Kasus Pencurian Permata Rp1,5 Triliun di Museum Louvre Mulai Terkuak, Dua Pria Ditangkap
27 October 2025 |
16:14 WIB
Kasus pencurian perhiasan mewah di area Museum Louvre Paris mengguncang dunia seni Prancis. Institusi budaya paling terkenal di dunia tersebut memiliki koleksi permata kerajaan yang dicuri secara cepat dan terencana. Nilai perhiasan yang dicuri diperkirakan mencapai €88 juta atau sekitar US$102 juta, setara sekitar Rp1,5 triliun.
Mengejutkannya, peristiwa itu terjadi pada Minggu (19/10/2025) di tengah ramainya pengunjung museum. Melansir France24, para pelaku disebut berhasil masuk ke ruang pameran khusus yang menampilkan koleksi permata kerajaan, lalu meninggalkan lokasi hanya dalam waktu 7 menit saja. Setelah kejadian itu, puluhan penyidik telah ditugaskan untuk melacak para pencuri yang berhasil merampok di Museum Louvre.
Baca Juga: Mikke Susanto: ‘Sekelas Louvre aja Kebobolan, Apalagi Museum Lain’
Beberapa hari setelah kejadian, dua tersangka akhirnya berhasil ditangkap dan kemudian pihak kepolisian memberitahukan ke publik pada Minggu (26/10/2025). Polisi Prancis menyebut kedua pria itu sempat buron selama hampir sepekan sebelum akhirnya diamankan.
Mengutip laporan AFP, kedua tersangka itu ditangkap di Bandara Charles de Gaulle, Paris saat hendak terbang menuju Aljazair. Penangkapan tersebut dilakukan setelah penyidik melacak pergerakan mereka melalui sistem pengawasan bandara.
Petugas museum kemudian mengevakuasi pengunjung dan menutup akses menuju area tersebut. Polisi menduga pencurian ini dilakukan oleh kelompok kriminal yang memiliki pengalaman tinggi dalam operasi cepat dan perencanaan matang.
Melansir Guardian, seorang juru bicara Louvre mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi seluruh koleksi tetap aman. Selain itu, sistem keamanan tambahan telah diterapkan sejak insiden tersebut termasuk juga dengan koordinasi langsung dengan kepolisian nasional Prancis.
Museum Louvre sendiri merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di dunia dengan rata-rata kunjungan mencapai lebih dari 7 juta orang per tahun. Karena reputasinya yang tinggi dan koleksi seninya yang tak ternilai, Louvre memiliki standar keamanan yang sangat ketat.
Namun, pencurian ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang efektivitas sistem tersebut terutama di tengah meningkatnya kejahatan terorganisir yang menargetkan barang seni dan koleksi berharga.
Analisis terhadap rekaman CCTV dan bukti forensik masih terus dilakukan untuk mengungkap kronologi kejadian secara lengkap. France24 melaporkan bahwa para pelaku kemungkinan menyamar sebagai pengunjung biasa sebelum melancarkan aksinya dengan kecepatan singkat.
Kasus ini disebut sebagai salah satu pencurian paling berani dalam sejarah museum Eropa modern. Terlepas dari penangkapan dua orang tersebut, polisi juga tengah menelusuri apakah terdapat kaki tangan lain yang membantu menyiapkan jalur pelarian atau menyembunyikan barang curian tersebut.
Hingga kini, keberadaan permata yang hilang juga belum diketahui secara pasti apakah masih di tangan pelaku atau telah berpindah tangan di pasar gelap internasional.
Di antara perhiasan yang dicuri, ada kalung zamrud dan berlian yang pernah diberikan Napoleon Bonaparte kepada sang istri, Permaisuri Marie-Louise, serta tiara dan bros besar milik Empress Eugénie. Benda-benda ini bukan sekadar karya perhiasan, melainkan simbol kemegahan kekaisaran Prancis yang telah melintasi berabad-abad.
“Kerusakan pada mahkota Eugénie sangat disayangkan, tapi restorasi kemungkinan masih bisa dilakukan,” ungkap Direktur Louvre, Laurence des Cars, yang bahkan sempat menawarkan pengunduran diri usai insiden ini—namun ditolak oleh Kementerian Kebudayaan.
Baca Juga: Daftar Mahkota dan Set Perhiasan yang Dicuri dari Museum Louvre Prancis
Mengejutkannya, peristiwa itu terjadi pada Minggu (19/10/2025) di tengah ramainya pengunjung museum. Melansir France24, para pelaku disebut berhasil masuk ke ruang pameran khusus yang menampilkan koleksi permata kerajaan, lalu meninggalkan lokasi hanya dalam waktu 7 menit saja. Setelah kejadian itu, puluhan penyidik telah ditugaskan untuk melacak para pencuri yang berhasil merampok di Museum Louvre.
Baca Juga: Mikke Susanto: ‘Sekelas Louvre aja Kebobolan, Apalagi Museum Lain’
Beberapa hari setelah kejadian, dua tersangka akhirnya berhasil ditangkap dan kemudian pihak kepolisian memberitahukan ke publik pada Minggu (26/10/2025). Polisi Prancis menyebut kedua pria itu sempat buron selama hampir sepekan sebelum akhirnya diamankan.
Mengutip laporan AFP, kedua tersangka itu ditangkap di Bandara Charles de Gaulle, Paris saat hendak terbang menuju Aljazair. Penangkapan tersebut dilakukan setelah penyidik melacak pergerakan mereka melalui sistem pengawasan bandara.
Operasi Pencurian 7 Menit
Saat kejadian, alarm keamanan di galeri tempat pameran berlangsung disebut berbunyi pada siang hari tak lama setelah dua pria berpakaian rapi terlihat meninggalkan ruangan.Petugas museum kemudian mengevakuasi pengunjung dan menutup akses menuju area tersebut. Polisi menduga pencurian ini dilakukan oleh kelompok kriminal yang memiliki pengalaman tinggi dalam operasi cepat dan perencanaan matang.
Melansir Guardian, seorang juru bicara Louvre mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi seluruh koleksi tetap aman. Selain itu, sistem keamanan tambahan telah diterapkan sejak insiden tersebut termasuk juga dengan koordinasi langsung dengan kepolisian nasional Prancis.
Museum Louvre sendiri merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di dunia dengan rata-rata kunjungan mencapai lebih dari 7 juta orang per tahun. Karena reputasinya yang tinggi dan koleksi seninya yang tak ternilai, Louvre memiliki standar keamanan yang sangat ketat.
Namun, pencurian ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang efektivitas sistem tersebut terutama di tengah meningkatnya kejahatan terorganisir yang menargetkan barang seni dan koleksi berharga.
Analisis terhadap rekaman CCTV dan bukti forensik masih terus dilakukan untuk mengungkap kronologi kejadian secara lengkap. France24 melaporkan bahwa para pelaku kemungkinan menyamar sebagai pengunjung biasa sebelum melancarkan aksinya dengan kecepatan singkat.
Kasus ini disebut sebagai salah satu pencurian paling berani dalam sejarah museum Eropa modern. Terlepas dari penangkapan dua orang tersebut, polisi juga tengah menelusuri apakah terdapat kaki tangan lain yang membantu menyiapkan jalur pelarian atau menyembunyikan barang curian tersebut.
Hingga kini, keberadaan permata yang hilang juga belum diketahui secara pasti apakah masih di tangan pelaku atau telah berpindah tangan di pasar gelap internasional.
Warisan Berharga
Galeri d’Apollon bukan ruang sembarangan di Louvre. Dibangun sejak abad ke-17, galeri ini menampilkan sisa-sisa perhiasan mahkota Prancis yang selamat dari Revolusi, termasuk mahkota Louis XV dan berlian legendaris Hortensia. Di sinilah tersimpan sejarah kekuasaan, cinta, dan seni istana Prancis.Di antara perhiasan yang dicuri, ada kalung zamrud dan berlian yang pernah diberikan Napoleon Bonaparte kepada sang istri, Permaisuri Marie-Louise, serta tiara dan bros besar milik Empress Eugénie. Benda-benda ini bukan sekadar karya perhiasan, melainkan simbol kemegahan kekaisaran Prancis yang telah melintasi berabad-abad.
“Kerusakan pada mahkota Eugénie sangat disayangkan, tapi restorasi kemungkinan masih bisa dilakukan,” ungkap Direktur Louvre, Laurence des Cars, yang bahkan sempat menawarkan pengunduran diri usai insiden ini—namun ditolak oleh Kementerian Kebudayaan.
Baca Juga: Daftar Mahkota dan Set Perhiasan yang Dicuri dari Museum Louvre Prancis
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.