Musisi Adhitya Sofyan (Sumber gambar: dok Reiproject Music)

Kembali ke Format Akustik, Begini Cerita Adhitya Sofyan Ramu Album Observasi Transisi

14 December 2025   |   20:33 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Setelah bertahun-tahun bereksperimen dengan berbagai warna produksi, Adhitya Sofyan akhirnya kembali akar bermusiknya, yakni akustik. Dalam album terbarunya, Observasi Transisi, dirinya meramu cerita-cerita kecil yang lahir dari pergantian fase hidup, dibingkai lewat gitar akustik yang menjadi ciri khasnya sejak awal karier.

Meski kembali ke gaya akustik yang menjadi ciri khasnya, Adhitya tetap menyisipkan kejutan dalam karya terbarunya. Ia memperkaya Observasi Transisi dengan nuansa berbeda, mulai dari sentuhan bossa nova hingga permainan senar yang terasa seperti bagian dari sebuah orkestra.

Baca juga: Rosalía Hadir dengan Album Lux, Menyatukan 13 Bahasa Berbeda

Adhitya menjelaskan bahwa album ini lahir dari momen-momen ketika perasaan dan sudut pandangnya terhadap suatu hal sedang bergeser. Dia ingin merekam momen-momen saat seseorang berusaha memahami perubahan tanpa tergesa mengambil keputusan.

Dari proses mengamati fase-fase itulah, dia mulai merangkai pengalaman personalnya menjadi lagu-lagu yang membentuk Observasi Transisi.

“Kalo beruntung, mungkin kita bisa mundur sejenak untuk melihat dan memperhatikan hidup. Kita menjadi pengamat tanpa harus bereaksi atau terbawa emosi. Lalu, harapannya kita bisa lebih terbuka dalam menjalani hidup,” ujarnya

Album ini memuat 11 lagu yang merangkai tema cinta dan perenungan hidup, disusun layaknya alur perjalanan emosional yang bergerak perlahan dari satu fase ke fase berikutnya. Setiap lagu saling terhubung, membentuk narasi yang terasa semakin dalam seiring album berjalan.

Deretan lagu tersebut meliputi “Sembunyi Dulu,” “Astronot dan Arkeolog,” “Bentang Sayap,” “Jauh di, Mata Jauh,” “Menunggu oh Menanti,” “Pencerita,” “Dialog Diri,” “Sumbang,” “Sandera,” “Destinasi,” serta “Penutupan,” yang menutup kisah album ini dengan nuansa reflektif.
 

Musisi Adhitya Sofyan  (Sumber gambar: dok Reiproject Music)

Album Observasi Transisi (Sumber gambar: dok Reiproject Music)


Sebagai lagu pembuka, “Sembunyi Dulu” mencoba merangkum gagasan utama album ini, yakni ajakan untuk memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, menata kembali pikiran, serta menenangkan batin sebelum kembali berhadapan dengan realitas. 

Komposisi seperti “Pencerita,” “Dialog Diri,” dan “Sumbang” turut menghadirkan dimensi kontemplatif, memperlihatkan sisi reflektif yang sebelumnya tidak terlalu menonjol dalam karya Adhitia, yang lebih dikenal publik melalui repertoar bertema romansa.

Sementara itu, tujuh lagu lainnya tetap mempertahankan unsur romansa, tetapi disampaikan melalui sudut pandang yang lebih matang, mulai dari gambaran masa-masa menyenangkan bersama pasangan hingga periode ketika seseorang kembali sendiri dan berusaha menata kembali kehidupannya.

“Aku rasa, menulis lagu tentang cinta itu kadang ada keegoisan di dalamnya, karena berpusat pada rasa diriku sendiri. Sekarang aku ingin melihat apa yang orang lain rasakan juga, karena hidup gak selalu indah, perjuangan dan kesulitan juga harus dirasakan.”, ujar Adhitia Sofyan.

Adhitia berharap Observasi Transisi dapat menjadi ruang hening di tengah ritme kehidupan yang kian cepat, bising, dan menguras energi. Mendengarkanya, katanya, seperti sebuah jeda yang memungkinkan pendengarnya merangkul momen kesendirian di antara hiruk-pikuk dunia.

SEBELUMNYA

Cara Baru Jaga Kesehatan Mental dengan Metode Estetik

BERIKUTNYA

Delta Force Invitational Warfare Digelar, RRQx7SINS Jadi Satu-satunya Tim dari Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga