Kelompok Sandiwara Mantaka mementaskan lakon Seorang Pria Membawa Tas pada Festival Teater Jakarta (FTJ) 2025 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Kamis (16/10/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

'Seorang Pria Membawa Tas': Refleksi Absurditas Manusia dari Kelompok Sandiwara Mantaka

20 October 2025   |   19:49 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Lelaki bermantel itu tampak gelisah di atas panggung karena menahan kencing. Gerak-geriknya yang kikuk memancing tawa penonton. Dia berdiri di depan sebuah telepon umum, menunggu seorang perempuan di dalam bilik menyelesaikan percakapan dengan seseorang yang tak dikenal.

Tokoh itu tak punya nama, meski kadang dipanggil Pribumi. Dia berniat menelepon kedutaan besar Belanda setelah paspornya hilang saat mudik ke Indonesia. Kini dia tertahan di imigrasi akibat kealpaan tersebut. Namun, apa lacur, namanya sendiri saja dia tak ingat.

“Kira-kira, apa yang harus saya lakukan sekarang? Telepon dulu atau kencing dulu?” gerutunya sambil menggeliat gelisah, sementara dari dalam bilik terdengar suara perempuan menyemprot marah karena merasa terganggu.

Baca Juga: Rayakan HUT ke-12, Galeri Indonesia Kaya Hadirkan Sederet Pertunjukan Sepanjang Oktober 2025

Adegan itu hanyalah satu dari sekian situasi absurd dalam lakon Seorang Pria  Membawa Tas produksi Kelompok Sandiwara Mantaka. Diadaptasi dari L’Homme aux Valises karya Eugène Ionesco, pertunjukan ini menjadi pembuka Festival Teater Jakarta (FTJ) 2025 di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (16/10/25) malam.

Drama L’Homme aux Valises ditulis Ionesco pada 1975. Tokoh utamanya adalah seorang pria tua yang terus bepergian sambil membawa dua koper ke mana pun dia pergi. Dia tidak pernah menetap di satu tempat, selalu berpindah kota, dan tampak kehilangan arah.

Namun, Mantaka mengadaptasinya ke dalam konteks sosial politik Indonesia. Latar ceritanya menyinggung sejumlah peristiwa penting di Tanah Air, mulai dari tragedi 1965 dan 1998, pageblug Covid-19, hingga gambaran masa depan ketika Jakarta terendam air pada 2045.

Kegaduhan di atas panggung pun tidak muncul tanpa alasan. Pria tanpa nama itu sebelumnya berbincang dengan Tukang Perahu yang mengantarnya ke dermaga sambil membawa kopornya. Namun, koper ketiganya yang sejak awal memang tak pernah ada diklaim hilang olehnya.

Dari titik inilah gaya dan struktur drama bergeser. Narasinya tidak mengikuti alur konvensional. Dialognya sering melingkar dan mematahkan logika visual. Apa yang diucapkan karakter tidak selalu hadir di panggung, menciptakan suasana ganjil sekaligus puitis.

Berlangsung sekitar dua jam, penonton diajak menyelami beban emosional, kenangan, dan rasa bersalah yang menghantui manusia. Dialog-dialognya sarat ironi dan kekosongan makna yang mencerminkan kesia-siaan komunikasi manusia. Barangkali untuk menumbuhkan empati di tengah absurditas kehidupan.

Salah satu adegan paling mengguncang terjadi di rumah sakit. Lelaki tanpa nama itu dimasukkan ke dalamnya oleh petugas bea cukai karena mengira tempat itu hotel. Di sana, seorang dokter justru menembak salah satu pasien agar ranjang dari sebuah tong bisa ditempati olehnya, sebelum menyuntikkan obat sebagai ritual yang sia-sia namun tragis.
 

aha

Kelompok Sandiwara Mantaka mementaskan lakon Seorang Pria Membawa Tas pada Festival Teater Jakarta (FTJ) 2025 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Kamis (16/10/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Menonton pertunjukan ini serasa memasuki dunia yang sakit. Tema kesepian dan pencarian identitas berbenturan dengan logika berpikir. Pertunjukan ini mempertanyakan kembali bagaimana manusia bertindak, terbebani oleh sejarah, atau bahkan masa depan.

Meski temanya kuat, tantangan adaptasi naskah ini juga muncul dari sisi teknis. Penonton dituntut fokus mengikuti dialog yang lirih, sementara intensitas antar adegan kadang tidak mengalir mulus sehingga membuat perhatian mudah terpecah.

Tata cahaya dan skenografi sedikit membantu menjaga ritme. Kostum dan properti yang minimalis membuat penonton sesekali kembali terseret ke dalam cerita. Namun, dramaturgi pertunjukan dari segi orientasi, klimaks, hingga resolusi sempat kedodoran di bagian tengah.

Sutradara Kelompok Teater Mantaka, Reza “Remon” Ghazaly, mengatakan bahwa berbeda dari karya Ionesco lainnya, L’Homme aux Valises merupakan naskah yang lebih personal. Menurutnya, sisi kemanusiaan dan pengalaman individual lebih menonjol dibandingkan dengan Rhinocéros yang ditulis pada 1959.

Melalui adaptasi ini, pihaknya ingin menjadikannya relevan dengan kondisi penonton Indonesia masa kini. “Saya rasa naskah ini justru lebih cocok dimainkan sekarang dibanding ketika Ionesco menulisnya pada 1975, karena situasi kita sedang stagnan. Cita-cita habis, harapan juga habis,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ifqie Dzikrullah, pemeran sosok tanpa nama, mengatakan pemilihan naskah Ionesco dilakukan karena kelompoknya tengah mendalami karya-karya dramawan Rumania Prancis yang dijuluki Bapak Teater Absurd tersebut.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam membawakan peran ini adalah memahami naskah secara realistis sebelum memasuki alam pikiran tokoh yang dimainkan. “Saya harus terus berada di panggung selama dua jam dan membangun emosi yang naik turun. Dalam satu momen harus marah sekaligus bahagia,” tuturnya.

Pada akhirnya, Seorang Pria Membawa Tas bukan sekadar adaptasi naskah klasik. Dia adalah cermin dari kebingungan manusia modern yang kehilangan pijakan di tengah sejarah yang berulang. Dalam absurditasnya, penonton diajak menertawakan sekaligus merenungi makna eksistensi yang rapuh.

Baca Juga: Perjalanan Karier Robert Redford dari Panggung Teater Menjadi Sineas Ternama

SEBELUMNYA

Krisdayanti Raih Medali Perak di World Kungfu Championships 2025

BERIKUTNYA

Pameran KukuruYUK! Hadir di Museum Batik Indonesia, Angkat Filosofi Ayam dalam Batik Nusantara

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga