Lima musisi yang akan menghadirkan karya Ether Recurrence (Sumber foto: Goethe-Institut Indonesien)

Konser Alur Bunyi Hadirkan Ether Recurrence, Eksperimen Suara tentang Siklus & Kemanusiaan

13 October 2025   |   18:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Konser Alur Bunyi di Goethe-Institut Indonesien akan menghadirkan Ether Recurrence pada Kamis, 16 Oktober 2025 di Galeri Nasional Indonesia pukul 19.30 WIB. Karya ini merupakan kolaborasi lima musisi dengan praktik bebunyian berbeda, menyuarakan keresahan yang terjadi belakangan di tengah masyarakat.

Koordinator Program Goethe-Institut Indonesien sekaligus Kurator Alur Bunyi, Elizabeth Soegiharto, menjelaskan bahwa para musisi dalam proyek ini tidak berupaya menghadirkan jawaban besar melalui karya mereka. Sebaliknya, mereka membuka ruang dan waktu untuk melepaskan diri dari paksaan, memberi tempat bagi musik untuk menjalankan hakikatnya yang paling murni.

Baca juga: Konser Suarasmara Jadi Penanda 25 Tahun Andien di Panggung Musik

“Musik mengingatkan kita bahwa, bahkan di tengah ketidakpastian, selalu ada keheningan,” ujarnya dalam siaran pers yang dikutip pada Senin (13/10/2025).

Elizabeth menambahkan, Goethe-Institut Indonesien mempertemukan lima musisi dengan karakter dan pendekatan berbeda dalam satu kolaborasi yang mendorong mereka melampaui zona nyaman artistiknya, selaras dengan semangat Alur Bunyi sebagai ruang eksperimen.

Karya ini lahir dari serangkaian diskusi mengenai kondisi yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir. Dari percakapan itu, para musisi menemukan satu benang merah: kemanusiaan.

Elizabeth menjelaskan bahwa Ether Recurrence diangkat sebagai respons terhadap situasi yang terjadi belakangan ini. Para musisi berupaya membuka ruang refleksi untuk meninjau kembali proses pertumbuhan dan keterhubungan manusia melalui pengalaman mendengar dan menyaksikan karya tersebut.
 

Adapun, judul Ether Recurrence sendiri berasal dari dua kata. Recurrence terinspirasi dari gagasan tentang siklus, sesuatu yang terus tumbuh dan berputar. Sementara Ether, yang berarti senyawa organik, merepresentasikan eksistensi manusia sebagai makhluk hidup yang mengalami berbagai pengalaman berulang.

Kedua konsep ini saling berkaitan, menggambarkan bagaimana manusia terus belajar dan bertumbuh dalam menghadapi kehidupan. Melalui karya ini, Ether Recurrence menjelmakan hiruk-pikuk menjadi ritme, mengubah kekalutan menjadi pergolakan dan utopia.

Di tangan para musisi dengan latar belakang berbeda, konser ini bukan sekadar tontonan, melainkan perjumpaan yang memuat tumpahan geram, kejengkelan, sekaligus kegelisahan terhadap zaman.

Ether Recurrence membentuk kekalutan menjadi melodi yang jujur, sentimental, sekaligus berani, alih-alih membeku dalam amarah yang mentah. Penonton akan diajak menapaki momen-momen yang mengejutkan.  

Bunyi-bunyian yang hadir juga akan menyalurkan keresahan, tetapi tidak terbatas kepadanya. Suguhan di atas panggung nanti bukan sekadar hiasan, melainkan imajinasi tanpa batas, yakni musik yang menjelma menjadi renungan.

Pertunjukan ini mencerminkan siklus kehidupan yang terus berulang dan membentuk individu sebagai manusia. Siklus tersebut mereka wujudkan dalam empat fase utama, yakni Persona, Mirror, Feel, dan Space, merepresentasikan tahap refleksi dan pertumbuhan yang para musisi alami, baik sebagai individu maupun kolektif.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Anemia Masih Jadi Masalah Kesehatan Perempuan Indonesia, Begini Cara Mengatasinya

BERIKUTNYA

Masih Percaya Olahraga Lari Itu Susah? Ini 4 Mitos yang Harus Genhype Lupakan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga