Melihat Dunia Seni Indonesia Lewat Lensa Melani Setiawan
Kini, arsipnya yang kaya sejarah itu tertuang dalam buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977-2022). Buku ini menawarkan pendekatan arsip visual menarik yang merekam sejarah seni rupa Indonesia dari dekat.
Baca juga: Menilik Arus Baru Generasi Seni Rupa Muda Indonesia di Art Jakarta 2025
Buku ini menyajikan perjalanan 45 tahun dr. Melani melalui lebih dari 4.000 foto terpilih, lengkap dengan caption, komentar dari para seniman, serta teks penjelasan terkait peristiwa seni. Sketsa dan catatan pribadi para seniman juga ikut menghiasi buku ini, menambah kedalaman dan nuansa pada narasi visual yang disajikan.

Bisnis/Himawan L. Nugraha DISKUSI BUKU INDONESIA ART WORLD Buku bertajuk Indonesia Art World: Dr. Melani Setiawan’s Archive (1977-2022) dalam pameran Art Jakarta 2024 di Jakarta, Minggu (5/10/2025). Buku ini memuat foto-foto karya Dr. Melani Setiawan yang merekam perjumpaannya dengan sekitar 1.500 seniman, kolektif, dan pegiat seni rupa Tanah Air selama lebih dari empat dekade. Dalam proyek monumental ini, Melani menghimpun sekitar 4.000 foto yang ia ambil sejak akhir 1970-an hingga dua tahun terakhir.
Arsip fotonya kini telah mencatat lebih dari 100.000 gambar, merekam berbagai peristiwa dan pencapaian seniman, kurator, pekerja seni, serta pencinya seni baik di dalam maupun luar negeri. Melani mengatakan tidak ada alasan khusus mengapa memilih memulai dokumentasi buku pada 1977. Sebab, secara praktikal pada saat itulah dirinya baru memasuki dan menggandrungi dunia seni rupa.
“1977 itu saya pertama membeli sebuah karya di pasar seni Ancol. Waktu itu tidak tahu galeri, jadi mencari seni sesuai dengan yang saya tahu, tapi ternyata itu pun adalah salah satu karya seniman Jakarta. Waktu itu belum ada fotonya, tetapi saya pikir menarik juga untuk masuk ke dalam cerita buku ini," ucapnya
Setelah itu ketertarikannya pada karya seni dan pameran terus berlanjut. Melani bahkan mendatangi banyak sekali pembukaan pameran seniman. Pada saat pembukaan itu, di selalu menyempatkan diri untuk berfoto. Kebiasaan 'eksis' itu terus berlanjut hingga saat ini.
Namun, untuk versi bukunya, Melani memilih mengakhiri dokumentasinya pada 2022, agar seri tersebut bisa rampung dan tidak terus-menerus berlanjut tanpa selesai menjadi karya. Sebab, butuh waktu lama juga baginya untuk menyortir foto-foto tersebut.
Menurutnya, dari berbagai pameran yang didatangi, ada beberapa yang meninggalkan kesan mendalam. Namun, sulit untuk menyebut menjadi yang paling berkesan. Sebab, setiap momen meninggalkan pengalaman yang berbeda-beda.
Akan tetapi, salah satunya yang cukup diingatnya ialah Pameran Indonesia Bertutur 2022. Di sana, dirinya menyaksikan penampilan Melati Soeryodarmo di kawasan Borobudur. Menurutnya, penampilan itu berkesan karena selain makna dari karya tersebut, tetapi juga keunikan lokasi pameran, yang berbeda dari tempat biasanya.
“Karena saya pikir faktor lokasinya lain dari yang lain. Waktu itu penampilannya di kawasan Borobudur, di tepi sungai gitu, menarik banget. Tempat yang sebenarnya tidak biasa untuk berpameran, tapi ditampilkan apik. Di sana juga ada rumau joglo, jadi menambah pengalaman menonton,” jelasnya.
Setelah bukunya terbit, Melani kini mulai memikirkan langkah digitalisasi arsipnya. Dia sempat membahas kemungkinan membuat ebook atau website, meski masih ada pro dan kontra terkait metode penyimpanan serta aksesibilitas arsip. Oleh karena itu, dirinya pun belum bisa memastikan apakah karya-karyanya akan muncul versi digital atau tidak.
Kurator Hendro Wiyanto menilai buku ini sangat luar biasa. Secara fisik, desainnya rapi dan hampir tanpa cacat atau kesalahan ketik. Ini baginya menunjukkan perhatian detail yang tinggi dari pembuatnya. Yang paling menonjol, menurut Hendro, adalah ketelitian Melani dalam menulis caption.
Setiap foto di buku ini dilengkapi keterangan lengkap mengenai siapa yang terlibat dan dalam peristiwa apa, seakan semuanya tersimpan dalam ingatan Melani. Dia hanya menemukan kode N.N kurang dari sepuluh. Mungkin, katanya, Melani dan tim sudah menyerah di foto-foto tersebut untuk mengakses informasi. Namun, itu sama sekali tak mengurangi bahwa peristiwa seni itu ada dan penting untuk diketahui generasi setelahnya.
"Awalnya, mungkin Melani hanya ingin memotret diri bersama karya. Namun, setelah dibaca, terasa bahwa ia ingin menangkap kehadiran kita dan suasananya. Tidak pernah ada lembaga sebelumnya yang peduli arsip bahwa pengunjung itu faktor penting di dalam sebuah pameran,"
Yang menarik, pendokumentasian ini awalnya dilakukan Melani tanpa disengaja. Namun, dampaknya besar, yakni setiap orang yang tercatat dalam arsipnya hadir sebagai subjek, bukan sekadar objek. Hendro menekankan bahwa publik patut berterima kasih pada Melani karena berkat usahanya, kehadiran kita terdokumentasi dengan begitu cermat.

Bisnis/Himawan L. Nugraha DISKUSI BUKU INDONESIA ART WORLD Kolektor Seni Melani Setiawan (tengah) disaksikan Kritikus & Kurator Hendro Wiyanto (kanan) dan Seniman Rachel K. S. memberikan pemaparan pada acara diskusi buku bertajuk Indonesia Art World: Dr. Melani Setiawan’s Archive (1977-2022) dalam pameran Art Jakarta 2024 di Jakarta, Minggu (5/10/2025). Buku ini memuat foto-foto karya Dr. Melani Setiawan yang merekam perjumpaannya dengan sekitar 1.500 seniman, kolektif, dan pegiat seni rupa Tanah Air selama lebih dari empat dekade. Dalam proyek monumental ini, Melani menghimpun sekitar 4.000 foto yang ia ambil sejak akhir 1970-an hingga dua tahun terakhir.
Peneliti dan arsiparis Rachel K.S menyebut buku ini sebagai pelengkap dalam merangkai sejarah aktivitas seni di Indonesia. Rachel, yang meneliti dan mengarsip sastrawan Danarto, mengaku memperoleh banyak informasi untuk melengkapi kisah hidup sang sastrawan. Setidaknya terdapat tujuh perjumpaan mereka yang terdokumentasi, meski kemungkinan pertemuan sebenarnya lebih banyak.
Selain itu, Rachel juga mendapatkan banyak referensi visual dari momen-momen khusus, seperti ketika Danarto menjabat sebagai juri dalam sebuah kegiatan seni. Menurutnya, buku ini memiliki potensi menjadi rujukan penting, terutama dalam konteks pengarsipan karya dan dokumentasi sejarah seni.
Buku “Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977-2022) terdiri atas tiga volume. Setiap serinya menunjukkan evolusi metode dokumentasi yang digunakan dr. Melani. Volume 1 menampilkan foto-foto analog dari tahun 1980-2005, Volume 2 mengangkat foto digital seiring tren kamera digital, dan Volume 3 menghadirkan foto hasil kamera ponsel.
Hingga kini, arsipnya terus berkembang seiring kemudahan penggunaan kamera ponsel. Buku ini lahir dari keinginan dr. Melani untuk mengenang dan merekam mereka yang meninggalkan kesan mendalam melalui seni dan persahabatan, sebagai wujud cinta terhadap dunia seni rupa yang tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga merayakan ikatan dan kegembiraan yang terus hidup.
Baca juga: Dzikra Afifah dan Ingatan Purba tentang Pengorbanan di Art Jakarta 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.