Illustrasi perempuan tertidur (sumber: freepik)

Bahaya Siklus Tidur Buruk yang Tak Pernah Putus, Ini Penjelasan Ilmiahnya

18 December 2025   |   17:00 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Tidur adalah salah satu kebutuhan biologis paling fundamental bagi manusia. Meski sering dianggap sepele, kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi hampir semua aspek kehidupan kita mulai dari mood, produktivitas, hingga kesehatan mental.

Melansir dari ScienceAlert, para ahli kini memperingatkan bahwa kurang tidur tidak hanya berdampak pada satu malam atau satu hari saja tetapi bisa memicu sebuah siklus berbahaya yang sulit dipecahkan oleh otak kita sendiri.

Baca juga: Studi Ungkap Manfaat Tidur Teratur Setiap Malam, Dapat Turunkan Tekanan Darah

Bayangkan Genhype mengalami malam dengan tidur yang terganggu, entah itu karena stres, tidur terlalu larut, atau bangun beberapa kali di tengah malam. Keesokan harinya kita merasa lelah, tidak fokus, dan kehilangan energi. Aktivitas yang biasanya menyenangkan terasa biasa saja bahkan membuatmu cepat lelah.

Genhype mungkin memilih menghindari olahraga atau menolak ajakan teman karena tak ada energi. Perasaan ini kemudian membuatmu cemas menjelang tidur malam berikutnya. Alih-alih tidur nyenyak, justru kualitas tidurmu menurun lagi. Ini adalah contoh siklus yang dijelaskan oleh para peneliti sebagai lingkaran setan antara tidur dan kesehatan mental.

Siklus ini bukan hanya teori. Gangguan tidur sering menjadi gejala dari masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Namun di sisi lain, masalah kesehatan mental itu sendiri dapat memperburuk kualitas tidur, sehingga menciptakan interaksi dua arah yang saling memperparah.

Tidur bukan hanya waktu istirahat bagi tubuh tetapi juga periode bagi otak untuk memperbaiki diri. Ritme sirkadian atau jam internal tubuh berperan dalam mengatur waktu tidur dan bangun kita. Ketika ritme ini terganggu, misalnya akibat stres atau lampu layar yang terlalu terang pada malam hari, produksi hormon seperti melatonin yang membantu tidur menjadi tidak optimal.

Pada saat yang sama, hormon stres seperti kortisol bisa tetap tinggi, yang berdampak negatif pada mood dan kemampuan tubuh mengatur tekanan emosional.

Kurang tidur juga secara langsung mengganggu kemampuan otak untuk memproses emosi dan menyelesaikan masalah sehari-hari. Tanpa cukup tidur, kemampuan pengambilan keputusan, fokus, dan kontrol emosi menurun drastis. Hal ini membuat kita lebih rentan terhadap reaksi emosional yang intens dan perasaan tidak stabil.

Selain hubungan langsung dengan mood dan kesehatan mental, kurang tidur juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap kesehatan fisik. Gangguan tidur kronis telah dikaitkan dengan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh, yang membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.

Ketika tidur berulang kali terganggu, tubuh cenderung mengalami inflamasi yang berlebihan, yang merupakan faktor risiko banyak penyakit kronis seperti diabetes, gangguan jantung, hingga gangguan kognitif.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kurang tidur berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif jangka panjang. Misalnya, kurang tidur berkepanjangan dapat menurunkan kemampuan memori, pengambilan keputusan, dan bahkan struktur otak secara fisik seiring waktu.

Siklus kurang tidur ini bisa sangat nyata dirasakan oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Saat tubuh terlalu lelah, kita mungkin sulit untuk bangun tepat waktu, mengalami mood yang mudah berubah, dan merasa tidak semangat menjalani rutinitas.

Tanpa disadari, kebiasaan begadang untuk menyelesaikan pekerjaan atau membalas pesan justru memperburuk kualitas tidurmu. Jika siklus ini terus berlangsung, bukan hanya kesehatan mentalmu yang terganggu tetapi juga hubungan sosial dan produktivitasmu bisa terdampak. 

Menurut laporan tersebut, siklus negatif ini juga dapat lebih cepat terbentuk pada kelompok tertentu seperti ibu hamil. Perubahan fisik dan hormon selama kehamilan seringkali membuat tidur menjadi tidak nyenyak dan hal ini bisa memperburuk kondisi emosional mereka. Interaksi antara gangguan tidur dan masalah kesehatan mental selama periode ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian khusus terhadap pola tidur bagi kesehatan jangka panjang.

Menjaga rutinitas tidur yang sehat bisa dilakukan dengan beberapa cara sederhana namun efektif seperti menetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, mengurangi paparan cahaya biru dari gadget di malam hari, dan menciptakan suasana tidur yang nyaman serta tenang. Langkah-langkah ini bisa membantu memutus lingkaran setan antara kurang tidur dan gangguan kesehatan mental. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Steven Spielberg Kembali ke Sci-Fi Lewat Disclosure Day

BERIKUTNYA

Rekomendasi Kota Wisata Terbaik di Thailand, Dari Jejak Sejarah hingga Pesona Alam Tropis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga