Pariwisata (Sumber gambar: Unsplash/Daniele D'Andreti)

Wisata Berbasis Seni & Budaya di Indonesia Digandrungi Turis Asing

20 November 2025   |   15:05 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Wisata berbasis seni dan budaya kini menjadi primadona di kalangan wisatawan mancanegara. Tren ini menunjukkan bahwa pengalaman yang menawarkan kekayaan tradisi makin dicari sebagai bagian dari perjalanan liburan sejalan dengan berkembangnya gaya hidup slow traveling.

Mengacu pada laporan Statistik Pengeluaran Wisatawan Mancanegara 2024 yang dirilis BPS, lima jenis wisata yang paling diminati mencakup Wisata Seni & Kuliner (57,94 persen), Wisata Perkotaan (48,52 persen), Wisata Bahari (43,32 persen), Wisata Petualangan (41,45 persen), serta Wisata Budaya & Religi (36,88 persen).

Baca juga: 5 Destinasi di Indonesia yang Cocok Untuk Slow Travel: Dari Ubud sampai Labuan Bajo

Guru Besar Pariwisata Unud Putu Anom mengatakan kuatnya minat terhadap wisata seni dan budaya menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara kini mencari pengalaman berlibur yang lebih menekankan pada makna.

Menurutnya, wisatawan saat ini tidak lagi hanya mencari hiburan, tetapi juga ingin menjalin interaksi langsung dengan nilai-nilai lokal yang tidak mereka temui di negara asal.

Dia menekankan bahwa esensi dari perjalanan wisata adalah keinginan untuk melihat sesuatu yang berbeda. Perbedaan inilah yang pada umumnya menjadi prioritas utama wisatawan dalam memilih destinasi. "Hal-hal unik yang tidak tersedia di negara asal mereka, memang selalu menjadi magnet kuat bagi turis, termasuk di Indonesia," ucapnya.

Dia mencontohkan wisatawan asing yang berkunjung ke Bali. Banyak dari mereka tertarik melihat pura dan aktivitas ritual di dalamnya karena hal tersebut memberi pengalaman yang benar-benar baru bagi mereka.

Namun, kata Anom, budaya kemudian jangan disalahpahami sebagai sebatas ritus. Sebab, budaya memiliki cakupan yang luas, mulai dari seni, bahasa, religi, cara hidup, mata pencaharian, hingga sistem sosial. Keunikan dari unsur-unsur inilah yang membentuk daya tarik budaya di suatu daerah.

"Kita punya banyak sekali keragaman soal ini, dari Dayak, Jawa, Madura, dan lainnya, setiap daerah sebenarnya memiliki potensi besar untuk menampilkan kekhasannya," imbuhnya.

Namun, dia menyoroti bahwa tata kelola pariwisata seni dan budaya belum optimal. Menurutnya, perlu ada pengelolaan yang lebih baik serta peta jalan yang jelas agar pengembangan pariwisata berbasis kekayaan budaya dapat berjalan maksimal.

"Misalnya, soal budaya kuliner. Sejauh ini kan masih banyaknya untuk lokal. Ini juga perlu diperkenalkan ke wisman, tetapi perlu ada penyesuaian, dari rasa misalnya atau kualitas, kebersihan, dan sebagainya yang lebih terstandar," jelasnya.

Menurutnya, tanggung jawab utama untuk menampilkan keunikan budaya ada pada pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata hanya berperan mengoordinasikan dan memberikan arahan, sementara kreativitas dalam pengembangan destinasi harus muncul dari daerah.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan bahwa Kemenpar juga baru-baru ini juga menyelenggarakan Familiarization Trip (famtrip) kuliner untuk enam Travel Agent/Tour Operator (TA/TO) dari Malaysia. Menurutnya, kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kolaborasi pariwisata Indonesia–Malaysia, terutama dalam mendorong pengembangan destinasi di luar Bali.

Program famtrip tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran dan ketertarikan pasar Malaysia terhadap berbagai destinasi Indonesia melalui pengalaman langsung mencicipi kekayaan kuliner Nusantara. Selain itu, kegiatan ini diharapkan turut memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi budaya dan kuliner berkelas dunia.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta diajak mengeksplorasi sejumlah destinasi unggulan di tiga kota. Di Semarang, mereka menikmati sajian kuliner tradisional di D’Kamboja Heritage Dapur Ndeso by Anne Avantie, mengunjungi Sam Poo Kong Temple, serta merasakan atmosfer malam Kota Lama dan Lawang Sewu.

Di Solo, rombongan menyambangi Pura Mangkunegaran, bersantap di Pracimasana Restaurant, dan berkeliling Kampung Batik Kauman. Sementara di Yogyakarta, mereka mengunjungi Candi Borobudur, mengikuti lokakarya kuliner di Bhumi Bhuvana—bagian dari program WISH (Wonderful Indonesia Scale Up Hub) melalui kegiatan Boja: The Magic Table yang memperkenalkan berbagai cita rasa Nusantara seperti Sambal Ganja khas Aceh.

“Melalui pendekatan berbasis pengalaman seperti ini, kami ingin memperkuat posisi Indonesia sebagai a world-class culinary and cultural destination, sekaligus memperluas jangkauan pasar Malaysia terhadap destinasi baru di Indonesia,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pariwisata

SEBELUMNYA

Alasan Novel Perahu Kertas Bakal Dihidupkan Lagi Lewat Pertunjukan Musikal

BERIKUTNYA

Sadie Sink Siap Debut di West End dalam Romeo & Juliet

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga