Tas Anyaman Lombok yang Mendunia: Kisah Jalaluddin Membangun Brand UMKM Rindik Art Shop
28 November 2025 |
21:33 WIB
Sejumlah pelaku IUMKM meramaikan Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan dalam Pertamina SMEXPO 2025, Selasa (25/11/2025). Beragam produk dari kuliner, aksesori, dekorasi rumah, hingga fesyen lokal dipamerkan, menampilkan keberagaman kreativitas UMKM Indonesia.
Setiap stand tampil dengan ciri khasnya sendiri. Dan di antara keramaian itu, sederet tas anyaman khas Lombok dengan sentuhan kerang laut tampak mencuri perhatian pengunjung, berkat desainnya unik dan detail pengerjaannya yang halus. Produk-produk tersebut merupakan karya Rindik Art Shop, UMKM asal Lombok Timur yang lahir dari tekad seorang pengrajin desa untuk mengangkat potensi masyarakatnya.
Baca Juga: Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025
Pendiri Rindik Art Shop, Jalaluddin (37), tidak tumbuh dari latar belakang pendidikan tinggi atau pelatihan formal. Ia hanya menamatkan sekolah dasar karena keterbatasan ekonomi keluarga. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan kerajinan anyaman yang ditekuni kedua orang tuanya. “Saya awalnya mulai jadi pengrajin sejak umur 15 tahunan,” tuturnya.
Karena kondisi ekonomi, Jalaluddin terpaksa merantau menjadi pekerja migran di Malaysia. Ia bolak-balik ke sana hingga lima kali demi mencari penghasilan. Namun perjalanan panjang tersebut justru menuntunnya kembali ke akar.
Pada 2022, setelah pulang dari Malaysia untuk terakhir kalinya, ia merenungkan masa depannya. “Saya bingung mau usaha apa yang bisa membantu masyarakat kami. Sebab keluarga-keluarga kami rata-rata menganyam, tetapi tidak ada yang bisa mengembangkannya,” jelasnya.
Dari kegelisahan itulah Rindik Art Shop lahir. Jalaluddin mulai mengembangkan kerajinan anyaman rumahan menjadi sebuah usaha yang lebih terarah, dengan mimpi agar karya tangan warga desanya bisa dikenal luas.
Sebagai pengrajin, Jalaluddin tidak pernah mengikuti kursus atau pelatihan khusus. Ia belajar secara otodidak, menyerap teknik dari orang tuanya yang sehari-hari menganyam.
Untuk desain, ia justru banyak terinspirasi dari tas kulit. “Dari bahan lain saja bisa bagus, kenapa kita tidak mencoba menggunakan rotan atau anyaman” ungkapnya. Eksperimennya membuahkan ciri khas baru: tas bundar yang kemudian dikombinasikan dengan kerang laut sebagai ornamen. Inovasi sederhana itu menjadi produk paling diminati.
Kini, ia tidak bekerja sendirian. Rindik Art Shop melibatkan para pengrajin desa sebagai bagian dari tim produksi. Satu tas bisa memakan waktu dua hari pengerjaan, tergantung modelnya. Meski menantang, proses ini sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Rindik Art Shop tumbuh cepat. Pesanan tidak hanya datang dari pasar lokal, tetapi juga dari mancanegara. Jalaluddin bercerita bahwa produk-produk mereka telah beberapa kali dipesan pembeli dari Inggris, meski belum melalui jalur ekspor resmi. Bahkan baru-baru ini, seorang pengusaha Afrika datang langsung ke Lombok, awalnya ingin membeli 15 tas, namun setelah melihat kualitasnya, ia memesan 300 buah sekaligus dan membayar uang muka Rp31 juta.
“PR (pekerjaan rumah) saya sekarang bukan produknya, tapi dokumen ekspornya,” kata Jalaluddin sambil tertawa kecil. Meski begitu, ia pernah mengirim produk sendiri ke Singapura setelah bertemu buyer di Inacraft 2024.
Kemajuan Rindik Art Shop semakin terasa setelah mendapatkan pembinaan dari Pertamina. “Sebelum dibina Pertamina, omzet pengrajin hanya di bawah Rp500.000. Setelah dibina, sekarang bisa di atas Rp500.000 sampai Rp1.000.000,” ucapnya penuh syukur.
Bagi Jalaluddin, dukungan Pertamina tidak hanya soal peningkatan ekonomi, tetapi juga akses, pelatihan, dan kesempatan tampil di berbagai pameran besar. “Sangat berpengaruh. Tidak bisa diungkapkan lagi rasa terima kasih kepada Pertamina. Luar biasa Pertamina,” katanya.
Ia kini bahkan mulai dilirik pemerintah daerah dan dipercaya mengelola sebuah gedung UMKM di Lombok.
Dengan kehadiran di berbagai platform digital dari website, Instagram, TikTok, hingga marketplace Rindik Art Shop terus memperkuat pemasaran. Satu hal yang belum tercapai hanyalah masuk ke Alibaba karena keterbatasan dana.
