Ali & Ratu Ratu Queens: Kisah Keberuntungan si Bocah Nekad di Kota New York

13 March 2022   |   11:36 WIB
Image
hasna ulfah sejak kecil banyak berimajinasi, sudah besar dituangkan pada tulisan sendiri

Like
New York.. New York.. The Big Apple, kota yang penuh dengan jutaan mimpi. Melalui Ali & Ratu Ratu Queens kita dapat menikmati bagian demi bagian, mimpi yang rasanya begitu besar namun juga sulit digapai di Kota yang tidak pernah tidur ini.

Pada pertengahan Juni 2021, Ali & Ratu Ratu Queens ramai-ramai menjadi tontonan yang begitu mudah diakses melalui Netflix. Rasanya film garapan Lucky Kuswandi ini begitu hangat dan menarik perhatian dengan peran utama Iqbaal Ramadhan sebagai Ali. Tentu saja selain banyaknya penggemar Iqbaal Ramadhan yang telah menantikan sang idola memainkan perannya sebagai Ali, film ini juga cukup ditunggu karena ditulis langsung oleh Gina S Noer yang sebelumnya telah sukses membawakan film-film lainnya yang digemari penonton Indonesia. Selain hal-hal yang mendukung suksesnya film ini, mari kita sama-sama mengulang kembali betapa hangat dan menyenangkannya mengikuti kisah bocah nekad bernama Ali yang mencari mamanya ke New York.

Berangkat dari latar masa kecil Ali, penonton sudah dibuat sedih dengan Ali kecil yang harus melepas mamanya pergi ke New York. Penonton seolah dibawa ikut merasakan kegalauan sebuah keluarga kecil antara Mia, suaminya Hasan dan anak semata wayang mereka yang masih terlalu kecil untuk mengerti—Ali. Semua bermula dari Mia yang memiliki keinginan besar untuk mengejar mimpinya untuk menjadi penyanyi di Kota New York. Dari sekian banyak kota dan negara namun New York lah yang seoalah-olah dirasa paling mampu mewujudkan mimpi Mia, sehingga ia harus memilih meninggalkan keluarganya di Indonesia.
Tidak berlama-lama untuk langsung melompat ke mimpi Ali yang sesungguhnya—yaitu menemui Mama di New York. Setelah sang Ayah meninggal dunia, Ali pun menjemput mimpinya dengan berbekal uang sewa rumahnya yang dibuat mudah sekali didapatkan untuk “memberangkatkan” Ali pada mimpinya. Selain pencahayaan dalam sinematografi yang rasanya begitu nyaman mengalir selama film ini berlangsung, latar kultur keluarga Ali yang rasanya “Indonesia” banget juga membuat penonton dibuat terkikik gemas karena begitu relate dengan banyak yang kita alami. Walau susah payah Ali meyakinkan keluarga ayahnya yang yakin bahwa mamanya dengan sengaja meninggalkan Ali di Indonesia, namun nasib rasanya begitu mujur untuk Ali nekad berangkat ke New York.

Hal yang juga membuat jatuh cinta dari Ali & Ratu Ratu Queens adalah bagaimana latar dan alur yang begitu smooth menggiring Ali dan kita bersamaan memasuki Kota New York. Bahkan di momen pertama Ali bertemu rumah di area Queens, New York dan menemui para “Ratu Ratu Queens”. Rasanya New York yang sibuk seketika terasa ramah untuk siapapun yang sedari tadi menyaksikan perjalanan Ali. Tentu saja pendukung lain dari film ini, ialah tokoh-tokoh pemeran para tante yang membantu Ali menemukan mamanya di New York. Akting yang rasanya tidak perlu diragukan lagi dari Nirina Zubir dan kawan-kawan sebagai Party, Biyah, Chinta dan Ance membuat humor terasa mengalir dan mudah dinikmati penonton. Walau hingga bertemunya Ali dengan mamanya—Mia, tetap rasanya yang paling menyita perhatian dan berhasil mencuri hati penonton adalah kebaikan dan kasih sayang apa adanya dari para Ratu Ratu Queens.

Pertemuan Ali dengan mamanya yang tadinya merupakan poin utama dari film ini, kemudian teralihkan dengan adegan-adegan mengharukan para tante Ratu Ratu Queens yang begitu membela kesetiaan Ali untuk Sang Mama. Pembawaan Marissa Anita sebagai Mia juga rasanya berhasil membuat penonton dibuat kesal. Sikap bingung dan sedikit angkuh yang rasanya siapapun malas ngobrol banyak dengan sosok Mia. Terlebih di waktu Ali mulai mengenalkan Mia pada tante-tantenya saat perayaan Thanksgiving. Momen ini membuat penonton seolah-olah menghakimi Mia yang begitu menjaga sikapnya. Walau kita semua juga diberikan penjelasan tentang bagaimana Mia kebingungan dengan situasinya yang sudah memiliki keluarga dan Ali yang tiba-tiba saja muncul kembali ke hidupnya. Namun alur film ini kembali membuat penonton mampu menitikkan air mata Ketika Mia malah memberikan cek uang pada Party dan memintanya membujuk Ali untuk kembali ke Indonesia.

Puncak dimana Ali mengikuti emosinya untuk menemui Mia, perbincangan penuh emosi yang dibawakan Iqbaal dan Marissa di sebuah gang kecil dibalik gedung-gedung mewah Kota New York membawa penonton untuk menemain Ali menemui titik balik dari mimpinya bertemu Sang Mama. Ditambah sosok Eva yang diselipkan dalam kisah Ali, menjadi tempat Ali mengadu saat ia merasa hampir menyerah. Menariknya sosok Eva yang begitu sederhana namun menyenangkan, mampu membuat Ali tersadar dan ingin kembali melanjutkan hidupnya di New York. Ali kembali menemui para Ratu Ratu Queens, dan menjadi bagian favorit dalam film ini. Rasanya siapapun akan menjadi setuju ketika video buatan Ali untuk Mama dan Ratu Ratu Queens adalah penutup yang manis. Seolah penonton memahami dari kacamata Ali yang begitu bersyukur dengan keberadaannya yang diterima menjadi bagian dari keluarga Ratu Ratu Queens, walaupun mimpinya untuk dapat melanjutkan hidupnya dengan Mia tidak semulus yang ia kira.

Warna-warna dan goretan tangan Ali dalam video yang dibuatnya terasa begitu hidup dan mampu menyampaikan perasaannya selama ia berada di New York. Penutup manis yang membuat Ali memilih untuk tinggal dan tetap melanjutkan hidup dengan keluarga barunya di New York seharusnya sudah cukup bagi penikmat film ini. Sayangnya beberapa bagian penutup seperti keputusan Mia untuk menjelaskan pada suaminya mengenai Ali terasa begitu dipaksakan, seperti keputusan yang seharusnya Mia lakukan sejak awal Ali tiba di New York. Penutup yang seharusnya sudah mengalir manis rasanya terlalu banyak dibubuhi bagian-bagian yang tidak perlu. Seperti mudahnya Ali dalam mencari beasiswa dan melanjutkan hidupnya dengan bekerja di New York, juga sepupunya Zulpang yang tiba-tiba mendapat restu ibunya untuk melanjutkan kuliah di New York sambil menyusul Ali. Namun akhir yang terkesan dipaksakan untungnya tidak merusak kesan hangat drama keluarga yang dibawakan begitu manis oleh Iqbaal dan pemeran lainnya.

Ali & Ratu Ratu Queens berhasil menyuguhkan serunya banyak mimpi yang dikejar di New York dengan begitu menyenangkan dan ringan. Walau terkesan semuanya cukup mulus untuk Ali, rasa kekeluargaan yang muncul dari orang-orang asing di hidup Ali berhasil membuat siapa saja setuju untuk mengulang kembali menyaksikan serunya kisan bocah nekad yang menjemput mimpinya di New York. Meyakinkan kita bahwa semua orang boleh jatuh cinta pada mimpinya masing-masing, dan mengerahkan apa saja selagi kita percaya dan mampu mendapatkannya.