian mengenai keterlambatan penanganan pasien infark miokard akut atau yang lebih dikenal sebagai serangan jantung di RSUD dr. Saiful Anwar Malang menunjukkan temuan yang cukup mengkhawatirkan.
Infark miokard akut merupakan kondisi ketika aliran darah menuju otot jantung tiba-tiba terhambat sehingga jaringan jantung kekurangan oksigen dan dapat mengalami kerusakan. Dari hasil studi tersebut, sekitar 28,1 persen pasien diketahui sempat melakukan kerokan terlebih dahulu sebelum akhirnya mencari pertolongan ke rumah sakit.
Selain itu, kerokan juga tidak dianjurkan bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Orang yang memiliki gangguan pembekuan darah, sedang mengonsumsi obat pengencer darah, menderita diabetes, atau baru menjalani operasi sebaiknya menghindari terapi ini karena berisiko menyebabkan perdarahan atau komplikasi lainnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.