Rio Dewanto Dalami Peran Pelukis Micro Painting di Film Legenda Kelam Malin Kundang
20 May 2025 |
15:30 WIB
Aktor Rio Dewanto kembali menantang dirinya lewat peran unik dalam film Legenda Kelam Malin Kundang. Dalam film produksi Come and See Pictures ini, Rio dipercaya memerankan Alif, seorang pelukis micro painting yang telah punya nama besar.
Rio mengaku proses pendalaman karakternya kali ini cukup berbeda dibanding peran-peran sebelumnya. Alih-alih menekankan pada sisi teknis melukis, dia lebih fokus mendalami psikologi dan dunia seorang pelukis micro painting.
“Sebenarnya lebih ke nyari tahu aja si pelukis micro itu seperti apa. Itu kan pelukis yang bisa melukis di medium-medium yang sangat kecil ya, kayak batu, beras dan sebagainya. Sebenarnya itu sih yang aku kulik,” ungkap Rio.
Baca juga: Legenda Kelam Malin Kundang Jadi Film Pertama Rio Dewanto & Faradina Mufti Beradu Peran
Micro painting, atau sering juga disebut sebagai lukisan miniatur, adalah sebuah bentuk seni lukis yang dilakukan dalam skala yang sangat kecil, terkadang hingga sepersepuluh milimeter. Seni ini membutuhkan keahlian tinggi dan ketelitian yang sangat detail, karena semua detail harus dapat terlihat meski dalam ukuran yang sangat kecil.
Dalam film, profesi ini bukan hanya tempelan, tapi turut membentuk karakter dan latar belakang emosional tokoh yang diperankan Rio. Meski tidak secara mendalam belajar teknik micro painting, Rio mengandalkan kerja sama dengan tim art untuk menunjang keaslian visual profesinya di layar.
"Kalau belajar tekniknya, enggak terlalu. Karena itu mungkin bisa diperbantukan oleh tim art ya. Lebih ke pendalaman profesinya saja," tambahnya.
Bagi Rio Dewanto, tantangan terberat dalam memerankan karakter Alif di film ini bukan terletak pada profesinya atau dialog yang rumit. Akan tetapi, lebih pada bagaimana si karakter ini bisa menghadirkan lapisan emosi hanya lewat ekspresi dan bahasa tubuh.
Karakter Alif, lanjutnya, digambarkan sebagai sosok yang memendam banyak kegelisahan batin dan kebingungan. Dua emosi ini menjadi benang merah dalam film yang penting.
Menurut Rio, menyalurkan rasa bingung tanpa bantuan dialog adalah bentuk akting yang paling halus, tetapi pada praktiknya sangat menantang. "Yang sangat sulit adalah gimana membuat Alif ini memang benar-benar bisa terasa sama penonton, menghadirkan perasaan kebingungannya tanpa harus dari segi verbal," katanya.
Untuk itu, Rio fokus mengolah tatapan mata, gestur kecil, bahkan ritme napas sebagai medium utama dalam menyampaikan keadaan batin tokohnya. Dia berupaya menciptakan intensitas emosional yang bisa dirasakan penonton meski karakternya tidak banyak bicara.
Pendekatan ini menuntut kontrol penuh terhadap tubuh dan emosi, serta pemahaman mendalam terhadap momen-momen krusial dalam cerita. Dengan pendekatan akting yang subtil dan penuh nuansa ini, Rio berharap penonton dapat ikut terseret ke dalam labirin kebingungan yang dialami Alif, menjadikan pengalaman menonton jauh lebih personal dan menggugah.
Film Legenda Kelam Malin Kundang menawarkan reinterpretasi segar terhadap kisah klasik yang sudah mengakar di budaya populer. Lewat pendekatan yang lebih gelap dan emosional, cerita Malin Kundang dihadirkan dalam konteks baru yang lebih kompleks, menyentuh aspek hubungan antar karakter serta dinamika sosial masa kini.
Proyek ini juga diperkuat oleh keterlibatan para figur penting di dunia perfilman. Dua sutradara muda berbakat, Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, dipercaya memimpin arah artistik film ini, membawa sudut pandang yang segar.
Sementara itu, kehadiran Joko Anwar sebagai salah satu penulis skenario, bersama Aline Djayasukmana dan Rafki Hidayat, juga akan memberikan lapisan naratif yang solid dan penuh kejutan.
Dengan balutan genre drama, misteri, dan thriller, film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang menegangkan dan menggugah rasa penasaran. Plot yang penuh intrik dan kejutan dirancang untuk menjaga adrenalin penonton tetap tinggi dari awal hingga akhir.
Film ini akan mengikuti kisah seorang seniman lukisan mikro bernama Alif (diperankan Rio Dewanto). Setelah pulih dari kecelakaan, dokter mengingatkan bahwa ingatannya belum pulih sepenuhnya.
Ketika dia pulang ke rumah dan dijemput oleh istrinya, Nadine (Faradina Mufti) serta anaknya, Emir (Jordan Omar), dia diberitahu bahwa ibunya akan datang berkunjung. Masalahnya, Alif tidak ingat wajah ibunya, bahkan tidak ingat sama sekali tentang masa lalunya. Ketika perempuan itu tiba, dia curiga bahwa perempuan itu bukanlah ibunya.
Direncanakan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada akhir 2025, Legenda Kelam Malin Kundang menjadi salah satu film yang paling dinantikan tahun ini.
Baca juga: Sutradara Rafki Hidayat Reinterpretasi Malin Kundang dalam Balutan Misteri Thriller
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Rio mengaku proses pendalaman karakternya kali ini cukup berbeda dibanding peran-peran sebelumnya. Alih-alih menekankan pada sisi teknis melukis, dia lebih fokus mendalami psikologi dan dunia seorang pelukis micro painting.
“Sebenarnya lebih ke nyari tahu aja si pelukis micro itu seperti apa. Itu kan pelukis yang bisa melukis di medium-medium yang sangat kecil ya, kayak batu, beras dan sebagainya. Sebenarnya itu sih yang aku kulik,” ungkap Rio.
Baca juga: Legenda Kelam Malin Kundang Jadi Film Pertama Rio Dewanto & Faradina Mufti Beradu Peran
Micro painting, atau sering juga disebut sebagai lukisan miniatur, adalah sebuah bentuk seni lukis yang dilakukan dalam skala yang sangat kecil, terkadang hingga sepersepuluh milimeter. Seni ini membutuhkan keahlian tinggi dan ketelitian yang sangat detail, karena semua detail harus dapat terlihat meski dalam ukuran yang sangat kecil.
Dalam film, profesi ini bukan hanya tempelan, tapi turut membentuk karakter dan latar belakang emosional tokoh yang diperankan Rio. Meski tidak secara mendalam belajar teknik micro painting, Rio mengandalkan kerja sama dengan tim art untuk menunjang keaslian visual profesinya di layar.
"Kalau belajar tekniknya, enggak terlalu. Karena itu mungkin bisa diperbantukan oleh tim art ya. Lebih ke pendalaman profesinya saja," tambahnya.
Bagi Rio Dewanto, tantangan terberat dalam memerankan karakter Alif di film ini bukan terletak pada profesinya atau dialog yang rumit. Akan tetapi, lebih pada bagaimana si karakter ini bisa menghadirkan lapisan emosi hanya lewat ekspresi dan bahasa tubuh.
Karakter Alif, lanjutnya, digambarkan sebagai sosok yang memendam banyak kegelisahan batin dan kebingungan. Dua emosi ini menjadi benang merah dalam film yang penting.
Menurut Rio, menyalurkan rasa bingung tanpa bantuan dialog adalah bentuk akting yang paling halus, tetapi pada praktiknya sangat menantang. "Yang sangat sulit adalah gimana membuat Alif ini memang benar-benar bisa terasa sama penonton, menghadirkan perasaan kebingungannya tanpa harus dari segi verbal," katanya.
Untuk itu, Rio fokus mengolah tatapan mata, gestur kecil, bahkan ritme napas sebagai medium utama dalam menyampaikan keadaan batin tokohnya. Dia berupaya menciptakan intensitas emosional yang bisa dirasakan penonton meski karakternya tidak banyak bicara.
Pendekatan ini menuntut kontrol penuh terhadap tubuh dan emosi, serta pemahaman mendalam terhadap momen-momen krusial dalam cerita. Dengan pendekatan akting yang subtil dan penuh nuansa ini, Rio berharap penonton dapat ikut terseret ke dalam labirin kebingungan yang dialami Alif, menjadikan pengalaman menonton jauh lebih personal dan menggugah.
Film Legenda Kelam Malin Kundang menawarkan reinterpretasi segar terhadap kisah klasik yang sudah mengakar di budaya populer. Lewat pendekatan yang lebih gelap dan emosional, cerita Malin Kundang dihadirkan dalam konteks baru yang lebih kompleks, menyentuh aspek hubungan antar karakter serta dinamika sosial masa kini.
Proyek ini juga diperkuat oleh keterlibatan para figur penting di dunia perfilman. Dua sutradara muda berbakat, Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, dipercaya memimpin arah artistik film ini, membawa sudut pandang yang segar.
Sementara itu, kehadiran Joko Anwar sebagai salah satu penulis skenario, bersama Aline Djayasukmana dan Rafki Hidayat, juga akan memberikan lapisan naratif yang solid dan penuh kejutan.
Dengan balutan genre drama, misteri, dan thriller, film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang menegangkan dan menggugah rasa penasaran. Plot yang penuh intrik dan kejutan dirancang untuk menjaga adrenalin penonton tetap tinggi dari awal hingga akhir.
Film ini akan mengikuti kisah seorang seniman lukisan mikro bernama Alif (diperankan Rio Dewanto). Setelah pulih dari kecelakaan, dokter mengingatkan bahwa ingatannya belum pulih sepenuhnya.
Ketika dia pulang ke rumah dan dijemput oleh istrinya, Nadine (Faradina Mufti) serta anaknya, Emir (Jordan Omar), dia diberitahu bahwa ibunya akan datang berkunjung. Masalahnya, Alif tidak ingat wajah ibunya, bahkan tidak ingat sama sekali tentang masa lalunya. Ketika perempuan itu tiba, dia curiga bahwa perempuan itu bukanlah ibunya.
Direncanakan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada akhir 2025, Legenda Kelam Malin Kundang menjadi salah satu film yang paling dinantikan tahun ini.
Baca juga: Sutradara Rafki Hidayat Reinterpretasi Malin Kundang dalam Balutan Misteri Thriller
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.