Pendiri Narabahasa Ivan Lanin bersama Nenden Lilis Aisyah, Irene Umar, dan Berto Tukan membahas peran bahasa Indonesia dalam kreativitas dan teknologi pada Selebrasi Narabahasa ke-6 di Jakarta, Sabtu (7/2/2026). (Foto: Hypeabis.id/M.S. Izar)

Irene Umar Sebut Kecerdasan Bahasa Makin Relevan di Era AI

08 February 2026   |   08:22 WIB
Image
Muhammad Shohibul Izar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Narabahasa menggelar Selebrasi Narabahasa (Senara) ke-6 bertajuk “Senapas dengan Komunitas” di Omah Martimbang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026). Acara ini menghadirkan rangkaian kegiatan mulai dari lokakarya, talkshow, hingga bincang komunitas. Berbagai sesi tersebut membuka diskusi tentang peran bahasa Indonesia di tengah perkembangan teknologi terkini.

Salah satu sesi gelar wicara bertajuk “Cipta Karya dari Bahasa” menghadirkan tiga narasumber, yakni Irene Umar selaku Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Berto Tukan penulis dari Komunitas Gudskul, serta Nenden Lilis Aisyah yang merupakan akademisi sekaligus penulis.

Baca juga: 10 Prompt ChatGPT Untuk Mencari Jurnal & Referensi Ilmiah

Pendiri Narabahasa, Ivan Lanin membuka acara dengan menceritakan perjalanan lembaga yang ia dirikan sejak 2020. Ia menyampaikan kebahagiaannya bisa terlibat dalam penguatan komunitas bahasa Indonesia melalui berbagai pelatihan. “Tanpa bahasa, apa pun yang ada di benak kita akan sangat sulit diungkapkan,” ujar Ivan dalam sambutannya.

Ia menambahkan bahwa memasuki tahun keenam, bahasa Indonesia memiliki derajat dan posisi yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat.Menurutnya, kesadaran berbahasa menjadi modal utama dalam berkomunikasi dan berkarya di berbagai bidang.

Narabahasa sendiri didirikan sebagai penyedia edukasi, konsultasi, publikasi, serta aplikasi kebahasaan dengan visi “kuasai bahasa, kuasai dunia”. Lembaga ini berangkat dari kegelisahan Ivan melihat minimnya lembaga yang mengajarkan bahasa Indonesia secara serius dan berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi, Irene Umar menekankan pentingnya penguasaan bahasa dalam konteks perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Menurutnya, bahasa menjadi alat utama untuk menjembatani gagasan dari manusia ke mesin.

“Dalam penggunaan AI, cara kita menuturkan bahasa berkaitan erat dengan kemampuan membuat prompt yang baik,” jelas Irene.

Ia menjelaskan bahwa teknik berbahasa kini semakin relevan, karena semakin jelas seseorang mengekspresikan maksudnya kepada AI, semakin baik pula keluaran yang dihasilkan.

Irene juga menyoroti bahwa meskipun informasi saat ini hadir dalam berbagai bentuk, termasuk visual, bahasa tetap menjadi fondasi utama. Ia menilai ada pengalaman sensorial yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh teknologi digital.

“Mau gimana pun bentuk informasinya, bahasa adalah dasarnya,” ujarnya, seraya menyinggung perbedaan pengalaman membaca buku fisik dan digital.

Sementara itu, Nenden Lilis Aisyah menekankan pentingnya menjaga sisi kemanusiaan dalam berkarya kreatif. Ia menilai karya yang ditulis manusia memiliki kedalaman pengalaman hidup dan personalitas yang tidak dimiliki oleh AI.

Menurutnya, pengarang membutuhkan keterlibatan penuh jiwa dan raga untuk menghasilkan tulisan yang autentik, sesuatu yang tidak bisa direplikasi sepenuhnya oleh teknologi.

Berto Tukan dari Gudskul menambahkan perspektif komunitas dalam diskusi tersebut. Ia menegaskan bahwa bahasa menjadi kebutuhan lintas disiplin seni, mulai dari pameran visual hingga aktivitas di media sosial.

“Sevisual apa pun karya seni, tetap membutuhkan bahasa, baik dalam bentuk katalog, penjelasan, maupun caption,” ujarnya, menekankan bahwa bahasa tulisan menjadi akar dari berbagai bentuk kreativitas.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia memiliki peran krusial sebagai jembatan antara teknologi dan kemanusiaan. Di tengah pesatnya perkembangan AI, bahasa tetap menjadi elemen dasar dalam proses berpikir dan berkarya.

Sejak berdiri pada awal 2020, Narabahasa terus berkembang dengan membangun tim yang solid dan rutin menyelenggarakan program pelatihan, baik daring maupun luring. Senara ke-6 menjadi bukti komitmen Narabahasa dalam memperluas ekosistem bahasa Indonesia dengan melibatkan komunitas kreatif sebagai bagian penting dari praktik kebahasaan di era digital.

SEBELUMNYA

NikeSKIMS Rilis Koleksi Balletcore Spring 2026 Bersama Lisa BLACKPINK

BERIKUTNYA

Taste of Australia 2026: Memperkuat Kemitraan Indonesia-Australia Melalui Kuliner

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga