Nyaman tapi Berisiko, Sepatu Karet Clogs Bisa Picu Nyeri Tumit hingga Plantar Fasciitis
29 August 2025 |
18:00 WIB
Tren sandal dan sepatu empuk tebal makin digandrungi di Indonesia. Salah satunya clogs, alas kaki slip-on berbahan karet ringan dengan bentuk khas dan warna mencolok. Selain nyaman, clogs juga populer karena bisa dipersonalisasi dengan aksesori kecil di lubangnya.
Serupa dengan sepatu clogs berbahan kayu yang tradisional, bentuk dan cara penggunaannya dengan clogs modern tidak jauh berbeda. Maka dari itu, sepatu karet ini lebih sering dikenal dengan istilah clogs.
Di media sosial, clogs kerap dianggap sebagai sepatu santai serba bisa. Banyak orang memakainya ke pusat perbelanjaan, sekolah, bahkan tempat kerja. Sol tebal dan bantalan empuknya memberi kesan praktis sekaligus trendi.
Namun, sejumlah ahli kesehatan memberi catatan, penggunaan clogs atau alas kaki serupa secara terus-menerus berpotensi memicu masalah pada telapak kaki.
Baca juga: Cara Memilih Sepatu Olahraga untuk Penderita Plantar Fasciitis
Dilansir dari Healthline, salah satu masalah utamanya ada pada dukungan lengkungan kaki (arch support) yang minim. Sidney Weiser, seorang podiatris sekaligus presiden Quality Podiatry Group di Amerika Serikat, menilai hal ini bisa memberi beban ekstra pada plantar fascia, yakni jaringan tebal yang menghubungkan tumit ke jari-jari kaki.
Jika jaringan ini terus bekerja keras tanpa dukungan alas kaki yang tepat, seseorang bisa mengalami plantar fasciitis, yaitu kondisi nyeri pada tumit hingga bagian tengah telapak. Rasa sakitnya sering muncul di pagi hari saat baru melangkah, dan dapat membuat aktivitas sederhana seperti berdiri lama atau naik tangga terasa sulit.
Faktor risikonya antara lain usia 40–60 tahun, bentuk kaki datar atau terlalu melengkung, berat badan berlebih, hingga aktivitas yang memberi tekanan berulang pada telapak kaki. Sepatu yang terlalu empuk tetapi tidak memiliki arch support, seperti pada clogs, bisa meningkatkan risiko plantar fasciitis.
Selain itu, clogs tanpa penopang tumit juga bisa menimbulkan masalah lain. Tanpa kontrol tumit yang baik, risiko nyeri, tendonitis, hingga ketidakstabilan saat berjalan semakin besar. Beberapa penelitian bahkan menyebut clogs tidak lebih baik dari sandal jepit dalam hal menjaga keseimbangan.
Masalah lain adalah bahan clogs yang terbuat dari plastik. Meski memiliki lubang udara, material ini tetap bisa membuat kaki cepat berkeringat. Jika dipakai terlalu lama, gesekan antara kulit dengan plastik dapat menimbulkan lecet, bau, bahkan iritasi.
Meski begitu, menggunakan clogs tidak sepenuhnya buruk. Ada kegiatan-kegiatan singkat di mana alas kaki ini masih bisa dikenakan, misalnya saat berkebun, mengerjakan pekerjaan rumah, atau sekadar menonton film di bioskop. Clogs juga terasa lebih nyaman bagi orang dengan kaki yang mudah bengkak, atau mereka yang kesulitan membungkuk untuk mengikat tali sepatu.
Sebaliknya, ada beberapa kondisi di mana clogs sebaiknya dihindari:
Jika seseorang mulai merasakan nyeri tumit, lecet, atau keluhan lain saat memakai clogs, sebaiknya segera beralih ke alas kaki dengan dukungan yang lebih stabil. Sepatu slip-on dengan bantalan yang membentuk lengkungan kaki, sneakers khusus olahraga, atau sepatu kerja dengan struktur kokoh bisa menjadi alternatif yang lebih aman.
Tren clogs mungkin akan terus berlanjut karena kenyamanan dan gaya uniknya. Namun, penting diingat bahwa tidak semua yang empuk otomatis baik untuk kaki. Sesekali memakai sepatu ini boleh saja, tapi jangan sampai kenyamanan sesaat mengorbankan kesehatan jangka panjang.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Serupa dengan sepatu clogs berbahan kayu yang tradisional, bentuk dan cara penggunaannya dengan clogs modern tidak jauh berbeda. Maka dari itu, sepatu karet ini lebih sering dikenal dengan istilah clogs.
Di media sosial, clogs kerap dianggap sebagai sepatu santai serba bisa. Banyak orang memakainya ke pusat perbelanjaan, sekolah, bahkan tempat kerja. Sol tebal dan bantalan empuknya memberi kesan praktis sekaligus trendi.
Namun, sejumlah ahli kesehatan memberi catatan, penggunaan clogs atau alas kaki serupa secara terus-menerus berpotensi memicu masalah pada telapak kaki.
Baca juga: Cara Memilih Sepatu Olahraga untuk Penderita Plantar Fasciitis
Dilansir dari Healthline, salah satu masalah utamanya ada pada dukungan lengkungan kaki (arch support) yang minim. Sidney Weiser, seorang podiatris sekaligus presiden Quality Podiatry Group di Amerika Serikat, menilai hal ini bisa memberi beban ekstra pada plantar fascia, yakni jaringan tebal yang menghubungkan tumit ke jari-jari kaki.
Jika jaringan ini terus bekerja keras tanpa dukungan alas kaki yang tepat, seseorang bisa mengalami plantar fasciitis, yaitu kondisi nyeri pada tumit hingga bagian tengah telapak. Rasa sakitnya sering muncul di pagi hari saat baru melangkah, dan dapat membuat aktivitas sederhana seperti berdiri lama atau naik tangga terasa sulit.
Faktor risikonya antara lain usia 40–60 tahun, bentuk kaki datar atau terlalu melengkung, berat badan berlebih, hingga aktivitas yang memberi tekanan berulang pada telapak kaki. Sepatu yang terlalu empuk tetapi tidak memiliki arch support, seperti pada clogs, bisa meningkatkan risiko plantar fasciitis.
Selain itu, clogs tanpa penopang tumit juga bisa menimbulkan masalah lain. Tanpa kontrol tumit yang baik, risiko nyeri, tendonitis, hingga ketidakstabilan saat berjalan semakin besar. Beberapa penelitian bahkan menyebut clogs tidak lebih baik dari sandal jepit dalam hal menjaga keseimbangan.
Masalah lain adalah bahan clogs yang terbuat dari plastik. Meski memiliki lubang udara, material ini tetap bisa membuat kaki cepat berkeringat. Jika dipakai terlalu lama, gesekan antara kulit dengan plastik dapat menimbulkan lecet, bau, bahkan iritasi.
Meski begitu, menggunakan clogs tidak sepenuhnya buruk. Ada kegiatan-kegiatan singkat di mana alas kaki ini masih bisa dikenakan, misalnya saat berkebun, mengerjakan pekerjaan rumah, atau sekadar menonton film di bioskop. Clogs juga terasa lebih nyaman bagi orang dengan kaki yang mudah bengkak, atau mereka yang kesulitan membungkuk untuk mengikat tali sepatu.
Sebaliknya, ada beberapa kondisi di mana clogs sebaiknya dihindari:
- Aktivitas berat seperti lari, hiking, atau olahraga angkat beban.
- Berdiri atau berjalan dalam waktu lama.
- Digunakan oleh anak-anak yang aktif berlari dan bermain.
- Dipakai oleh lansia dengan risiko jatuh yang tinggi.
Jika seseorang mulai merasakan nyeri tumit, lecet, atau keluhan lain saat memakai clogs, sebaiknya segera beralih ke alas kaki dengan dukungan yang lebih stabil. Sepatu slip-on dengan bantalan yang membentuk lengkungan kaki, sneakers khusus olahraga, atau sepatu kerja dengan struktur kokoh bisa menjadi alternatif yang lebih aman.
Tren clogs mungkin akan terus berlanjut karena kenyamanan dan gaya uniknya. Namun, penting diingat bahwa tidak semua yang empuk otomatis baik untuk kaki. Sesekali memakai sepatu ini boleh saja, tapi jangan sampai kenyamanan sesaat mengorbankan kesehatan jangka panjang.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.