Bumi Berotasi Lebih Cepat pada Juli-Agustus 2025, Apa Penyebab dan Dampaknya?
05 July 2025 |
21:11 WIB
Genhype pernah merasa waktu berjalan terlalu cepat? Ternyata hal itu bukan hanya ungkapan atau perasaan saja. Dunia sains baru-baru ini ramai membahas prediksi yang bakal terjadi pada pertengahan tahun bahwa Bumi akan berputar lebih cepat dari biasanya.
Ya, menurut laporan dari Time and Date, sebuah situs yang memantau waktu global, kalender, hingga fenomena astronomi, Bumi diperkirakan mengalami percepatan rotasi antara Juli hingga Agustus 2025. Efeknya, durasi satu hari di planet ini akan menjadi lebih pendek, meski hanya dalam hitungan milidetik.
Berdasarkan laporan itu, ada beberapa tanggal yang diprediksi bakal jadi yang paling cepat sepanjang tahun, yaitu 9 Juli, 22 Juli, dan 5 Agustus 2025, yang disebut-sebut akan menjadi hari tercepat, dengan durasi yang berkurang sekitar 1,51 milidetik.
Ya, menurut laporan dari Time and Date, sebuah situs yang memantau waktu global, kalender, hingga fenomena astronomi, Bumi diperkirakan mengalami percepatan rotasi antara Juli hingga Agustus 2025. Efeknya, durasi satu hari di planet ini akan menjadi lebih pendek, meski hanya dalam hitungan milidetik.
Berdasarkan laporan itu, ada beberapa tanggal yang diprediksi bakal jadi yang paling cepat sepanjang tahun, yaitu 9 Juli, 22 Juli, dan 5 Agustus 2025, yang disebut-sebut akan menjadi hari tercepat, dengan durasi yang berkurang sekitar 1,51 milidetik.
Meskipun kedengarannya sepele, perubahan kecil ini cukup bikin para ilmuwan di seluruh dunia mengangkat alis. Sebab perubahan kecepatan rotasi Bumi bukanlah hal yang sering terjadi, dan kalau sampai menimbulkan efek jangka panjang, ini bisa memengaruhi sistem penunjuk waktu global.
Baca juga: Peristiwa Gempa Bumi Terbesar di Dunia, Terbaru di Myanmar-Thailand
Lantas apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Sampai sekarang, para peneliti belum bisa memastikan sepenuhnya penyebab utama dari percepatan ini. Akan tetapi, beberapa teori yang sedang digodok menyebutkan kemungkinan besar terkait dengan posisi Bulan yang memengaruhi gaya tarik-menarik Bumi, atau pergerakan dalam inti planet Bumi itu sendiri.
Sebagai informasi, inti Bumi sebenarnya bersifat aktif dan bisa memicu perubahan kecil dalam rotasi. Jadi meskipun kita tidak bisa melihatnya langsung, efeknya bisa terasa lewat pergeseran waktu sekecil apa pun.
Pertanyaan berikutnya, apa dampaknya bagi Bumi dan manusia? Secara langsung, perubahan ini tidak akan memengaruhi aktivitas sehari-hari. Genhype tetap bisa melakukan kegiatan ngopi, scroll media sosial, atau binge watch dalam kurun waktu 24 jam sehari.
Meski begitu, situasi tersebut memiliki efek pada sistem super presisi seperti jam atomik, sistem navigasi satelit (kayak GPS), dan komunikasi internasional berbasis waktu.
Baca juga: Peristiwa Gempa Bumi Terbesar di Dunia, Terbaru di Myanmar-Thailand
Lantas apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Sampai sekarang, para peneliti belum bisa memastikan sepenuhnya penyebab utama dari percepatan ini. Akan tetapi, beberapa teori yang sedang digodok menyebutkan kemungkinan besar terkait dengan posisi Bulan yang memengaruhi gaya tarik-menarik Bumi, atau pergerakan dalam inti planet Bumi itu sendiri.
Sebagai informasi, inti Bumi sebenarnya bersifat aktif dan bisa memicu perubahan kecil dalam rotasi. Jadi meskipun kita tidak bisa melihatnya langsung, efeknya bisa terasa lewat pergeseran waktu sekecil apa pun.
Pertanyaan berikutnya, apa dampaknya bagi Bumi dan manusia? Secara langsung, perubahan ini tidak akan memengaruhi aktivitas sehari-hari. Genhype tetap bisa melakukan kegiatan ngopi, scroll media sosial, atau binge watch dalam kurun waktu 24 jam sehari.
Meski begitu, situasi tersebut memiliki efek pada sistem super presisi seperti jam atomik, sistem navigasi satelit (kayak GPS), dan komunikasi internasional berbasis waktu.
Jika perbedaan waktu terus terjadi tanpa penyesuaian, sistem-sistem tersebut bisa mengalami ketidaktepatan dan eror yang cukup serius. Untuk mengantisipasi itu, para ilmuwan sedang mempertimbangkan pengenalan konsep baru bernama Negative Leap Second pada 2029.
Biasanya, ketika rotasi Bumi melambat, dunia menambahkan satu detik ekstra yang disebut Leap Second. Tapi kali ini karena Bumi lebih cepat, maka yang dilakukan adalah mengurangi satu detik dari waktu dunia agar semua sistem tetap akurat dan sinkron.
Adapun, menurut para ahli, percepatan ini mungkin cuma sementara. Bumi bisa saja melambat lagi pada masa depan tergantung dari banyak faktor mulai dari aktivitas inti, interaksi dengan Bulan, hingga efek dari perubahan iklim global. Untuk sekarang, para ilmuwan sedang mengamati rotasi Bumi dengan super teliti sambil menyiapkan skenario yang mungkin terjadi.
Jadi, walau cuma beda milidetik, fenomena ini tetap bikin kagum dan jadi pengingat kalau Bumi itu bukan bola statis, tapi dinamis. Manusia hidup di planet yang terus berubah, bahkan kecepatannya pun bisa berubah seiring waktu.
Baca juga: Logam Aneh Ditemukan di Harta Karun Kuno Iberia, Bukan Berasal dari Bumi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Biasanya, ketika rotasi Bumi melambat, dunia menambahkan satu detik ekstra yang disebut Leap Second. Tapi kali ini karena Bumi lebih cepat, maka yang dilakukan adalah mengurangi satu detik dari waktu dunia agar semua sistem tetap akurat dan sinkron.
Adapun, menurut para ahli, percepatan ini mungkin cuma sementara. Bumi bisa saja melambat lagi pada masa depan tergantung dari banyak faktor mulai dari aktivitas inti, interaksi dengan Bulan, hingga efek dari perubahan iklim global. Untuk sekarang, para ilmuwan sedang mengamati rotasi Bumi dengan super teliti sambil menyiapkan skenario yang mungkin terjadi.
Jadi, walau cuma beda milidetik, fenomena ini tetap bikin kagum dan jadi pengingat kalau Bumi itu bukan bola statis, tapi dinamis. Manusia hidup di planet yang terus berubah, bahkan kecepatannya pun bisa berubah seiring waktu.
Baca juga: Logam Aneh Ditemukan di Harta Karun Kuno Iberia, Bukan Berasal dari Bumi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.