Raffaella di SMEXPO 2025: Perpaduan Denim–Wastra dalam Ketekunan Euis Widyaningsih
27 November 2025 |
08:00 WIB
Di tengah ramainya Pertamina SMEXPO 2025 di Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan, terpajang busana denim berpadu motif wastra Nusantara. Di balik produk-produk itu berdiri Euis Widyaningsih, perempuan asal Bandung yang membangun brand Raffaella melalui perjalanan panjang penuh eksperimen dan ketekunan.
Ia bercerita bahwa kecintaan terhadap wastra nusantara adalah pondasi dari seluruh proses kreatifnya. “Awal mula dibangun itu karena kecintaan aku sama wastra nusantara. Aku senang banget menggunakan baju denim dan pengen denim bisa dipakai di segala suasana,” ujarnya membuka percakapan.
Baca juga: Mahacinta Jewelry Tampilkan Perhiasan Batu Alam Bernilai Budaya Melayu di SMEXPO 2025
Euis ingin denim tidak hanya dipakai untuk penampilan kasual, tetapi juga untuk acara yang lebih rapi dan formal. “Biar denim itu bisa dipakai di segala suasana. Misalnya formal, buat casual, buat main, buat jalan,” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Selasa (25/11/2025).
Gagasan tersebut muncul dari kebiasaannya membeli tenun dan batik setiap kali menemani suaminya dinas ke berbagai daerah. Koleksi kain yang terus menumpuk membuatnya mencari cara agar semuanya tetap berguna. Ia kemudian mencoba memadukan wastra dengan denim dan, menurutnya, hasilnya justru banyak disukai.
Padanan denim dan wastra itu kini menjadi ciri kuat Raffaella. Euis sendiri menyukai desain yang memiliki karakter namun tetap nyaman digunakan sehari-hari.
Nama Raffaella pun tidak dipilih secara tiba-tiba. Ada unsur kedekatan keluarga yang melekat di dalamnya. “Aku ambil dari nama anak-anak, Raffa, Rafif, Sifa. Jadi digabung,” jelasnya—menunjukkan betapa brand ini memiliki makna personal baginya.
Brand Raffaella mulai dirintis pada 2019, tapi sempat terhenti akibat pandemi. Setelah situasi membaik, Euis melanjutkannya kembali dengan semangat baru. Ia menegaskan bahwa modal awal usaha ini sepenuhnya berasal dari dana pribadi, tanpa campur tangan pihak lain.
Pengalaman bisnisnya sendiri sudah dimulai jauh sebelum pindah ke Bandung. Setelah sebelumnya berbisnis di Depok, ia mempelajari pasar dan kebiasaan konsumen di kota barunya. Dari proses itu, ide-ide desain mulai bermunculan hingga akhirnya ia membangun brandnya sendiri.
Dalam proses produksi, Euis memilih bekerja dengan penjahit tailor ketimbang konveksi massal. “Penjahitnya aku tailor, bukan konveksi. Tapi dia bisa cepat,” ujarnya. Jumlah penjahit yang membantunya pun fleksibel, biasanya empat hingga lima orang. Di luar itu, ia tidak memiliki karyawan tetap kecuali SPG saat pameran.
Model penjualan yang ia jalankan pun disesuaikan dengan kapasitas produksi. “Sekarang lagi dari pameran ke pameran,” katanya. Ia menambahkan bahwa kanal online sedang tidak terlalu optimal baginya. “Online kebetulan saya lagi kurang bagus.”
Selama bulan November, penjualan meningkat signifikan karena banyak pelanggan yang memesan desain khusus. “Banyak custom, jadi hampir seratus,” tuturnya. Namun pencapaian terbesar bulan itu datang dari kepercayaan Pertamina yang memberi pesanan untuk seragam para UMKM peserta SMEXPO.
“Pertamina enggak segan-segan langsung UMKM dikasih kepercayaan. Mereka order seragam ke kita,” jelasnya. Pengerjaannya pun harus dilakukan dalam waktu sangat cepat. “Dua hari mengerjakan itu dan Alhamdulillah selesai,” ujarnya bangga.
Euis menyebut bahwa dukungan Pertamina menjadi bantuan besar dalam perjalanan usahanya. Ia menilai bahwa Pertamina benar-benar membantu UMKM dari berbagai aspek, mulai dari pelatihan, kurasi, pendampingan, hingga peluang penjualan, yang menurutnya sangat memperkuat perkembangan bisnisnya.
Ia menjelaskan bahwa program inkubasi serta berbagai pelatihan yang ia ikuti memberikan banyak ilmu baru. Menurutnya, pendampingan tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan bisnis, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri. Ia merasa mental para pelaku UMKM benar-benar dibangun agar lebih yakin bahwa produk yang mereka miliki bernilai dan layak dibawa ke pasar.
Walau kini usianya 54 tahun, Euis tetap menjalankan sebagian besar proses bisnis secara mandiri. “Walaupun usia sudah kepala lima, masih tetap mau berkarya dan tidak tergantung orang,” ujarnya. Tantangan terbesar baginya adalah pemasaran.
“Marketing itu PR buat saya banget,” kata Euis. Ke depan, ia ingin memperkuat personal branding agar produknya makin dikenal. “Saya pengen lebih menguasai lagi bidang pemasaran. Personal branding juga harus,” tambahnya.
Sebelum wawancara berakhir, Euis memberi pesan untuk anak muda yang ingin memulai bisnis. “Jangan takut segi pembiayaan. Asal ada kemauan, asal ada obsesi, itu semua pasti bisa,” ujarnya menutup pembicaraan.
Dengan karakter produk yang kuat dan kerja keras yang tidak kenal usia, Euis Widyaningsih menghadirkan Raffaella sebagai wujud kecintaan terhadap wastra dan keinginan untuk terus berkarya. Gelaran SMEXPO 2025 menjadi salah satu bukti bahwa ruang kreasi bagi UMKM tetap terbuka luas selama ada tekad dan keberanian untuk melangkah.
Raffaella merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ia bercerita bahwa kecintaan terhadap wastra nusantara adalah pondasi dari seluruh proses kreatifnya. “Awal mula dibangun itu karena kecintaan aku sama wastra nusantara. Aku senang banget menggunakan baju denim dan pengen denim bisa dipakai di segala suasana,” ujarnya membuka percakapan.
Baca juga: Mahacinta Jewelry Tampilkan Perhiasan Batu Alam Bernilai Budaya Melayu di SMEXPO 2025
Euis ingin denim tidak hanya dipakai untuk penampilan kasual, tetapi juga untuk acara yang lebih rapi dan formal. “Biar denim itu bisa dipakai di segala suasana. Misalnya formal, buat casual, buat main, buat jalan,” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Selasa (25/11/2025).
Gagasan tersebut muncul dari kebiasaannya membeli tenun dan batik setiap kali menemani suaminya dinas ke berbagai daerah. Koleksi kain yang terus menumpuk membuatnya mencari cara agar semuanya tetap berguna. Ia kemudian mencoba memadukan wastra dengan denim dan, menurutnya, hasilnya justru banyak disukai.
Padanan denim dan wastra itu kini menjadi ciri kuat Raffaella. Euis sendiri menyukai desain yang memiliki karakter namun tetap nyaman digunakan sehari-hari.
Nama Raffaella pun tidak dipilih secara tiba-tiba. Ada unsur kedekatan keluarga yang melekat di dalamnya. “Aku ambil dari nama anak-anak, Raffa, Rafif, Sifa. Jadi digabung,” jelasnya—menunjukkan betapa brand ini memiliki makna personal baginya.
Brand Raffaella mulai dirintis pada 2019, tapi sempat terhenti akibat pandemi. Setelah situasi membaik, Euis melanjutkannya kembali dengan semangat baru. Ia menegaskan bahwa modal awal usaha ini sepenuhnya berasal dari dana pribadi, tanpa campur tangan pihak lain.
Pengalaman bisnisnya sendiri sudah dimulai jauh sebelum pindah ke Bandung. Setelah sebelumnya berbisnis di Depok, ia mempelajari pasar dan kebiasaan konsumen di kota barunya. Dari proses itu, ide-ide desain mulai bermunculan hingga akhirnya ia membangun brandnya sendiri.
Dalam proses produksi, Euis memilih bekerja dengan penjahit tailor ketimbang konveksi massal. “Penjahitnya aku tailor, bukan konveksi. Tapi dia bisa cepat,” ujarnya. Jumlah penjahit yang membantunya pun fleksibel, biasanya empat hingga lima orang. Di luar itu, ia tidak memiliki karyawan tetap kecuali SPG saat pameran.
Model penjualan yang ia jalankan pun disesuaikan dengan kapasitas produksi. “Sekarang lagi dari pameran ke pameran,” katanya. Ia menambahkan bahwa kanal online sedang tidak terlalu optimal baginya. “Online kebetulan saya lagi kurang bagus.”

Koleksi denim Raffaella. (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Selama bulan November, penjualan meningkat signifikan karena banyak pelanggan yang memesan desain khusus. “Banyak custom, jadi hampir seratus,” tuturnya. Namun pencapaian terbesar bulan itu datang dari kepercayaan Pertamina yang memberi pesanan untuk seragam para UMKM peserta SMEXPO.
“Pertamina enggak segan-segan langsung UMKM dikasih kepercayaan. Mereka order seragam ke kita,” jelasnya. Pengerjaannya pun harus dilakukan dalam waktu sangat cepat. “Dua hari mengerjakan itu dan Alhamdulillah selesai,” ujarnya bangga.
Euis menyebut bahwa dukungan Pertamina menjadi bantuan besar dalam perjalanan usahanya. Ia menilai bahwa Pertamina benar-benar membantu UMKM dari berbagai aspek, mulai dari pelatihan, kurasi, pendampingan, hingga peluang penjualan, yang menurutnya sangat memperkuat perkembangan bisnisnya.
Ia menjelaskan bahwa program inkubasi serta berbagai pelatihan yang ia ikuti memberikan banyak ilmu baru. Menurutnya, pendampingan tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan bisnis, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri. Ia merasa mental para pelaku UMKM benar-benar dibangun agar lebih yakin bahwa produk yang mereka miliki bernilai dan layak dibawa ke pasar.
Walau kini usianya 54 tahun, Euis tetap menjalankan sebagian besar proses bisnis secara mandiri. “Walaupun usia sudah kepala lima, masih tetap mau berkarya dan tidak tergantung orang,” ujarnya. Tantangan terbesar baginya adalah pemasaran.
“Marketing itu PR buat saya banget,” kata Euis. Ke depan, ia ingin memperkuat personal branding agar produknya makin dikenal. “Saya pengen lebih menguasai lagi bidang pemasaran. Personal branding juga harus,” tambahnya.
Sebelum wawancara berakhir, Euis memberi pesan untuk anak muda yang ingin memulai bisnis. “Jangan takut segi pembiayaan. Asal ada kemauan, asal ada obsesi, itu semua pasti bisa,” ujarnya menutup pembicaraan.
Dengan karakter produk yang kuat dan kerja keras yang tidak kenal usia, Euis Widyaningsih menghadirkan Raffaella sebagai wujud kecintaan terhadap wastra dan keinginan untuk terus berkarya. Gelaran SMEXPO 2025 menjadi salah satu bukti bahwa ruang kreasi bagi UMKM tetap terbuka luas selama ada tekad dan keberanian untuk melangkah.
Raffaella merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.