Aksi Panggung Tulus Tutup Meriah Jazz Goes to Campus 2025
10 November 2025 |
08:00 WIB
Lampu panggung berwarna-warni yang menyorot area Pertamina Stage di ajang Jazz Goes to Campus (JGTC) 2025 semakin menambah kemeriahan suasana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Minggu (9/11/2025) malam.
Ratusan penonton memadati area festival sambil menikmati konser penyanyi asal Bukittinggi itu. Momen ini terekam saat Tulus, dengan suara khasnya, berhasil membius penonton untuk larut dalam alunan musik yang hangat ketika ia melantunkan tembang “Lagu untuk Matahari.”
Baca juga: Lantunan Nostalgia Candra Darusman Satukan Generasi di Jazz Goes to Campus 2025
“Selamat malam, apa kabar? Semoga semua bahagia. Malam ini tentu akan menjadi malam istimewa karena saya akan menyanyikan lagu-lagu yang baru saya siapkan tadi siang,” ucapnya setelah menyapa penonton.
Tampil dengan kemeja hitam dan celana kasual, kehadiran Tulus di atas panggung disambut antusias para penonton yang didominasi anak muda. Semakin malam, ajang festival tahunan ini makin ramai, terlebih setelah tembang pertama dibawakan dengan pembuka musik khas milik Tulus.
Musisi berusia 38 tahun itu kemudian membuat gebrakan dengan menyanyikan lagu “Kelana.” Sepintas, lirik lagu ini menggambarkan pencarian jati diri dan makna hidup, terutama ketika seseorang merasa terjebak dalam rutinitas kota yang sibuk.
Diiringi video grafis hitam-putih yang memikat, Tulus melanjutkan penampilannya dengan lagu “Monokrom.” Tembang tersebut membuat penonton turut bernyanyi lirih, terbawa emosi yang campur aduk.
“Akan ada lagu Interaksi dan yang lain, meski tidak semuanya akan hadir secara utuh. Kalau teman-teman tahu lagunya, mari kita nyanyi bareng,” ujarnya sebelum menggeber tembang “Tergila-gila” dan “Labirin,” yang dibawakan dengan sentuhan jazz lembut.
Suasana hangat masih terasa hingga Tulus melanjutkan aksi panggungnya lewat “Adu Rayu.” Lagu ini membuat semangat penonton kembali riang, banyak yang ikut bernyanyi bersama mengikuti irama.
Penampilan dilanjutkan dengan “Jatuh Suka,” disertai tayangan video wajah-wajah penonton yang khusyuk bernyanyi. Malam itu, panggung Pertamina JGTC 2025 juga diguncang oleh lagu “Sepatu.”
“Hafal enggak lagu ini?” teriak Tulus yang langsung disambut sorak-sorai penonton. “Senang sejauh ini? Ada yang malam ini baru pertama kali nonton saya di panggung? Karena masih ada beberapa lagu, mari kita lanjut ke lagu berikutnya — ini dia Hati-hati di Jalan,” katanya.
Konser terus berlanjut dengan deretan lagu populer Tulus yang diaransemen ulang dengan sentuhan jazz, menampilkan kekuatan suara bariton khasnya. Puncak penampilan terjadi saat ia membawakan “Tujuh Belas” dengan latar video timelapse berisi arsip foto anak-anak muda dari masa ke masa — menghadirkan nostalgia yang kuat di tengah gemuruh tepuk tangan.
Selain Tulus, JGTC 2025 juga menampilkan deretan musisi ternama. Barry Likumahuwa and The Rhythm Service berkolaborasi dengan Indra Dauna dan Rega Dauna dalam persembahan Tribute to Stevie Wonder. Sementara itu, Galaxy Big Band bersama Alonzo Brata membawakan karya-karya legendaris Frank Sinatra.
Penampilan spesial lainnya datang dari Chandra Darusman bersama Nikita Dompas & Detik Waktu Quartet, featuring Ardhito Pramono, Bilal Indrajaya, dan Monita Tahalea, lewat persembahan “Detik Waktu #2: Perjalanan Karya Cipta Chandra Darusman.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ratusan penonton memadati area festival sambil menikmati konser penyanyi asal Bukittinggi itu. Momen ini terekam saat Tulus, dengan suara khasnya, berhasil membius penonton untuk larut dalam alunan musik yang hangat ketika ia melantunkan tembang “Lagu untuk Matahari.”
Baca juga: Lantunan Nostalgia Candra Darusman Satukan Generasi di Jazz Goes to Campus 2025
“Selamat malam, apa kabar? Semoga semua bahagia. Malam ini tentu akan menjadi malam istimewa karena saya akan menyanyikan lagu-lagu yang baru saya siapkan tadi siang,” ucapnya setelah menyapa penonton.
Tampil dengan kemeja hitam dan celana kasual, kehadiran Tulus di atas panggung disambut antusias para penonton yang didominasi anak muda. Semakin malam, ajang festival tahunan ini makin ramai, terlebih setelah tembang pertama dibawakan dengan pembuka musik khas milik Tulus.
Musisi berusia 38 tahun itu kemudian membuat gebrakan dengan menyanyikan lagu “Kelana.” Sepintas, lirik lagu ini menggambarkan pencarian jati diri dan makna hidup, terutama ketika seseorang merasa terjebak dalam rutinitas kota yang sibuk.
Diiringi video grafis hitam-putih yang memikat, Tulus melanjutkan penampilannya dengan lagu “Monokrom.” Tembang tersebut membuat penonton turut bernyanyi lirih, terbawa emosi yang campur aduk.
“Akan ada lagu Interaksi dan yang lain, meski tidak semuanya akan hadir secara utuh. Kalau teman-teman tahu lagunya, mari kita nyanyi bareng,” ujarnya sebelum menggeber tembang “Tergila-gila” dan “Labirin,” yang dibawakan dengan sentuhan jazz lembut.

Penampilan Tulus di Jazz Goes to Campus 2025, Minggu (9/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Suasana hangat masih terasa hingga Tulus melanjutkan aksi panggungnya lewat “Adu Rayu.” Lagu ini membuat semangat penonton kembali riang, banyak yang ikut bernyanyi bersama mengikuti irama.
Penampilan dilanjutkan dengan “Jatuh Suka,” disertai tayangan video wajah-wajah penonton yang khusyuk bernyanyi. Malam itu, panggung Pertamina JGTC 2025 juga diguncang oleh lagu “Sepatu.”
“Hafal enggak lagu ini?” teriak Tulus yang langsung disambut sorak-sorai penonton. “Senang sejauh ini? Ada yang malam ini baru pertama kali nonton saya di panggung? Karena masih ada beberapa lagu, mari kita lanjut ke lagu berikutnya — ini dia Hati-hati di Jalan,” katanya.
Konser terus berlanjut dengan deretan lagu populer Tulus yang diaransemen ulang dengan sentuhan jazz, menampilkan kekuatan suara bariton khasnya. Puncak penampilan terjadi saat ia membawakan “Tujuh Belas” dengan latar video timelapse berisi arsip foto anak-anak muda dari masa ke masa — menghadirkan nostalgia yang kuat di tengah gemuruh tepuk tangan.
Selain Tulus, JGTC 2025 juga menampilkan deretan musisi ternama. Barry Likumahuwa and The Rhythm Service berkolaborasi dengan Indra Dauna dan Rega Dauna dalam persembahan Tribute to Stevie Wonder. Sementara itu, Galaxy Big Band bersama Alonzo Brata membawakan karya-karya legendaris Frank Sinatra.
Penampilan spesial lainnya datang dari Chandra Darusman bersama Nikita Dompas & Detik Waktu Quartet, featuring Ardhito Pramono, Bilal Indrajaya, dan Monita Tahalea, lewat persembahan “Detik Waktu #2: Perjalanan Karya Cipta Chandra Darusman.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.