Tari Anak Pacu Jalur dari Riau Kembali Mendunia Lewat Tren Aura Farming
04 July 2025 |
14:30 WIB
Tradisi Pacu Jalur dari Riau mencuri perhatian dunia. Bukan karena balap perahunya yang mendebarkan, melainkan lewat video viral yang menampilkan tarian anak-anak dalam rangkaian acara budaya itu. Gaya luwes dan ekspresif sang anak saat berada di atas perahu menyita perhatian dan melahirkan tren baru yang disebut "Aura Farming".
Istilah Aura Farming populer di kalangan Gen Z dan Alpha. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat keren secara alami atau tanpa usaha yang berlebihan. Gaya sang penari cilik di atas perahu menjadi contoh sempurna dari hal tersebut.
Gerakan dan ekspresinya yang jujur dan spontan dianggap mencerminkan pesona keren yang sebenarnya. Tren aura farming ini kemudian menyebar luar bahkan ditiru oleh selebritas dunia seperti Travis Kelce, bintang NFL yang juga kekasih Taylor Swift, serta YouTuber populer KSI.
Baca juga: Digital Detox Retreat, Tren Liburan Baru Favorit Milenial & Gen Z 2025
Klub sepak bola ternama seperti Paris Saint-Germain (PSG) dan AC Milan pun turut meramaikan tren ini. Mereka mengunggah sejumlah selebrasi pemain timnya yang seperti tengah meniru gerakan khas tarian anak Pacu Jalur.
Ini bukan kali pertama tradisi Pacu Jalur viral. Sekiranya dua tahun yang lalu, tradisi ini juga sempat mencuri perhatian publik. Kala itu, banyak netizen yang ikut memparodikan aksi bocah yang beraksi di lomba yang dikenal dengan istilah pacu jalur itu. Akan tetapi, kini skalanya tampak lebih besar, terutama karena berbarengan dengan tren aura farming.
Mengutip laman Kementerian Kebudayaan, Pacu Jalur merupakan lomba dayung yang berasal dari Provinsi Riau. Tradisi ini telah menjadi Pesta Rakyat kebanggaan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Secara nasional, tradisi ini juga telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Pacu Jalur adalah puncak dari seluruh usaha dan kerja keras mereka selama setahun. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Agustus.
Dalam praktiknya, perlombaan ini bukan hanya tentang mencari yang tercepat. Ajang ini selalu digelar sebagai sebuah tradisi meriah, dengan gemuruh meriam, kostum warna-warni, dan teriakan semangat dari tepi sungai.
Salah satu daya tarik utama dalam tradisi Pacu Jalur adalah kehadiran seorang anak kecil yang berdiri di bagian depan perahu sambil menari dengan lincah. Anak ini biasanya mengenakan pakaian adat lengkap dengan tanjak khas Melayu Riau.
Setiap kru di atas perahu memiliki tugas yang berbeda tapi penting. Tukang Concang bertindak sebagai pemimpin atau komando utama, Tukang Pinggang berperan sebagai pengendali arah atau juru mudi, sementara Tukang Onjai bertugas memberi irama dan memompa semangat para pendayung agar tetap kompak.
Anak penari yang berada di ujung depan perahu disebut Tukang Tari atau Anak Coki. Selain itu, terdapat pula sosok Timbo Ruang di bagian tengah perahu yang juga menari sekaligus memberi aba-aba, serta Tukang Onjai di bagian belakang yang memandu arah jalur perahu.
Ketiganya menjalankan peran yang berbeda, tetapi saling mendukung. Anak Coki akan mulai menari saat perahu yang ditumpanginya unggul dari lawan. Timbo Ruang berfungsi memberi komando serta ritme kepada para pendayung, sedangkan Tukang Onjai memastikan perahu tetap pada jalur yang benar dan stabil hingga garis akhir.
Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya perahu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk sarana bepergian warganya.
Dari moda transportasi biasa, kemudian perahu-perahu di sana berkembang dengan diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya. Perahu juga masih ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).
Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi perahu menjadi tidak sekadar alat angkut, tetapi juga identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu.
Sekitar 100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan perahu itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antar jalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur.
Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus.
Baca juga: Cara Bikin Strava Fridge, Tren Memamerkan Statistik Olahraga dengan Gaya Kekinian
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Istilah Aura Farming populer di kalangan Gen Z dan Alpha. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat keren secara alami atau tanpa usaha yang berlebihan. Gaya sang penari cilik di atas perahu menjadi contoh sempurna dari hal tersebut.
Gerakan dan ekspresinya yang jujur dan spontan dianggap mencerminkan pesona keren yang sebenarnya. Tren aura farming ini kemudian menyebar luar bahkan ditiru oleh selebritas dunia seperti Travis Kelce, bintang NFL yang juga kekasih Taylor Swift, serta YouTuber populer KSI.
Baca juga: Digital Detox Retreat, Tren Liburan Baru Favorit Milenial & Gen Z 2025
Klub sepak bola ternama seperti Paris Saint-Germain (PSG) dan AC Milan pun turut meramaikan tren ini. Mereka mengunggah sejumlah selebrasi pemain timnya yang seperti tengah meniru gerakan khas tarian anak Pacu Jalur.
Ini bukan kali pertama tradisi Pacu Jalur viral. Sekiranya dua tahun yang lalu, tradisi ini juga sempat mencuri perhatian publik. Kala itu, banyak netizen yang ikut memparodikan aksi bocah yang beraksi di lomba yang dikenal dengan istilah pacu jalur itu. Akan tetapi, kini skalanya tampak lebih besar, terutama karena berbarengan dengan tren aura farming.
Mengutip laman Kementerian Kebudayaan, Pacu Jalur merupakan lomba dayung yang berasal dari Provinsi Riau. Tradisi ini telah menjadi Pesta Rakyat kebanggaan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Secara nasional, tradisi ini juga telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Pacu Jalur adalah puncak dari seluruh usaha dan kerja keras mereka selama setahun. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Agustus.
Dalam praktiknya, perlombaan ini bukan hanya tentang mencari yang tercepat. Ajang ini selalu digelar sebagai sebuah tradisi meriah, dengan gemuruh meriam, kostum warna-warni, dan teriakan semangat dari tepi sungai.
Salah satu daya tarik utama dalam tradisi Pacu Jalur adalah kehadiran seorang anak kecil yang berdiri di bagian depan perahu sambil menari dengan lincah. Anak ini biasanya mengenakan pakaian adat lengkap dengan tanjak khas Melayu Riau.
Setiap kru di atas perahu memiliki tugas yang berbeda tapi penting. Tukang Concang bertindak sebagai pemimpin atau komando utama, Tukang Pinggang berperan sebagai pengendali arah atau juru mudi, sementara Tukang Onjai bertugas memberi irama dan memompa semangat para pendayung agar tetap kompak.
Anak penari yang berada di ujung depan perahu disebut Tukang Tari atau Anak Coki. Selain itu, terdapat pula sosok Timbo Ruang di bagian tengah perahu yang juga menari sekaligus memberi aba-aba, serta Tukang Onjai di bagian belakang yang memandu arah jalur perahu.
Ketiganya menjalankan peran yang berbeda, tetapi saling mendukung. Anak Coki akan mulai menari saat perahu yang ditumpanginya unggul dari lawan. Timbo Ruang berfungsi memberi komando serta ritme kepada para pendayung, sedangkan Tukang Onjai memastikan perahu tetap pada jalur yang benar dan stabil hingga garis akhir.
Asal Usul Pacu Jalur
Mengutip laman Pemerintah Daerah Kuansing, tradisi Pacu Jalur telah dimulai sejak abad ke-17. Saat itu, jalur (perahu) merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti Kecamatan Cerenti di hilir.Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya perahu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk sarana bepergian warganya.
Dari moda transportasi biasa, kemudian perahu-perahu di sana berkembang dengan diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya. Perahu juga masih ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).
Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi perahu menjadi tidak sekadar alat angkut, tetapi juga identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu.
Sekitar 100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan perahu itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antar jalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur.
Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus.
Baca juga: Cara Bikin Strava Fridge, Tren Memamerkan Statistik Olahraga dengan Gaya Kekinian
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.