The Melting Minds, Suara Psikedelik dari Tanah Gunung Kidul
03 March 2026 |
12:29 WIB
Di balik perbukitan karst Gunung Kidul, Yogyakarta, lahir sebuah band yang membawa nafas psikedelik penuh mistis ke panggung musik Indonesia. The Melting Minds, kolektif rock eksperimental asal Wonosari, telah menjadi salah satu nama yang semakin diperhitungkan dalam skena musik independen Tanah Air sejak terbentuk pada 2020.
Band ini bermula dari reuni sang pendiri, Slinky Bones, dengan teman-teman lamanya di Wonosari pada akhir 2019. Dari pertemuan itulah tumbuh sebuah visi musik yang unik, memadukan mitologi Jawa dan Yunani Kuno dengan estetika rock psikedelik era 1960-1970an. Hasilnya adalah suara yang tak mudah dikategorikan, sebuah perpaduan chaos dan keteraturan yang dibungkus nuansa gothic dan folklore lokal.
Baca juga: Single "Nol" Tangkap Wajah Abnormal Realitas Sosial Ala Band Monkey To Millionaire
Formasi band ini pun terbilang tidak biasa. Dengan tiga gitaris dan dua drummer, The Melting Minds membangun dinding suara yang tebal dan berlapis. Personel utama mereka antara lain Slinky Bones sebagai produser, Marcell Yoga (bass), Ahmad Tubagus (gitar), Restu Prabawa, dan Abram Abisai. Kolektif ini bernaung di bawah label independen Boneless Records.
Album debut mereka bertajuk Alternate Universe dirilis pada Juni 2022, dan langsung menarik perhatian penggemar rock alternatif tanah air. Diikuti sejumlah single seperti "The Snake" dan "Possessing The Witch", The Melting Minds terus membangun identitas suara yang khas dan konsisten yang gelap, ritualistik, tetapi penuh energi.
Oktober 2025 menandai babak baru The Melting Minds dengan perilisan single "In a Land" bekerja sama dengan IKLIM. Lagu yang diproduksi oleh Iga Massardi dan ditulis oleh Slinky Bones ini mengangkat tema besar, kehancuran lingkungan, kehilangan tanah suci, dan seruan untuk bangkit. Lirik-liriknya sarat elemen mistis, dengan baris seperti "crimson gaze from evil's eye" dan seruan berulang "awake! awake!" yang menghantui.
Video musik resminya dirilis pada 7 Februari 2026, disutradarai oleh Rahmat Dani Atmojo. Proses syuting dilakukan di Karangasem, Ponjong, Gunungkidul, menghadirkan visual yang kontras antara nuansa earthy dan ritualistik. Hasilnya adalah sebuah karya audiovisual yang kuat secara estetika sekaligus dalam secara pesan.
Musik The Melting Minds tersedia di berbagai platform streaming, termasuk Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Bandcamp. Fans juga bisa mengikuti perjalanan mereka melalui media sosial di Instagram, X, dan TikTok dengan akun @themeltingminds. The Melting Minds adalah bukti nyata bahwa kreativitas tanpa batas bisa tumbuh di mana saja, bahkan dari sudut Gunung Kidul yang tenang.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Band ini bermula dari reuni sang pendiri, Slinky Bones, dengan teman-teman lamanya di Wonosari pada akhir 2019. Dari pertemuan itulah tumbuh sebuah visi musik yang unik, memadukan mitologi Jawa dan Yunani Kuno dengan estetika rock psikedelik era 1960-1970an. Hasilnya adalah suara yang tak mudah dikategorikan, sebuah perpaduan chaos dan keteraturan yang dibungkus nuansa gothic dan folklore lokal.
Baca juga: Single "Nol" Tangkap Wajah Abnormal Realitas Sosial Ala Band Monkey To Millionaire
Formasi band ini pun terbilang tidak biasa. Dengan tiga gitaris dan dua drummer, The Melting Minds membangun dinding suara yang tebal dan berlapis. Personel utama mereka antara lain Slinky Bones sebagai produser, Marcell Yoga (bass), Ahmad Tubagus (gitar), Restu Prabawa, dan Abram Abisai. Kolektif ini bernaung di bawah label independen Boneless Records.
Album debut mereka bertajuk Alternate Universe dirilis pada Juni 2022, dan langsung menarik perhatian penggemar rock alternatif tanah air. Diikuti sejumlah single seperti "The Snake" dan "Possessing The Witch", The Melting Minds terus membangun identitas suara yang khas dan konsisten yang gelap, ritualistik, tetapi penuh energi.
Oktober 2025 menandai babak baru The Melting Minds dengan perilisan single "In a Land" bekerja sama dengan IKLIM. Lagu yang diproduksi oleh Iga Massardi dan ditulis oleh Slinky Bones ini mengangkat tema besar, kehancuran lingkungan, kehilangan tanah suci, dan seruan untuk bangkit. Lirik-liriknya sarat elemen mistis, dengan baris seperti "crimson gaze from evil's eye" dan seruan berulang "awake! awake!" yang menghantui.
Video musik resminya dirilis pada 7 Februari 2026, disutradarai oleh Rahmat Dani Atmojo. Proses syuting dilakukan di Karangasem, Ponjong, Gunungkidul, menghadirkan visual yang kontras antara nuansa earthy dan ritualistik. Hasilnya adalah sebuah karya audiovisual yang kuat secara estetika sekaligus dalam secara pesan.
Musik The Melting Minds tersedia di berbagai platform streaming, termasuk Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Bandcamp. Fans juga bisa mengikuti perjalanan mereka melalui media sosial di Instagram, X, dan TikTok dengan akun @themeltingminds. The Melting Minds adalah bukti nyata bahwa kreativitas tanpa batas bisa tumbuh di mana saja, bahkan dari sudut Gunung Kidul yang tenang.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.