Pagelaran Perayaan Kebangsaan “Satoe Indonesia” Pukau Penonton di Taman Ismail Marzuki
Like
Pagelaran ini merupakan kolaborasi Jakarta Philharmonic Orchestra dan Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) sendiri memiliki riwayat panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan Kota Jakarta.
Orkestra ini berakar dari Batavian Staff Orchestra yang telah hadir sejak 1904, kemudian berubah menjadi Bataviasche Philharmonic Orchestra pada 1912, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) Orchestra pada era radio di Hindia Belanda tahun 1934. Perjalanannya seolah mencerminkan perubahan zaman sekaligus peran seni musik dalam lintasan sejarah kota.
Baca juga: Saat Sepak Bola, Kolonialisme, dan Identitas Bertemu di Panggung “Empire”

Jakarta Philharmonic Orchestra berhasil menampilkan pagelaran Perayaan Kebangsaan “Satoe Indonesia” dengan kesan yang menggugah di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (8/11/2025) (Sumber gambar: Bisnis Indonesia/Abdurachman)
Pertunjukan yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki ini dibuka dengan kemunculan dua anak muda berbusana putih yang berdiri di tengah panggung. Keduanya seakan membawa pesan mengenai suara generasi penerus. Dari situ, berdiri anak muda lain yang membawa biola. Lalu, lagu Indonesia Raya mengalun pelan.
Selepas pembukaan, alunan repertoar lain mulai hadir satu per satu. Satu Nusa Satu Bangsa dan Varia Ibu Kota menjadi bagian awal yang mengantar penonton pada perjalanan musikal yang lebih luas.
Konduktor Aminoto Kosin mengemas pertunjukan ini dengan menarik. Seluruh repertoar dalam konser ini disusun ke dalam lima tema besar, masing-masing menghadirkan suasana dan penekanan yang berbeda.
Tema pertama adalah Perjuangan, yang menghadirkan karya-karya seperti Juwita Malam, Kopral Jono, dan Selendang Sutera. Selanjutnya, tema Pahlawan menampilkan lagu Pantang Mundur dan Pahlawan Merdeka sebagai penghormatan terhadap sosok-sosok yang berperan dalam lahirnya bangsa.
Tema ketiga, Nostalgia, memunculkan nuansa masa lalu melalui lagu Tuan & Nyonya – Nasi Goreng, Tiga Dara, dan Nurlela. Kemudian, tema Nusantara merayakan keberagaman wilayah Indonesia melalui Tanah Airku, Nusantara 1 & 3, serta Zamrud Khatulistiwa.
Sebagai penutup, tema kelima adalah Pemuda Penerus Bangsa yang membawakan Kebyar-Kebyar dan Bangun Pemudi-Pemuda. Segmen ini seolah sebagai penegasan harapan masa depan yang bakal dipikul oleh generasi masa kini.
Setiap nomor-nomor ikonik tersebut berhasil digubah sentuhan aransemen orkestra yang memperkaya karakter aslinya. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika Tiga Dara dibawakan oleh tiga penyanyi, yaitu Trio Galabby, Aimee Saras, dan Lea Simanjuntak, menghasilkan harmoni vokal yang lembut dan bersahutan.

Jakarta Philharmonic Orchestra berhasil menampilkan pagelaran Perayaan Kebangsaan “Satoe Indonesia” dengan kesan yang menggugah di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (8/11/2025) (Sumber gambar: Bisnis Indonesia/Abdurachman)
Lagu Kebyar-Kebyar menjadi salah satu sorotan lain dalam pertunjukan. Aransemen yang menghadirkan perpaduan antara orkestra dan warna musik band /Rif membuat komposisi ini tampil lebih berenergi dan megah. Nuansa itu menjadikan penampilannya terasa semakin meriah.
Salah satu keistimewaan pertunjukan ini terletak pada alur repertoarnya yang seolah menciptakan dramaturgi tersendiri. Ada nomor yang menghadirkan energi, sementara nomor lainnya melaju pelan, membangkitkan ingatan-ingatan masa lalu. Suasana hati penonton bergeser secara halus dari satu emosi ke emosi lainnya.
Di balik itu, rupanya ada tujuan tersendiri dari sang konduktor menciptakan gubahan lagu yang menggugah tersebut. "Visi kami adalah menjadikan lagu lagu Jakarta menjadi lagu dunia dan dimainkan oleh orkestra dunia serta Jakarta menjadi salah satu panggung orkestra di dunia," katanya.
Perayaan Menuju 500 Tahun Kota Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pagelaran Perayaan Kebangsaan “Satoe Indonesia” merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju peringatan 500 tahun Kota Jakarta. Sebagai titik pertemuan berbagai warga dunia, dari China, India, Arab, hingga Eropa, sektor kebudayaan di Jakarta memang jadi salah satu hal yang menarik untuk ditelaah lebih jauh.Sebab, katanya, perjumpaan beragam unsur tersebut menjadikan Jakarta memiliki identitas sebagai kota global dengan kekayaan sejarah, budaya, dan kreativitas yang terus bertumbuh. “Hari ini kita menyaksikan bagaimana kebudayaan, khususnya seni musik orkestra, tetap hidup dan menjadi bagian dari denyut kota,” ujar Pramono.
Dia juga menyoroti Jakarta Philharmonic Orchestra sebagai salah satu elemen penting dalam perjalanan seni pertunjukan di ibu kota, yang jejaknya telah berlangsung sejak awal abad ke-20. Tokoh-tokoh nasional seperti Bung Hatta serta Gubernur Ali Sadikin turut memberikan perhatian besar bagi keberlanjutan orkestra ini.


Jakarta Philharmonic Orchestra berhasil menampilkan pagelaran Perayaan Kebangsaan “Satoe Indonesia” dengan kesan yang menggugah di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (8/11/2025) (Sumber gambar: Bisnis Indonesia/Abdurachman)
Menurut Pramono, dukungan tersebut kini terus dilanjutkan dalam upaya menempatkan Jakarta sebagai kota global berperingkat 20 pada tahun 2027. Melalui konser “Satoe Indonesia, Perayaan Kebangsaan Indonesia”, dirinya berharap publik dapat menikmati musik sembari berefleksi atas jejak-jejak sejarah panjang bangsa.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh menambahkan tahun ini Jakarta Philharmonic Orchestra menjadi bagian dari program Geber (Gerak Bersama) Budaya Jakarta, sebuah inisiatif yang bertujuan
memperluas keterlibatan publik dalam mengapresiasi karya seni budaya, baik yang bersifat tradisional maupun modern.
Dia berharap melalui gerakan ini, seni dan budaya tidak lagi hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas masyarakat.
Baca juga: Tampil Memukau, Nancy Ajram Hadirkan Keajaiban Musik Arab di Istora Senayan Jakarta
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.