Rindik Art Shop merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Baca juga: Ronald Moreno dan Perjalanan Wastra Modern yang Menembus Pasar Global Hadir di SMEXPO 2025
Setiap stand tampil dengan ciri khasnya sendiri. Dan di antara keramaian itu, sederet tas anyaman khas Lombok dengan sentuhan kerang laut tampak mencuri perhatian pengunjung, berkat desainnya unik dan detail pengerjaannya yang halus. Produk-produk tersebut merupakan karya Rindik Art Shop, UMKM asal Lombok Timur yang lahir dari tekad seorang pengrajin desa untuk mengangkat potensi masyarakatnya.
Baca Juga: Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025
Pendiri Rindik Art Shop, Jalaluddin (37), tidak tumbuh dari latar belakang pendidikan tinggi atau pelatihan formal. Ia hanya menamatkan sekolah dasar karena keterbatasan ekonomi keluarga. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan kerajinan anyaman yang ditekuni kedua orang tuanya. “Saya awalnya mulai jadi pengrajin sejak umur 15 tahunan,” tuturnya.
Karena kondisi ekonomi, Jalaluddin terpaksa merantau menjadi pekerja migran di Malaysia. Ia bolak-balik ke sana hingga lima kali demi mencari penghasilan. Namun perjalanan panjang tersebut justru menuntunnya kembali ke akar.
Pada 2022, setelah pulang dari Malaysia untuk terakhir kalinya, ia merenungkan masa depannya. “Saya bingung mau usaha apa yang bisa membantu masyarakat kami. Sebab keluarga-keluarga kami rata-rata menganyam, tetapi tidak ada yang bisa mengembangkannya,” jelasnya.
Dari kegelisahan itulah Rindik Art Shop lahir. Jalaluddin mulai mengembangkan kerajinan anyaman rumahan menjadi sebuah usaha yang lebih terarah, dengan mimpi agar karya tangan warga desanya bisa dikenal luas.
Sebagai pengrajin, Jalaluddin tidak pernah mengikuti kursus atau pelatihan khusus. Ia belajar secara otodidak, menyerap teknik dari orang tuanya yang sehari-hari menganyam.
Untuk desain, ia justru banyak terinspirasi dari tas kulit. “Dari bahan lain saja bisa bagus, kenapa kita tidak mencoba menggunakan rotan atau anyaman” ungkapnya. Eksperimennya membuahkan ciri khas baru: tas bundar yang kemudian dikombinasikan dengan kerang laut sebagai ornamen. Inovasi sederhana itu menjadi produk paling diminati.
Kini, ia tidak bekerja sendirian. Rindik Art Shop melibatkan para pengrajin desa sebagai bagian dari tim produksi. Satu tas bisa memakan waktu dua hari pengerjaan, tergantung modelnya. Meski menantang, proses ini sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Rindik Art Shop tumbuh cepat. Pesanan tidak hanya datang dari pasar lokal, tetapi juga dari mancanegara. Jalaluddin bercerita bahwa produk-produk mereka telah beberapa kali dipesan pembeli dari Inggris, meski belum melalui jalur ekspor resmi. Bahkan baru-baru ini, seorang pengusaha Afrika datang langsung ke Lombok, awalnya ingin membeli 15 tas, namun setelah melihat kualitasnya, ia memesan 300 buah sekaligus dan membayar uang muka Rp31 juta.
“PR (pekerjaan rumah) saya sekarang bukan produknya, tapi dokumen ekspornya,” kata Jalaluddin sambil tertawa kecil. Meski begitu, ia pernah mengirim produk sendiri ke Singapura setelah bertemu buyer di Inacraft 2024.
Kemajuan Rindik Art Shop semakin terasa setelah mendapatkan pembinaan dari Pertamina. “Sebelum dibina Pertamina, omzet pengrajin hanya di bawah Rp500.000. Setelah dibina, sekarang bisa di atas Rp500.000 sampai Rp1.000.000,” ucapnya penuh syukur.
Bagi Jalaluddin, dukungan Pertamina tidak hanya soal peningkatan ekonomi, tetapi juga akses, pelatihan, dan kesempatan tampil di berbagai pameran besar. “Sangat berpengaruh. Tidak bisa diungkapkan lagi rasa terima kasih kepada Pertamina. Luar biasa Pertamina,” katanya.
Ia kini bahkan mulai dilirik pemerintah daerah dan dipercaya mengelola sebuah gedung UMKM di Lombok.
Dengan kehadiran di berbagai platform digital dari website, Instagram, TikTok, hingga marketplace Rindik Art Shop terus memperkuat pemasaran. Satu hal yang belum tercapai hanyalah masuk ke Alibaba karena keterbatasan dana.
Rindik Art Shop merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Baca juga: Ronald Moreno dan Perjalanan Wastra Modern yang Menembus Pasar Global Hadir di SMEXPO 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.