Still foto film 12 Mile: Guiding the Archipelago (sumber gambar: Kinosuites)

Dari Deklarasi Djuanda ke UNCLOS, Film 12 Mile Hidupkan Kiprah Mochtar Kusumaatmadja

09 February 2026   |   18:38 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Film 12 Mile: Guiding the Archipelago yang mengangkat kisah hidup diplomat Mochtar Kusumaatmadja resmi dirilis. Bergenre dokudrama flm ini menyoroti peran penting Mochtar dalam diplomasi hukum laut Indonesia sekaligus memperkenalkan kembali sejarah kedaulatan maritim Tanah Air.

Setelah pemutaran perdana di Jakarta, pada Rabu (4/2/26), film 12 Mile: Guiding the Archipelago dijadwalkan melakukan roadshow internasional ke Canberra, Australia. Selanjutnya, film ini akan diputar di berbagai kampus serta pusat kebudayaan milik kedutaan besar asing di Indonesia.

Baca juga: Seniman Enka Komariah Angkat Arsip Tragedi 1965 di Art Jakarta Papers 2026

Executive Producer Agus Imanuddin mengatakan film ini lahir dari kegelisahan akan minimnya narasi populer tentang sejarah maritim Indonesia. Kisah Mochtar, paparnya, relevan tidak hanya bagi Indonesia, melainkan juga negara-negara kepulauan lain di dunia.

Dia menjelaskan, ada tiga lapis utama yang menjadi benang merah film, yakni kepribadian Mochtar yang tenang, pemikirannya yang multidisipliner meski dikenal sebagai ahli hukum laut, serta perjalanan hidupnya yang penuh dinamika.

“Kesulitannya adalah bagaimana menggabungkan proses saintifik dengan tuntutan hiburan, agar pesan tetap utuh tapi film tetap menarik,” kata Agus.

Sutradara Tubagus Deddy menilai film ini juga tidak dimaksudkan sebagai dokumenter sejarah semata, melainkan drama-film dengan dialog, karakter, dan alur dramatik yang dibungkus dalam bahasa visual yang komunikatif.

Dia mengakui bahwa merangkum perjalanan hidup Prof. Mochtar dalam durasi 90 menit adalah tantangan besar. Sebab, film ini menampilkan fase kehidupan dari masa kecil, latar keluarga pejuang, hingga peran diplomatiknya di forum UNCLOS.

“Tidak mungkin semua peristiwa dimasukkan. Tapi setidaknya film ini memberi gambaran utuh tentang siapa Pak Mochtar dan mengapa perjuangannya penting bagi Indonesia hari ini,” ujarnya.


Diplomasi Pena

Mochtar Kusumaatmadja dikenal sebagai Guru Besar Hukum Internasional Universitas Padjadjaran. Lewat konsep Wawasan Nusantara, Mochtar memperkenalkan ide negara kepulauan yang mengukuhkan kedaulatan maritim Indonesia di mata global.

Wawasan Nusantara tertuang dalam Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada 13 Desember 1957. Deklarasi ini kelak berhasil mengubah batas laut teritorial dari 3 mil menjadi 12 mil dari garis pangkal pulau terluar serta menyatukan daratan dan lautan sebagai satu kesatuan utuh.

Namun, upaya Mochtar mempersatukan Indonesia tidak semudah membalik telapak tangan. Upaya tersebut baru berhasil diakui 25 tahun kemudian dalam Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNCLOS III di Montego Bay, Jamaika, pada 10 Desember 1982.
 
 


Dalam film, peran Mochtar Kusumaatmadja muda diperankan oleh Erlangga Noor, yang mengaku awalnya tidak menyangka akan memerankan tokoh sebesar itu. Bagi Erlangga, memerankan Mochtar juga bukan hanya soal akting, tetapi juga proses belajar sejarah.

Erlangga menyebut film ini juga memberinya perspektif baru tentang bagaimana diplomasi, kesabaran, dan pemikiran jangka panjang membentuk masa depan bangsa. Momen saat Mochtar ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 juga memberi makna emosional baginya.

“Saya baru sadar betul tanggung jawabnya setelah membaca naskah dan mendalami siapa Pak Mochtar sebenarnya,” paparnya.

Selain menyoroti peran Mochtar di panggung internasional, film ini juga menggambarkan sisi personal sang tokoh sebagai akademisi dan kepala keluarga. Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa perjuangan besar kerap ditopang oleh lingkungan personal yang kuat.

Dari segi alur, film ini dikemas melalui pertemuan sekelompok mahasiswa Unpad yang berdiskusi tentang sosok dan peran Mochtar. Arakian, narasi cerita kemudian bolak-balik menyoroti kehidupan Mochtar sejak kecil, pertemuannya dengan istri, hingga menjadi diplomat ulung.

12 Mile: Guiding the Archipelago juga diperkuat keterangan narasumber yang memberi konteks sejarah serta hukum laut. Di antaranya Djuhaendah Hasan, Mieke Komar, dan Etty R. Agoes, tiga guru besar emeritus Universitas Padjadjaran, serta anak Mochtar, Armida Salsiah Alisjahbana.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Penantian 12 Tahun, Seattle Seahawks Taklukkan Patriots di Super Bowl LX

BERIKUTNYA

Desain Unik Masjid di Riyadh Berkonsep Minimalis-Kontemporer

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga