Susu sapi (Sumber gambar: Unsplash/ Mehrshad Rajabi)

Raw Milk dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

24 November 2025   |   16:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Belakangan ini, topik mengenai raw milk atau susu mentah kembali mencuri perhatian publik. Di media sosial, seorang ibu bahkan mengaku rutin memberikan susu sapi mentah kepada keluarganya dengan membeli produk tersebut langsung dari peternak.

Raw milk adalah susu yang belum melewati proses pasteurisasi. Produk ini kerap dipromosikan sebagai pilihan yang lebih “alami” karena tidak mengalami pengolahan sehingga nutrisinya lebih baik. Padahal, di balik itu, tingkat risikonya terhadap kesehatan juga sangat tinggi.

Baca juga: Mengenal Penyebab dan Ciri-ciri Anak Alergi Susu Sapi

Dokter spesialis gizi klinik Eva Kurniawati menjelaskan bahwa susu tanpa pasteurisasi mengandung potensi paparan bakteri dan kuman dalam jumlah besar. Di dalamnya dapat ditemukan mikroorganisme berbahaya seperti Campylobacter, Cryptosporidium, E. coli, Listeria, Brucella, hingga Salmonella.

Paparan bakteri berbahaya dari susu mentah dapat menimbulkan berbagai penyakit, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, serta individu dengan kekebalan tubuh yang lemah. Kelompok ini lebih mudah mengalami infeksi karena sistem pertahanan tubuh mereka tidak sekuat orang dewasa sehat.

Dokter Eva menjelaskan bahwa gejala awal keracunan akibat konsumsi raw milk biasanya berupa diare, kram perut, dan muntah. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi berat seperti Guillain-Barré syndrome atau hemolytic uremic syndrome, yang berpotensi menyebabkan kelumpuhan, gagal ginjal, bahkan berujung pada kematian.

Atas pertimbangan tersebut, dokter Eva menekankan pentingnya bagi orang tua untuk memilih susu yang telah melalui proses standar keamanan pangan yang baik, terutama jika diberikan kepada anak-anak. Pasteurisasi menjadi metode utama untuk memastikan keamanan konsumsi karena mampu membunuh bakteri berbahaya, memperpanjang daya simpan produk, dan menjaga mutu serta keamanan susu bagi masyarakat.

“Setiap kali memberikan sesuatu kepada anak, pastikan untuk menelaah literatur terlebih dahulu. Tidak ada perbedaan nutrisi yang signifikan antara raw milk dan susu pasteurisasi, sementara potensi bahayanya pada susu mentah jelas jauh lebih besar,” ungkapnya.

Dokter Eva juga menyampaikan beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua saat memberikan susu kepada anak. Dia menekankan pentingnya memilih produk susu yang sudah dipasteurisasi, membaca label dengan teliti, serta memastikan masa berlakunya masih aman. Produk susu juga harus segera disimpan di lemari pendingin untuk menghambat pertumbuhan bakteri.

Selain itu, dirinya mengingatkan bahwa bakteri bisa berkembang pesat pada suhu antara 40°F hingga 140°F (4,4°C hingga 60°C). Karena alasan tersebut, produk olahan susu tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setelah berada di suhu ruang lebih dari dua jam, atau lebih dari satu jam jika berada pada suhu di atas 90°F (32,2°C), misalnya di dalam mobil yang panas atau di area luar ruangan yang terkena sinar matahari langsung.


Fokus pada Pola Makan

Dokter spesialis anak I Gusti Ayu Nyoman Partiwi menjelaskan bahwa kekhawatiran utama ketika anak mengonsumsi raw milk adalah kemungkinan terpapar bakteri pada susu segar yang masih mentah. Kontaminasi ini dapat terjadi karena bakteri dari area ambing sapi ikut terbawa saat proses pemerahan, terlebih karena sapi perah kerap mengalami peradangan.

Memang, katanya, proses pemanasan seperti pasteurisasi dapat memengaruhi sebagian komponen bioaktif dalam susu. Namun, perubahan tersebut umumnya tidak besar. Selain itu, bagi anak usia di atas satu tahun, susu juga sebenarnya bukan lagi menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan nutrisi harian mereka.

Oleh karena itu, menurut dokter yang akrab disapa Tiwi ini, alih-alih berdebat soal nilai nutrisi, alangkah jauh lebih penting adalah melihat persoalan ini dari aspek keamanan pangan. Sebab, pasteurisasi memainkan peranan signifikan dalam menurunkan risiko paparan bakteri patogen pada susu mentah.

"Setelah anak berusia di atas 1 tahun, sumber nutrisi utama anak adalah makanan padat, sedangkan susu hanya menjadi pelengkap kebutuhan gizi," tegas dokter Tiwi.

Apabila orang tua ingin menerapkan pola makan yang lebih “alami”, fokus utama sebaiknya diarahkan pada penyediaan menu yang beragam agar seluruh kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi. Dalam konteks konsumsi susu, dua zat gizi yang umumnya menjadi perhatian adalah kalsium dan protein hewani. Jika susu bukan prioritas, kebutuhan keduanya tetap dapat dipenuhi melalui berbagai bahan pangan lain.

Sumber protein hewani yang dapat menjadi pilihan antara lain telur, ikan, daging ayam, dan daging merah. Untuk kalsium, asupan dapat diperoleh dari pangan seperti ikan teri, beragam makanan laut, serta beberapa jenis sayuran seperti brokoli. Dengan mengatur pilihan makanan yang tepat dan seimbang, kebutuhan kalsium dan protein anak tetap dapat dicukupi tanpa menjadikan susu sebagai sumber utama.

Pada prinsipnya, makanan bagi bayi dan anak tidak perlu terlalu berbeda dari pola makan sehat keluarga, atau yang dikenal sebagai “makanan keluarga”. Makanan rumahan yang bergizi seimbang dapat menjadi contoh konkret bagi anak mengenai pola konsumsi yang baik.

Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan makan anak, karena pola perilaku anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya. Oleh karena itu, masa kanak-kanak dini menjadi periode penting dalam menanamkan kebiasaan makan sehat yang akan berdampak jangka panjang.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

7 Pemimpin Termuda di Dunia Wajah Baru Kepemimpinan Global

BERIKUTNYA

Bohopanna Perluas Segmen ke Sportswear Anak, Hadirkan Outfit Padel hingga Basket

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga