Karya Trokomod (Sumber foto: Hypeabis.id/Dika Irawan)

Seniman Heri Dono Pamerkan Kembali Trokomod di Art & Bali 2025

13 September 2025   |   13:31 WIB
Image
Dika Irawan Asisten Konten Manajer Hypeabis.id

Seniman kontemporer Heri Dono turut meramaikan Art & Bali 2025 yang digelar di Nuanu Creative City, Bali, hingga 14 September. Perupa senior itu memboyong salah satu karya gigantiknya, Trokomod, yang sebelumnya tampil di panggung internasional Venice Biennale 2015.

Tidak seperti karya lain yang langsung disuguhkan ke pengunjung, Trokomod diperkenalkan dengan cara berbeda. Pada Jumat (12/9/2025) malam, audiens lebih dulu menyaksikan pertunjukan koreografi bernuansa gelap. Para penari tampil dengan gaya urakan, berambut gimbal, dan salah satunya bahkan cekikikan di atas kontainer. 

Baca juga: 5 Karya Nyentrik di Art & Bali 2025, dari Media Buah Kelapa sampai Cabai

Perlahan, sorotan lampu merah menyingkap wujud instalasi raksasa itu, Trokomod yang menjulang hampir 4 meter, dengan lebar sekitar 3 meter dan panjang mencapai 7,5 meter. Sepintas mirip dinosaurus, sesungguhnya karya ini merupakan perpaduan kuda troya dan komodo. Karena posisinya berada di atas kontainer, pengunjung hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.

“Di Venice, Trokomod saya arahkan untuk menohok Barat. Konteksnya jelas, karena kita bicara di tanahnya barat. Saya ingin menunjukkan bahwa konsep seni modern Barat yang menempatkan seniman sebagai subjek dan yang lain sebagai objek itu berbeda dengan cara pandang kita,” katanya kepada awak media.

Namun di Bali, Heri Dono memberi napas berbeda. Lewat karya ini, dia ingin mengingatkan bahwa Nusantara memiliki kosmologi sendiri. “Dalam tradisi kita, seperti mandala Borobudur atau Taoisme, semua unsur air, tanah, api, udara adalah subjek. Bagi Barat, animisme dianggap primitif. Tapi hari ini, dengan munculnya robot atau kecerdasan buatan, justru terbukti bahwa benda pun punya energi,” ujarnya. 
 

(Sumber foto: Hypeabis.id/Dika Irawan)

(Sumber foto: Hypeabis.id/Dika Irawan)

Selain itu, pada Trokomod kali ini, dia hanya membawa dua kapal arwah yang mengiringi instalasi tersebut. Berbeda dengan edisi Venice Biennale, kala itu dia menghadirkan sembilan instalasi kapal untuk melengkapi Trokomod. Menurutnya, perbedaan ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan tempat. 

Lewat Trokomod, dia menegaskan bahwa referensi seni dan ilmu pengetahuan tidak harus selalu Barat. “Warisan kosmologi dan tradisi lokal pun memiliki nilai yang bisa bicara global,” katanya.

Art & Bali 2025 resmi bergulir sebagai pameran seni internasional perdana di Bali. Ajang yang berlangsung pada 12–14 September 2025 ini menjadikan Nuanu Creative City sebagai ruang pertemuan ide-ide kontemporer dengan tradisi lokal. Sebanyak 17 galeri dari berbagai negara, lebih dari 150 seniman, serta 50 program hadir untuk publik.

Adapun, deretan peserta galeri antara lain Santrian Art Gallery yang meramu tradisi Bali dengan sentuhan kontemporer, Asia Pacific Print Club yang mengusung geliat seni cetak di kawasan Asia Pasifik, hingga Feb Gallery Tokyo yang dikenal lewat eksperimen lintas budaya.

Selain itu, hadir pula Art Agenda, Bagia Art Space, CONNECT ART, Dalam Seniman, Kotak: Art Collective, LAKU Art Space, Lucy Dream Art, N-CAS ISI Bali, Purga Artspace, RUANG//, Spacecraft Gallery, Superlative Gallery, Umah Seni Shibumi, Waworuntu Gallery, serta Morabito Art Villa.

Baca juga: ‘Nasi Bungkus’ Budi Ubrux di Art & Bali 2025, Kritik Ketimpangan dari Simbol Sehari-hari

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Diskon 50% Tambah Daya Listrik PLN September 2025, Cek Harga & Cara Dapat Promonya

BERIKUTNYA

Update Ranking FIFA Timnas Indonesia Sebelum Menuju Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga