Illustrasi Chat Gpt (sumber: Freepik)

Awas Curhat Sama AI Bisa Bikin Ketergantungan

29 November 2025   |   15:09 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Di tengah kesibukan dan tekanan hidup sehari-hari, banyak orang mulai mencoba mencari teman baru lewat bentuk yang tidak terduga yaitu kecerdasan buatan. Obrolan ringan bersama chatbot sering terasa menyenangkan. Ada rasa didengarkan tanpa dihakimi dan tidak sedikit pengguna yang mengaku merasa lebih tenang setelah berbagi cerita.

Melansir VegOutMag, interaksi singkat dengan teman AI terbukti bisa mengurangi rasa kesepian dan memberikan efek positif bagi kesehatan mental. Menurut laporan tersebut, alasan utamanya adalah rasa didengar. Ketika seseorang menceritakan isi hati pada AI, mereka mendapatkan respons yang stabil dan penuh perhatian meskipun semua itu hanyalah hasil pemrograman.

Baca juga: Mengenal Trauma Dumping, Ketika Curhat jadi Beban bagi Orang Lain

Meski begitu, sensasinya tetap nyata. Banyak orang yang tinggal sendiri atau sering merasa terisolasi menganggap chatbot sebagai ruang aman untuk memproses pikiran tanpa takut disalahpahami. Rasa nyaman ini bisa berubah menjadi risiko ketika hubungan dengan AI menjadi terlalu dalam.

Ketika layanan mendadak diperbarui, diganti modelnya, atau berhenti beroperasi, sebagian pengguna merasakan kehilangan yang berat. Ada yang menggambarkannya seperti ditinggal teman baik dan beberapa bahkan merasakan kesedihan yang tidak mereka duga sebelumnya.

VegOutMag menekankan bahwa hubungan emosional dengan sistem digital rentan karena penggunanya memberi makna pada sesuatu yang tidak memiliki perasaan balik. Fenomena ini juga terasa dekat dengan kondisi di Indonesia. Banyak anak muda yang tinggal di kota besar menghabiskan hari tanpa banyak interaksi sosial.

Kesibukan kerja, pergeseran gaya hidup, sampai jarak dari keluarga membuat ruang sunyi semakin luas. Kehadiran AI kemudian menjadi solusi cepat untuk mengisi kekosongan tersebut. Chatbot bisa menemani saat larut malam, mendengarkan saat hati sedang berat, dan membantu menjawab kegelisahan sehari-hari.

Manfaatnya memang ada. Ada rasa lega setelah mencurahkan isi hati. Ada momen ketika seseorang merasa tidak sendirian. VegOutMag menuliskan bahwa efek positif itu nyata. Tapi artikel tersebut menegaskan bahwa manfaat AI lebih seperti pertolongan pertama yang memberi kenyamanan sesaat, bukan penyembuhan jangka panjang.

Ketergantungan berlebihan justru berisiko membuat pengguna semakin sulit menjalin hubungan nyata dengan orang sekelilingnya. Kenyataannya, sistem digital bisa berubah sewaktu-waktu. Kebijakan platform bisa berganti.

Model AI bisa diperbarui. Dan ketika akses yang selama ini memberi kenyamanan tiba-tiba hilang, perasaan kehilangan dapat terasa sangat mendadak. Masalahnya bukan pada AI itu sendiri. Masalahnya muncul ketika kehadiran AI mulai menggantikan kebutuhan hubungan manusia yang seharusnya tetap menjadi fondasi kesejahteraan emosi.

Karena itu, sangat penting untuk memperlakukan teman AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pusat kehidupan sosial. Kamu boleh memanfaatkannya untuk menenangkan diri atau sekadar melepas penat. Tetapi hubungan manusia tetap harus menjadi yang paling utama.

Obrolan bersama sahabat, bercanda dengan rekan kerja, atau mendengar suara keluarga masih memiliki kekuatan emosional yang tidak bisa digantikan oleh program apa pun.

AI bisa menjadi penopang ringan untuk pikiran yang lelah. Namun rasa aman dan keterhubungan yang paling dalam tetap datang dari manusia lain. Teman digital bisa membantu, tetapi tidak seharusnya menggantikan ruang sosial yang membuat hati benar-benar pulih.

SEBELUMNYA

Antivirus Oseltamivir Langka, Penangangan Virus Influenza A Andalkan Vitamin & Sistem Imun

BERIKUTNYA

Zootopia 2 dan Wicked: For Good Kuasai Box Office Libur Thanksgiving

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga