Astrid Victoria, pendiri Bleu by Astrid. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Bleu by Astrid Tampil Memikat di SMEXPO 2025 dengan Karya Rajutnya

27 November 2025   |   15:48 WIB
Image
Aira Shakuntala Wardhana Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Di tengah riuhnya Pertamina SMEXPO 2025 di Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan, Selasa (25/11/2025), deretan tas rajut berwarna lembut di salah satu booth tampak menarik perhatian pengunjung. Motifnya rapi, detailnya halus, dan setiap produk memiliki karakter berbeda.

Di balik karya-karya itu adalah Bleu by Astrid, sebuah UMKM rajut asal Balikpapan yang lahir bukan dari pabrik besar, melainkan dari lingkaran kecil para perempuan lansia yang menemukan kembali kebahagiaan masa mudanya lewat merajut.

Baca juga: Dari Minuman Rempah ke Kosmetik Herbal, Sekar Jawi Unjuk Diri di SMEXPO 2025

Astrid Victoria (45), sang pendiri, tersenyum ketika menceritakan bahwa usaha ini bermula dari sekadar hobi membuat tas rajut. Namun ketika ibunya dan para oma di sekitar rumah ikut nimbrung, suasana berubah menjadi ruang nostalgia yang produktif.

“Awalnya Bleu by Astrid ini dibikin dari hobi saya. Ternyata mama saya, oma-oma di sekitar rumah itu bisa merajut. Mereka nostalgia karena zaman dulu memang diajari merajut,” ujarnya. Dari komunitas kecil inilah, brand yang kini dikenal sebagai salah satu UMKM rajut paling populer di Balikpapan mulai tumbuh dan menemukan jalannya.

Permintaan yang terus bermunculan membuat kegiatan merajut yang awalnya hanya untuk memenuhi pesanan kecil-kecilan berkembang menjadi brand resmi. “Awalnya belum jadi brand, cuma bikinkan buat yang pesan. Lama-kelamaan banyak permintaan di Balikpapan, akhirnya jadilah brand Bleu by  Astrid,” jelasnya. Pada fase awal, empat lansia menjadi pengrajin tetap. Sekarang, jumlah itu telah berkembang, mencakup pula pengrajin muda.

Saat ini terdapat sembilan pengrajin aktif dengan kecepatan kerja berbeda. “Ada yang sehari bisa satu tas besar. Tapi ada juga yang tiga hari satu tas. Kalau dalam satu bulan produksi santai tanpa permintaan besar, bisa sampai 50–100 item,” kata Astrid.

Tas blue bear suit, amigurumi, dan bag charm menjadi deretan produk yang paling diminati, dengan permintaan bag charm saat ini meningkat paling pesat. Brand tersebut juga melayani pesanan custom, terutama untuk baju rajut yang membutuhkan bahan berkualitas karena harus nyaman dikenakan. Sementara itu, pesanan khusus untuk tas biasanya berfokus pada variasi warna dan model.
 

Koleksi rajutan Bleu by Astrid. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Koleksi rajutan Bleu by Astrid. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Nama brand Blue by Astrid memiliki makna tersendiri. “Blue itu simbol perempuan yang kreatif, mandiri, dan cerdas,” tuturnya. Filosofi ini semakin kuat karena seluruh pengrajin adalah perempuan, dari lansia hingga anak muda.

Selain memproduksi tas dan amigurumi, Astrid juga aktif mengajar di panti asuhan, komunitas, hingga pelatihan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). “Awalnya hanya mengajar di Balikpapan dan Samarinda. Sekarang jadi kegiatan rutin, termasuk private class,” jelasnya.

Astrid menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan usahanya adalah menemukan pengrajin berkualitas di Balikpapan, sebab jumlahnya tidak sebanyak di Jawa. Ia menambahkan bahwa meski bahan baku mudah diperoleh, harganya cenderung lebih tinggi karena sebagian besar harus didatangkan dari Jawa.

Untuk mencari pengrajin baru, Astrid biasanya membuka workshop sebagai proses seleksi. Menurutnya, “Dari workshop tiga sampai lima hari bisa kelihatan siapa yang bisa. Kami pilih yang rapi dan mau kerja sama,” ujarnya.

Astrid menjelaskan bahwa perkembangan besar mulai terjadi sejak Bleu by Astrid menjadi mitra binaan Pertamina. Pada tahap awal, mereka mengikuti proses kurasi calon binaan dan setelah dinyatakan lolos, mendapatkan berbagai pelatihan seperti digital marketing dan penyusunan laporan keuangan.

Seluruh dukungan tersebut diberikan secara gratis. Melalui kurasi lanjutan, brand ini juga berkesempatan tampil di berbagai event nasional, seperti Pertamina SMEXPO hingga  Inacraft.


Prospek Ekspor

Di Balikpapan, Bleu by Astrid memiliki enam consignment store. Astrid menyebut bahwa gerainya berada di Matahari Plaza Balikpapan, hotel Four Points, NEO, dan beberapa galeri lainnya. Untuk penjualan daring, ia menjelaskan bahwa brand tersebut aktif di marketplace dan rutin mengikuti pameran lokal maupun nasional.

Meski belum ekspor resmi, beberapa produk sudah dibawa ke luar negeri oleh pelanggan seperti anting-anting yang dikirim sampai ke Australia, atau tas yang dipesan ke Singapura. "Untuk memenuhi standar ekspor, produk harus benar-benar bagus, siap dokumen, dan harga disesuaikan," tegas Astrid.

Dalam pesanan besar seperti ratusan souvenir dalam dua minggu, Astrid mengerahkan jejaring pengrajin hasil workshop. “Kemarin baru dapat souvenir ratusan tas simple dalam dua minggu. Karena saya mengajar, jadi bisa bantu kerahkan banyak pengrajin,” jelasnya.

Kini, Bleu by Astrid memiliki 12 pengrajin aktif dan puluhan pengrajin tambahan yang bisa dipanggil saat ada pesanan besar. Astrid berharap brand ini semakin maju dan dikenal luas. “Bisa lebih maju lagi, dikenal Indonesia, dan para lansia serta pengrajin bisa makin berkembang,” tutupnya.

Bleu by Astrid merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Batik Mierto (Poenja) Tampilkan Wastra Premium Bernuansa Kekinian di SMEXPO 2025

BERIKUTNYA

Eksplorasi Karya Sastra, FTI 2025 Hadirkan 20 Pertunjukan Lintas Nusantara

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga