Detak Jantung Tak Teratur di Usia Muda? Bisa Jadi Tanda Bahaya Serangan Stroke
07 November 2025 |
11:00 WIB
Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa aritmia dan stroke hanya dialami oleh kelompok lansia. Namun, kenyataannya semakin banyak anak muda usia 20 hingga 40 tahun yang justru terkena dua penyakit serius tersebut di tengah aktivitas sehari-hari.
Detak jantung yang tidak teratur atau sensasi mati rasa sesaat bisa menjadi sinyal awal dari kondisi berbahaya yang membutuhkan penanganan cepat. Fenomena ini menggambarkan bagaimana gaya hidup modern yang serba cepat, minim istirahat, dan penuh tekanan turut menggeser profil risiko penyakit jantung dan pembuluh darah ke usia yang lebih muda.
Baca juga: Waspada! Serangan Jantung Bisa Datang Tanpa Nyeri Dada, Ini Tanda-Tandanya
Selain itu, pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, stres kronis, hingga kebiasaan begadang menjadi kombinasi berbahaya yang perlahan merusak kesehatan jantung pada usia muda.
Beny Hartono, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah subspesialis Gangguan Irama Jantung (Aritmia) dan Kardiologi Intervensi RS Premier Bintaro mengatakan, gangguan irama jantung (aritmia) kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif.
“Aritmia merupakan salah satu penyebab kematian mendadak yang sering terjadi pada usia muda. Hal ini terjadi ketika sistem listrik jantung tidak berfungsi normal, sehingga detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur,” jelas dr. Beny.
Jenis aritmia yang umum terjadi antara lain fibrilasi atrium, takikardia ventrikel, bradikardia, dan supraventrikular takikardi. Gejalanya bisa berupa jantung berdebar, sesak napas, pusing, hingga pingsan mendadak.
dr. Beny menambahkan, kemajuan teknologi medis kini memungkinkan diagnosis dan penanganan aritmia dilakukan secara lebih cepat dan efektif. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan penanganan yang sangat efektif melalui tindakan seperti kateter ablasi untuk memutus sumber impuls listrik abnormal.
Selain itu juga pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) bagi jantung yang berdetak terlalu lambat, atau implantable cardioverter defibrillator (ICD) serta tindakan Ultrasonografi Intravaskular (IVUS) untuk mencegah kematian mendadak akibat aritmia berbahaya.
Tak hanya dalam bentuk tindakan intervensi, dr. Beny juga menekankan pentingnya pemeriksaan diagnostik dini seperti rekam jantung (EKG), Holter monitoring, dan tes latih jantung (treadmill test) untuk mendeteksi kelainan irama sejak awal sebelum menimbulkan komplikasi serius.
Sementara itu, dokter spesialis saraf RS Premier Bintaro, Meidianie Camellia menyoroti bahwa stroke mulai banyak menyerang usia muda akibat gaya hidup tidak sehat, stres, serta kurangnya aktivitas fisik.
“Stroke adalah kondisi darurat medis. Setiap menit yang terbuang berarti semakin banyak sel otak yang mati,” tegas dr. Meidianie.
Stroke dapat terjadi karena sumbatan pembuluh darah otak (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemoragik). Gejalanya meliputi kelumpuhan wajah atau anggota tubuh, gangguan bicara, kehilangan keseimbangan, hingga penurunan kesadaran.
Menurut dr. Meidianie, penanganan optimal harus dilakukan dalam “golden hour” yakni empat setengah jam pertama setelah serangan untuk pemberian terapi trombolitik, dan hingga 24 jam pertama untuk trombektomi mekanik pada sumbatan pembuluh besar.
RS Premier Bintaro saat ini memiliki layanan penanganan stroke terpadu, mulai dari diagnosis cepat, tindakan akut, hingga rehabilitasi pasca-stroke. Layanan ini juga mencakup skrining disfagia (kesulitan menelan) dan pengelolaan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Detak jantung yang tidak teratur atau sensasi mati rasa sesaat bisa menjadi sinyal awal dari kondisi berbahaya yang membutuhkan penanganan cepat. Fenomena ini menggambarkan bagaimana gaya hidup modern yang serba cepat, minim istirahat, dan penuh tekanan turut menggeser profil risiko penyakit jantung dan pembuluh darah ke usia yang lebih muda.
Baca juga: Waspada! Serangan Jantung Bisa Datang Tanpa Nyeri Dada, Ini Tanda-Tandanya
Selain itu, pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, stres kronis, hingga kebiasaan begadang menjadi kombinasi berbahaya yang perlahan merusak kesehatan jantung pada usia muda.
Beny Hartono, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah subspesialis Gangguan Irama Jantung (Aritmia) dan Kardiologi Intervensi RS Premier Bintaro mengatakan, gangguan irama jantung (aritmia) kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif.
“Aritmia merupakan salah satu penyebab kematian mendadak yang sering terjadi pada usia muda. Hal ini terjadi ketika sistem listrik jantung tidak berfungsi normal, sehingga detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur,” jelas dr. Beny.
Jenis aritmia yang umum terjadi antara lain fibrilasi atrium, takikardia ventrikel, bradikardia, dan supraventrikular takikardi. Gejalanya bisa berupa jantung berdebar, sesak napas, pusing, hingga pingsan mendadak.
dr. Beny menambahkan, kemajuan teknologi medis kini memungkinkan diagnosis dan penanganan aritmia dilakukan secara lebih cepat dan efektif. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan penanganan yang sangat efektif melalui tindakan seperti kateter ablasi untuk memutus sumber impuls listrik abnormal.
Selain itu juga pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) bagi jantung yang berdetak terlalu lambat, atau implantable cardioverter defibrillator (ICD) serta tindakan Ultrasonografi Intravaskular (IVUS) untuk mencegah kematian mendadak akibat aritmia berbahaya.
Tak hanya dalam bentuk tindakan intervensi, dr. Beny juga menekankan pentingnya pemeriksaan diagnostik dini seperti rekam jantung (EKG), Holter monitoring, dan tes latih jantung (treadmill test) untuk mendeteksi kelainan irama sejak awal sebelum menimbulkan komplikasi serius.
Sementara itu, dokter spesialis saraf RS Premier Bintaro, Meidianie Camellia menyoroti bahwa stroke mulai banyak menyerang usia muda akibat gaya hidup tidak sehat, stres, serta kurangnya aktivitas fisik.
“Stroke adalah kondisi darurat medis. Setiap menit yang terbuang berarti semakin banyak sel otak yang mati,” tegas dr. Meidianie.
Stroke dapat terjadi karena sumbatan pembuluh darah otak (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemoragik). Gejalanya meliputi kelumpuhan wajah atau anggota tubuh, gangguan bicara, kehilangan keseimbangan, hingga penurunan kesadaran.
Menurut dr. Meidianie, penanganan optimal harus dilakukan dalam “golden hour” yakni empat setengah jam pertama setelah serangan untuk pemberian terapi trombolitik, dan hingga 24 jam pertama untuk trombektomi mekanik pada sumbatan pembuluh besar.
RS Premier Bintaro saat ini memiliki layanan penanganan stroke terpadu, mulai dari diagnosis cepat, tindakan akut, hingga rehabilitasi pasca-stroke. Layanan ini juga mencakup skrining disfagia (kesulitan menelan) dan pengelolaan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.