Menjelajah Jejak Purba di Taman Prasejarah Leang-Leang
14 December 2025 |
12:57 WIB
Taman Arkeologi Leang-Leang merupakan kawasan bersejarah yang berada di Sulawesi Selatan. Lokasi ini dikenal luas sebagai salah satu situs arkeologi terpenting di Indonesia lantaran keberadaan lukisan gua prasejarah yang berusia sangat tua.
Taman Prasejarah Leang-Leang belakangan menjadi salah satu destinasi wisata edukatif yang populer di kawasan Maros, Sulsel. Dalam bahasa lokal, istilah Leang-Leang berarti gua, sepadan dengan kata liang yang berarti lubang. Nama tersebut merujuk pada banyaknya gua purba yang menyimpan jejak kehidupan manusia prasejarah.
Baca juga: Bersiap Liburan Akhir Tahun, Ini Destinasi Wisata Paling Populer
Secara administratif, objek wisata ini masih masuk ke dalam bagian dari Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Jarak kawasan ini dari Kota Makassar sekitar 42 kilometer. Dengan kendaraan pribadi atau sepeda motor, perjalanan menuju lokasi biasanya memakan waktu sekitar satu jam.
Taman Prasejarah Leang-Leang menawarkan pengalaman berwisata yang berbeda dan unik. Sesuai namanya, tempat ini menghadirkan pengalaman wisata yang menelusuri kehidupan manusia purba melalui peninggalan bersejarah.
Di area ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung berbagai peninggalan manusia purba yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun. Setiap sudutnya menawarkan gambaran masa lalu yang menarik.
Menurut situs resmi Pemda Maros, gua-gua di Leang-Leang menyimpan lukisan cap tangan dan gambar fauna seperti babi rusa. Usianya diperkirakan lebih dari 40.000 tahun, menjadikannya salah satu karya seni tertua yang pernah ditemukan.
Keberadaan lukisan-lukisan kuno ini bukan hanya menarik bagi wisatawan, melainkan juga memicu perhatian para arkeolog sejak lama. Temuan visual tersebut menjadi dasar penting bagi penelitian akademik untuk memahami jejak awal kebudayaan manusia di Indonesia.
Berdasarkan laporan dari laman Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, penelitian ilmiah di kawasan ini sudah dilakukan sejak 1950-an, terutama di Gua Pettae atau Leang Pettae. Momen ini menandai awal eksplorasi arkeologi yang lebih mendalam terhadap situs-situs prasejarah di Leang-Leang.
Kala itu, kajian penelitian dipimpin oleh H.R. Van Heekeren dan C.H.M. Heeren-Palm yang menemukan sejumlah cap tangan serta gambar seekor babi rusa menggunakan pigmen merah. Temuan mereka membuka wawasan baru mengenai seni prasejarah di Maros.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 1958 melalui tulisan berjudul “Rock Paintings and Other Prehistoric Discoveries Near Maros (South Celebes)”. Publikasi ini kemudian menjadi acuan utama dalam studi arkeologi kawasan tersebut.
Selain melihat jejak manusia purba, taman nasional ini juga menyimpan banyak potensi wisata lain. Misalnya, di kompleks Taman Wisata Bantimurung, Sedikitnya 250 jenis kupu-kupu yang teridentifikasi di kawasan wisata Bantimurung. Di kompleks Taman Wisata Bantimurung, misalnya, terdapat sedikitnya 250 jenis kupu-kupu yang telah teridentifikasi.
Kawasan ini juga dialiri sungai yang airnya berasal dari dalam gua dan celah-celah batu, khas sistem hidrologi karst. Salah satu daya tarik utama lain dari Bantimurung adalah air terjunnya yang memukau. Air terjun dengan ketinggian 15 meter ini dikelilingi panorama alam yang masih terjaga keasriannya.
Wisata Leang Londrong juga menjadi pilihan menarik bagi pengunjung. Kawasan ini menawarkan sungai dalam gua, vegetasi alami, serta keberagaman flora dan fauna khas yang unik. Ragam aktivitas dapat dilakukan di sini, seperti mandi di sungai dalam gua, berkemah, menikmati panorama alam, trekking, pendidikan lingkungan, hingga penelusuran gua.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Taman Prasejarah Leang-Leang belakangan menjadi salah satu destinasi wisata edukatif yang populer di kawasan Maros, Sulsel. Dalam bahasa lokal, istilah Leang-Leang berarti gua, sepadan dengan kata liang yang berarti lubang. Nama tersebut merujuk pada banyaknya gua purba yang menyimpan jejak kehidupan manusia prasejarah.
Baca juga: Bersiap Liburan Akhir Tahun, Ini Destinasi Wisata Paling Populer
Secara administratif, objek wisata ini masih masuk ke dalam bagian dari Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Jarak kawasan ini dari Kota Makassar sekitar 42 kilometer. Dengan kendaraan pribadi atau sepeda motor, perjalanan menuju lokasi biasanya memakan waktu sekitar satu jam.
Taman Prasejarah Leang-Leang menawarkan pengalaman berwisata yang berbeda dan unik. Sesuai namanya, tempat ini menghadirkan pengalaman wisata yang menelusuri kehidupan manusia purba melalui peninggalan bersejarah.
Di area ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung berbagai peninggalan manusia purba yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun. Setiap sudutnya menawarkan gambaran masa lalu yang menarik.
Menurut situs resmi Pemda Maros, gua-gua di Leang-Leang menyimpan lukisan cap tangan dan gambar fauna seperti babi rusa. Usianya diperkirakan lebih dari 40.000 tahun, menjadikannya salah satu karya seni tertua yang pernah ditemukan.
Keberadaan lukisan-lukisan kuno ini bukan hanya menarik bagi wisatawan, melainkan juga memicu perhatian para arkeolog sejak lama. Temuan visual tersebut menjadi dasar penting bagi penelitian akademik untuk memahami jejak awal kebudayaan manusia di Indonesia.
Berdasarkan laporan dari laman Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, penelitian ilmiah di kawasan ini sudah dilakukan sejak 1950-an, terutama di Gua Pettae atau Leang Pettae. Momen ini menandai awal eksplorasi arkeologi yang lebih mendalam terhadap situs-situs prasejarah di Leang-Leang.
Kala itu, kajian penelitian dipimpin oleh H.R. Van Heekeren dan C.H.M. Heeren-Palm yang menemukan sejumlah cap tangan serta gambar seekor babi rusa menggunakan pigmen merah. Temuan mereka membuka wawasan baru mengenai seni prasejarah di Maros.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 1958 melalui tulisan berjudul “Rock Paintings and Other Prehistoric Discoveries Near Maros (South Celebes)”. Publikasi ini kemudian menjadi acuan utama dalam studi arkeologi kawasan tersebut.
Selain melihat jejak manusia purba, taman nasional ini juga menyimpan banyak potensi wisata lain. Misalnya, di kompleks Taman Wisata Bantimurung, Sedikitnya 250 jenis kupu-kupu yang teridentifikasi di kawasan wisata Bantimurung. Di kompleks Taman Wisata Bantimurung, misalnya, terdapat sedikitnya 250 jenis kupu-kupu yang telah teridentifikasi.
Kawasan ini juga dialiri sungai yang airnya berasal dari dalam gua dan celah-celah batu, khas sistem hidrologi karst. Salah satu daya tarik utama lain dari Bantimurung adalah air terjunnya yang memukau. Air terjun dengan ketinggian 15 meter ini dikelilingi panorama alam yang masih terjaga keasriannya.
Wisata Leang Londrong juga menjadi pilihan menarik bagi pengunjung. Kawasan ini menawarkan sungai dalam gua, vegetasi alami, serta keberagaman flora dan fauna khas yang unik. Ragam aktivitas dapat dilakukan di sini, seperti mandi di sungai dalam gua, berkemah, menikmati panorama alam, trekking, pendidikan lingkungan, hingga penelusuran gua.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.