5 Karya Nyentrik di Art & Bali 2025, dari Media Buah Kelapa sampai Cabai
13 September 2025 |
08:55 WIB
Sejumlah karya seni langsung menyedot perhatian pengunjung sejak pintu Art & Bali 2025 dibuka di Nuanu Creative City, Jumat (12/9/2025). Instalasi berbasis benda sehari-hari, patung, hingga eksplorasi medium video gim menandai ragam pendekatan segar yang ditawarkan perhelatan ini.
Pada penyelenggaraan perdananya, Art & Bali mencoba menggaet audiens dengan karya-karya seni media baru.Eksplorasi yang ditawarkan meliputi pertemuan antara seni, sains, isu lingkungan, hingga medium imersif dan ruang virtual. Bagi sejumlah seniman, ajang ini menjadi kesempatan pertama untuk memperkenalkan karya berbasis teknologi.
Lebih dari itu, pameran ini berfungsi layaknya laboratorium, tempat seniman bereksperimen sekaligus menguji bagaimana praktik kontemporer yang berakar pada tradisi bisa bertransformasi dalam lanskap digital.
Dalam kesempatan ini, Hypeabis.id telah merangkum karya-karya yang mendapat sorotan di Art & 2025. Berikut karya-karya tersebut:.
Baca juga: Art & Bali 2025 Dibuka, 17 Galeri dari Lima Negara Hadir di Nuanu Creative City
Lewat instalasi berbahan bambu dan kertas nasi, Nus Salomo menghadirkan bagian dari seri Wings Series. Karya ini merenungkan “musim kehidupan”, baik pahit maupun manis, sebagai ruang syukur. Dengan metafora sayap, Nus mengajak pengunjung meninjau ulang persoalan hidup dari sudut pandang yang lebih tinggi, sembari menegaskan pentingnya introspeksi dan pembaruan diri.
Sebuah mobil berwarna kuning cerah berdiri tegak di tengah ruang pamer, tapi wujudnya jauh dari bentuk normal. Badannya memanjang ke atas, atapnya menumpuk seperti deretan jendela bertingkat, sementara tubuhnya sendiri terlihat gepeng dan padat. Sekilas menyerupai kendaraan mainan atau kartun yang digambarkan dengan imajinasi liar.
Karya ini adalah bagian dari eksplorasi Sumbul Pranov. Karya tersebut menyuarakan semangat gerak, vitalitas, dan optimisme. Bagi Pranov, karya ini adalah ajakan untuk tidak berhenti, tapi terus maju dengan daya hidup penuh imajinasi.
Seniman Utami Atasia Ishii menjadikan sambal sebagai titik tolak karya. Melalui instalasi bahan makanan, video proses pembuatan sambal, hingga struktur mikroskopisnya, mempertemukan seni, sains, dan budaya dalam satu sajian. Karya ini menegaskan bahwa kesederhanaan di meja makan pun menyimpan kompleksitas identitas dan memori kolektif bangsa.
Kolektif MIVUBI menyelami sejarah kelam Banda Neira lewat medium gim. Edisi ini menampilkan Benteng Belgica—situs pembantaian rakyat Banda oleh kolonial Belanda, sebagai pusat narasi.
Gameplay-nya menghadirkan pertarungan Rampogan Macan, tontonan publik yang dulu mengadu kerbau dengan harimau Jawa hingga satwa itu punah. Alih-alih memuliakan kekerasan, karya ini menempatkan sejarah berdarah sebagai bahan refleksi: kekerasan ternyata bisa diwariskan lintas generasi, meski dalam bentuk berbeda.
Bukan dengan kanvas atau sapuan warna, Rodney Glick menyajikan sesuatu yang unik lewat karya Stacked Outdoor Chairs, Stacked Bakso Stools, dan Squat Stool. Dia menggiring benda-benda yang begitu akrab di ruang publik Indonesia, kursi plastik, bangku bakso, hingga bangku jongkok, dan buah kelapa.
Dengan medium aluminium cor, objek yang biasanya ringan, rapuh, dan sering dipandang remeh berubah menjadi solid, permanen, bahkan monumental. Di titik ini Glick menguji kembali cara kita memandang keseharian apakah yang banal bisa menjadi artefak dan bagaimana material menggeser makna sebuah benda.
Ketika kursi warung dan bangku bakso dipindahkan ke ruang pamer dengan bobot dan wujud baru dia menghadirkan lapisan tafsir yang ambigu antara nostalgia dan kritik, antara konsumsi massal dan permenungan. Karya ini menyodorkan pengalaman visual yang akrab sekaligus asing seolah memaksa kita berhenti sejenak untuk menimbang ulang relasi dengan objek sederhana yang membentuk lanskap sosial sehari-hari di Indonesia.
Baca juga: ‘Nasi Bungkus’ Budi Ubrux di Art & Bali 2025, Kritik Ketimpangan dari Simbol Sehari-hari
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pada penyelenggaraan perdananya, Art & Bali mencoba menggaet audiens dengan karya-karya seni media baru.Eksplorasi yang ditawarkan meliputi pertemuan antara seni, sains, isu lingkungan, hingga medium imersif dan ruang virtual. Bagi sejumlah seniman, ajang ini menjadi kesempatan pertama untuk memperkenalkan karya berbasis teknologi.
Lebih dari itu, pameran ini berfungsi layaknya laboratorium, tempat seniman bereksperimen sekaligus menguji bagaimana praktik kontemporer yang berakar pada tradisi bisa bertransformasi dalam lanskap digital.
Dalam kesempatan ini, Hypeabis.id telah merangkum karya-karya yang mendapat sorotan di Art & 2025. Berikut karya-karya tersebut:.
Baca juga: Art & Bali 2025 Dibuka, 17 Galeri dari Lima Negara Hadir di Nuanu Creative City
1. Nus Salomo, Under The Shadow of Wings

(Sumber foto: Hypeabis.id/Dika Irawan)
2. Sumbul Pranov, Let’s Go!

(Sumber foto: Hypeabis.id/Dika Irawan)
Karya ini adalah bagian dari eksplorasi Sumbul Pranov. Karya tersebut menyuarakan semangat gerak, vitalitas, dan optimisme. Bagi Pranov, karya ini adalah ajakan untuk tidak berhenti, tapi terus maju dengan daya hidup penuh imajinasi.
3. Utami Atasia Ishii, How Do You Taste? Series No. 004

(Sumber foto: Hypeabis.id)
4. MIVUBI, Pirates of Global South “Rampogan” Edition
Kolektif MIVUBI menyelami sejarah kelam Banda Neira lewat medium gim. Edisi ini menampilkan Benteng Belgica—situs pembantaian rakyat Banda oleh kolonial Belanda, sebagai pusat narasi.Gameplay-nya menghadirkan pertarungan Rampogan Macan, tontonan publik yang dulu mengadu kerbau dengan harimau Jawa hingga satwa itu punah. Alih-alih memuliakan kekerasan, karya ini menempatkan sejarah berdarah sebagai bahan refleksi: kekerasan ternyata bisa diwariskan lintas generasi, meski dalam bentuk berbeda.
5. Rodney Glick, Stacked Outdoor Chairs, Stacked Bakso Stools, dan Squat Stool

(Sumber foto: Hypeabis.id/Dika Irawan)
Dengan medium aluminium cor, objek yang biasanya ringan, rapuh, dan sering dipandang remeh berubah menjadi solid, permanen, bahkan monumental. Di titik ini Glick menguji kembali cara kita memandang keseharian apakah yang banal bisa menjadi artefak dan bagaimana material menggeser makna sebuah benda.
Ketika kursi warung dan bangku bakso dipindahkan ke ruang pamer dengan bobot dan wujud baru dia menghadirkan lapisan tafsir yang ambigu antara nostalgia dan kritik, antara konsumsi massal dan permenungan. Karya ini menyodorkan pengalaman visual yang akrab sekaligus asing seolah memaksa kita berhenti sejenak untuk menimbang ulang relasi dengan objek sederhana yang membentuk lanskap sosial sehari-hari di Indonesia.
Baca juga: ‘Nasi Bungkus’ Budi Ubrux di Art & Bali 2025, Kritik Ketimpangan dari Simbol Sehari-hari
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.