Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Ketua Umum Indonesian Health Economist Association (InaHEA), Hasbullah Thabrany (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Kemenkes Ungkap Tantangan Skrining & Eliminasi Kanker Leher Rahim

14 December 2025   |   20:32 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Meski dapat dicegah sejak dini, kanker serviks masih menjadi momok yang mengancam nyawa ribuan perempuan setiap tahun. Rendahnya kesadaran skrining dan belum meratanya vaksinasi HPV membuat penyakit ini terus menghantui.

Dalam rangka mendukung percepatan eliminasi kanker serviks secara global, Indonesia sendiri sudah mencanangkan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030. Namun, lima tahun menuju target eliminasi tersebut, jalan masihlah panjang.

Baca juga: Manfaat Vitamin D Untuk Kesehatan Jantung dan Mencegah Kanker

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyebut kanker leher rahim merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak dialami perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Berdasarkan data tahun 2022, dari total 408.661 kasus baru kanker yang tercatat di Indonesia, sekitar 9 persen di antaranya merupakan kasus kanker leher rahim.

Meski demikian, tingkat kematian akibat kanker serviks justru lebih tinggi, dengan rata-rata sekitar 56 perempuan meninggal dunia setiap hari karena penyakit ini. Menurutnyam, tingginya angka kematian akibat kanker serviks tak lepas dari masih rendahnya cakupan skrining di masyarakat.

Sebab, sekitar 70 persen kasus kanker serviks di Indonesia baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi ini membuat risiko kematian dan beban kesakitan akibat kanker leher rahim diperkirakan masih akan terus meningkat apabila upaya deteksi dini dan pencegahan tidak diperkuat secara serius.

"Pada 2025, diprediksi sebesar 38,8 ribu kasus baru dengan 22,3 ribu kematian," ungkap Siti Nadia

Nadia menjelaskan bahwa rendahnya capaian skrining dipicu sejumlah faktor, salah satunya minimnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya deteksi dini. Banyak perempuan belum menyadari bahwa kanker serviks bisa dicegah dan dikenali sejak tahap awal melalui pemeriksaan sederhana.

"Padahal, kenapa kita pakai kata eliminasi, karena kanker serviks ini bisa disembuhkan, tidak seperti kanker lain. Namun, masih banyak orang yang denial dan merasa lebih baik tidak tahu kalau dia terdeteksi kanker lebih awal," imbuhnya.

Hingga saat ini, pencapaian skrining masih jauh dari target. Dari total sekitar 69 juta perempuan yang menjadi sasaran pada periode 2023–2030, baru sekitar 27 persen yang telah menjalani pemeriksaan.

Dia menambahkan, tak dapat disangkal bahwa banyak perempuan masih enggan memeriksakan diri karena merasa lebih tenang jika tidak mengetahui kondisi kesehatannya. Pola pikir semacam ini akhirnya membuat pemeriksaan kesehatan sering kali ditunda.

Selain itu, kendala budaya dan norma sosial turut membuat perempuan enggan menjalani skrining karena dianggap hal yang sensitif dan menimbulkan rasa canggung. Bahkan, sejumlah lainnya harus meminta izin kepada orang terdekat terlebih dahulu, menandakan bahwa keputusan terkait kesehatan masih sangat dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan sekitar.

Padahal, katanya, kini telah tersedia metode self sampling yang lebih ramah dan nyaman, karena perempuan dapat mengambil sampel sendiri tanpa harus membuka pakaian di depan tenaga kesehatan. Dia pun berharap dengan metode self sampling ini, makin banyak perempuan yang memeriksakan diri lebih awal. 

SEBELUMNYA

The Odyssey Karya Christopher Nolan: Adaptasi Epik Baru Paling Dinantikan pada 2026

BERIKUTNYA

Bersiap Liburan Akhir Tahun, Ini Destinasi Wisata Paling Populer

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga