Pameran “Dinamika Dalam Diam” di Jakarta, Wadah Dua Perupa Senior Menuai Kritik dan Inspirasi Baru
22 October 2025 |
09:20 WIB
Seniman Tulus Warsito dan Ar. Soedarto menggelar pameran bersama bertajuk Dinamika Dalam Diam di Balai Budaya, Jakarta, pada 22–29 Oktober 2025. Bagi dua perupa senior ini, pameran bukan sekadar ajang menampilkan karya, melainkan cara mempertahankan tradisi lama, yakni berpameran sebagai ruang untuk menuai kritik dan penilaian.
Keduanya menjelaskan, tema Dinamika Dalam Diam dipilih karena karya yang ditampilkan mengekspresikan gerak melalui warna, garis, dan titik, meski secara fisik karya tersebut tampak diam. “Motivasi dalam pameran ini mencerminkan bahwa sebagai perupa senior, pameran adalah tradisi menuai kritik maupun penilaian,” ujar keduanya dalam siaran pers, Rabu, 22 Oktober 2025.
Bagi mereka, kritik dan penilaian publik menjadi cermin penting bagi perjalanan dan perkembangan pribadi sebagai seniman senior. Keduanya mengakui masih banyak kekurangan dalam pameran ini, tetapi hal itu justru menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri. Mereka berharap karya-karya yang ditampilkan dapat memicu perupa lain untuk berkarya dan berpameran lebih baik di ranah artistika.
Baca Juga: Dari Soenarto hingga Danarto: Sanggarbambu dan Seni yang Menolak Diam di Pusat Arus
Dalam pameran tersebut, Soedarto menampilkan karya lukisan abstrak yang terdiri dari tiga lapisan visual. Lapisan pertama berupa warna-warni segar dan meriah, melambangkan euforia bahagia, kehangatan, kegembiraan, dan kemenangan. Lapisan kedua berupa ornamen roaster berwarna yang dikerjakan manual menggunakan teknik stensil, dan memberi pigmen cat akrilik terhadap bidang berlubang agar menghasilkan efek matrik yang artistik.
“Teknik stensil termasuk teknik sablon kuno yang sangat sederhana, mungkin sudah langka sebelum munculnya teknik grafis silk screen, cetak offset, dan kini digital direct to film,” ujar Soedarto dalam katalog pameran.
Lapisan ketiga merupakan hasil penggabungan dua lapisan sebelumnya, menjadi komposisi akhir yang menampilkan kedalaman visual khas lukisan abstraknya. Soedarto menyebut, eksplorasi tiga lapisan ini merupakan bagian dari inovasi yang dilakukan, yakni menggabungkan seni cetak stensil dengan seni lukis dalam satu medium. Warna-warna yang digunakan juga terinspirasi dari keindahan batu mulia, yang menurutnya memancarkan taburan cahaya dan harmoni alami.
Sementara itu, Tulus Warsito bermain-main dengan pencitraan dan kemampuan inderawi manusia dalam menikmati karya. Dia kerap menghadirkan objek berbayang yang muncul sebagai gumpalan cat tebal (Plototan/impasto) itu sendiri, sehingga lukisan abstraknya dapat disebut nyata—karena objek inti hadir sebagai dirinya sendiri, bukan representasi dari sesuatu yang lain.
Tulus menjelaskan, ketertarikannya pada bayang-bayang bermula dari keinginan menciptakan kesan tiga dimensi. Dengan permainan warna optik dan repetisi objek kontras antara yang solid dan yang kabur, dia menghasilkan citra yang sulit dicerna logika dimensinya—menghadirkan kedalaman tanpa prasyarat, diam namun penuh dinamika.
Baca Juga: Karya Pablo Picasso berjudul Still Life With Guitar Hilang dalam Perjalanan menuju Pameran
Keduanya menjelaskan, tema Dinamika Dalam Diam dipilih karena karya yang ditampilkan mengekspresikan gerak melalui warna, garis, dan titik, meski secara fisik karya tersebut tampak diam. “Motivasi dalam pameran ini mencerminkan bahwa sebagai perupa senior, pameran adalah tradisi menuai kritik maupun penilaian,” ujar keduanya dalam siaran pers, Rabu, 22 Oktober 2025.
Bagi mereka, kritik dan penilaian publik menjadi cermin penting bagi perjalanan dan perkembangan pribadi sebagai seniman senior. Keduanya mengakui masih banyak kekurangan dalam pameran ini, tetapi hal itu justru menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri. Mereka berharap karya-karya yang ditampilkan dapat memicu perupa lain untuk berkarya dan berpameran lebih baik di ranah artistika.
Baca Juga: Dari Soenarto hingga Danarto: Sanggarbambu dan Seni yang Menolak Diam di Pusat Arus
Dalam pameran tersebut, Soedarto menampilkan karya lukisan abstrak yang terdiri dari tiga lapisan visual. Lapisan pertama berupa warna-warni segar dan meriah, melambangkan euforia bahagia, kehangatan, kegembiraan, dan kemenangan. Lapisan kedua berupa ornamen roaster berwarna yang dikerjakan manual menggunakan teknik stensil, dan memberi pigmen cat akrilik terhadap bidang berlubang agar menghasilkan efek matrik yang artistik.
“Teknik stensil termasuk teknik sablon kuno yang sangat sederhana, mungkin sudah langka sebelum munculnya teknik grafis silk screen, cetak offset, dan kini digital direct to film,” ujar Soedarto dalam katalog pameran.
Lapisan ketiga merupakan hasil penggabungan dua lapisan sebelumnya, menjadi komposisi akhir yang menampilkan kedalaman visual khas lukisan abstraknya. Soedarto menyebut, eksplorasi tiga lapisan ini merupakan bagian dari inovasi yang dilakukan, yakni menggabungkan seni cetak stensil dengan seni lukis dalam satu medium. Warna-warna yang digunakan juga terinspirasi dari keindahan batu mulia, yang menurutnya memancarkan taburan cahaya dan harmoni alami.
Sementara itu, Tulus Warsito bermain-main dengan pencitraan dan kemampuan inderawi manusia dalam menikmati karya. Dia kerap menghadirkan objek berbayang yang muncul sebagai gumpalan cat tebal (Plototan/impasto) itu sendiri, sehingga lukisan abstraknya dapat disebut nyata—karena objek inti hadir sebagai dirinya sendiri, bukan representasi dari sesuatu yang lain.
Tulus menjelaskan, ketertarikannya pada bayang-bayang bermula dari keinginan menciptakan kesan tiga dimensi. Dengan permainan warna optik dan repetisi objek kontras antara yang solid dan yang kabur, dia menghasilkan citra yang sulit dicerna logika dimensinya—menghadirkan kedalaman tanpa prasyarat, diam namun penuh dinamika.
Baca Juga: Karya Pablo Picasso berjudul Still Life With Guitar Hilang dalam Perjalanan menuju Pameran
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.